FEB UI Dampingi BUMDes Perkuat Tata Kelola Keuangan di DIY
Melalui pelatihan dan pendampingan, peserta memperoleh pemahaman sekaligus bimbingan teknis agar mampu membangun sistem pengelolaan keuangan
Isti Yunariyah pensiunan PNS warga Bercak, Kalitirto, Berbah saat ditemui di Kantor BPJS Kesehatan Sleman./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, SLEMAN—Isti Yunariyah, Warga Bercak, Jogotirto, Berbah memiliki cerita bagaimana program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan membantu keluarganya.
Mantan Kepala UPT Pelayanan Pendidikan Kecamatan UPT Pelayanan Pendidikan Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman ini bercerita saat itu almarhumah ibunya melakukan operasi amputasi. Operasi tersebut dilakukan akibat penyakit diabetes. “Kedua kaki ibu saya dioperasi. Kalau tidak ikut BPJS Kesehatan biayanya puluhan juta rupiah,” cerita Isti saat ditemui di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Sleman, Kamis (10/9/2020) lalu.
Menurutnya, biaya operasi untuk satu kaki saja sekitar Rp61 juta dan kaki lainnya butuh biaya operasi Rp40 juta. Biaya sebesar itu tentu saja sangat tinggi jika tidak menggunakan JKN. Belum lagi pelayanan yang diberikan selama proses operasi hingga pascaoperasi menurutnya cukup memuaskan.
"Setelah operasi pertama, berapa bulan dilanjutkan operasi kedua. Tidak sepeser pun dipungut biaya. Memang ada beberapa obat yang harus beli sendiri karena tidak dikover BPJS Kesehatan, tetapi itu tidak seberapa," katanya.
Baginya, dengan iuran per bulan Rp100.000 untuk kelas II menjadi peserta BPJS Kesehatan sangat membantu dan menolong masyarakat. Jika tidak, biaya operasi yang ditanggung jauh lebih besar. "Makanya saya daftarkan adik saya yang mengalami keterbelakangan mental untuk jadi peserta BPJS Kesehatan. Ya buat jaga-jaga kalau nanti butuh pengobatan bisa ditangani oleh BPJS Kesehatan," katanya.
Awalnya, jelas Isti, Budiyono adik kandungnya yang berusia 58 tahun diasuh oleh almarhumah ibunya. Setelah ibundanya meninggal, Isti mengambil alih pengasuhan tersebut. Nama Budiyono pun dimasukkan dalam daftar Kartu Keluarga milik Isti.
"Sebelumnya adik saya juga diabetes dan memanfaatkan program BPJS Kesehatan untuk proses pengobatannya. Alhamdulillah saat ini kadar gulanya terus turun dan tidak ada masalah lagi," ujar Isti.
Selain mengurus pendaftaran adiknya, Isti juga mengurus perubahan data kepesertaan BPJS Kesehatan miliknya. "Saya kan pensiun sejak 2018. Data saya belum diperbarui. Saya ke sini selain mendaftarkan adik saya juga sekalian mengurus perubahan data saya," ujar Isti sambil memperlihatkan sejumlah dokumen yang dia bawa.
Meskipun sudah merasakan manfaat sebagai peserta BPJS Kesehatan, Isti berharap agar pelayanan BPJS Kesehatan ke depan bisa terus ditingkatkan. "Ya itu harapan saya. Sebab program ini sangat menolong masyarakat. Saya sendiri sudah merasakannya. Meskipun iurannya ringan, tapi layanannya juga memuaskan," kata Isti. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Melalui pelatihan dan pendampingan, peserta memperoleh pemahaman sekaligus bimbingan teknis agar mampu membangun sistem pengelolaan keuangan
Road trip makin populer di 2026. Simak 5 tips persiapan sebelum perjalanan jarak jauh
Prabowo menyebut negara menanggung penuh iuran JKN bagi 96,8 juta warga tidak mampu dan membangun 66 RSUD di berbagai daerah.
Kemendagri membuka Program Masadagri Batch III 2026 dengan 65 posisi magang di 12 unit kerja. Pendaftaran dibuka 15-19 Agustus 2026 untuk mahasiswa D4 dan S1.
Festival seni rupa ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus 2026
Desain iPhone 17 Pro kini menginspirasi HP Android. Huawei Nova 16 SE, Itel Power 80, HMD Asha 305, dan Oppo A7 Pro Max hadir dengan harga mulai Rp1 jutaan.