Timnas Basket Indonesia Gagal ke Perempat Final Asian Games 2026
Indonesia gagal ke perempat final Asian Games 2026 setelah kalah 89-100 dari Arab Saudi dan menutup fase grup tanpa kemenangan.
Seorang siswa sedang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan aksara Jawa di komputer. /ANTARA-HO
Harianjogja.com, BANTUL—Seorang filolog yang bekerja di Dinas Kebudayaan DIY, Setya Amrih Prasaja, telah memelopori digitalisasi aksara Jawa ini di daerahnya, dan sudah satu dasawarsa aksara itu digunakan secara digital dalam pembelajaran sekolah.
Amrih yang dulunya juga merupakan seorang guru Bahasa Jawa, telah menggabungkan aksara Jawa dengan teknologi sehingga bisa dipergunakan di komputer.
“Waktu itu saya minta izin kepada Kepala Sekolah untuk di SMA 2 Bantul pendidikan basis budayanya tidak ke hal yang bersifat benda, tapi justru main di karakter dan pola pikir anak dengan aksara [Jawa]. "Hingga di SMA 2 Bantul itu dari ulangan harian sampai ulangan akhir semester full menggunakan aksara Jawa,” ungkap Amrih, Minggu (27/12/2020).
Amrih mengaku pola ini dirasa cukup efektif. Membiasakan diri menggunakan aksara Jawa pada komputer dalam pembelajaran sehari-hari, lambat laun siswa akan terpola dan mengenal aksara Jawa secara digital, sehingga dalam praktiknya mereka sudah terbiasa dan tidak kesulitan dalam menjawab soal-soal yang dituliskan dalam aksara Jawa secara daring.
“Tahun 2010 waktu saya pertama jadi guru itu saya udah bilang di kelas, anak-anak saya giring ke lab. TIK (Laboratorium Teknologi Informasi dan Komunikasi) meskipun saya bukan orang TIK tapi ada fasilitas TIK saya manfaatin, karena sudah saya biasakan untuk ulangan harian online," terang Amrih.
Hal senada juga diungkapkan kerabat satu profesi Amrih. Menurut Bekti Pangastuti, digitalisasi aksara Jawa sangat memudahkan kegiatan belajar mengajar karena dengan adanya perangkat digital siswa lebih semangat dan lebih tertantang dalam mempelajari Aksara Jawa.
"Dulu awal mengajar pembelajaran aksara Jawa masih manual. Ketika Pak Setya Amrih masuk ke SMA 2 Bantul, dari sini awal digitalisasi Aksara Jawa sampai sekarang," terang Bekti yang juga mengajar aksara Jawa di SMA 2 Bantul.

Pengakuan juga datang dari Abdul Afif Rosyidi, seorang guru bahasa Jawa, yang mengatakan bahwa hingga kini digitalisasi aksara Jawa masih terus digunakan dalam kegiatan belajar di SMA Negeri 1 Mlati, Sleman.
Menurutnya, digitalisasi aksara Jawa sangat membantu dalam proses belajar mengajar. Apalagi dalam masa pandemi seperti ini. Peserta didik sangat antusias, hal tesebut salah satunya terlihat dari pertanyaan dan respons peserta didik saat dikenalkan dengan aksara Jawa dalam dunia internet, baik di laptop maupun ponsel pintar.
Salah satu Alumni SMA 1 Sanden, Ageng Purwo Haryatno, menuturkan sekitar 2011, semasa duduk di bangku SMA, ia diajarkan tentang bagaimana cara menggunakan aksara Jawa menggunakan komputer/laptop oleh Amrih.
Dalam perkembangannya aksara Jawa kini lebih responsif dan mudah diaplikasikan ke perangkat digital, mulai dari laptop hingga menggunakan telfon genggam, menurut Ageng hal ini dirasa sangat bermanfaat bagi kerabat yang menggunakannya
“Penggunaan aksara Jawa dalam ranah digital sangat bermanfaat bagi temen-temen yang bisa menggunakannya, baik itu untuk desain produk, dekorasi jalan dan lain-lain, terpenting bisa memperkenalkan kembali aksara Jawa dengan lebih mudah,” kata Ageng.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Indonesia gagal ke perempat final Asian Games 2026 setelah kalah 89-100 dari Arab Saudi dan menutup fase grup tanpa kemenangan.
John Herdman berjanji Timnas Indonesia memberikan seluruh kemampuan di FIFA ASEAN Cup 2026 setelah gagal di Piala AFF 2026.
Bahlil Lahadalia menegaskan cadangan BBM nasional aman sekitar 20 hari. Antrean di Makassar disebut terjadi karena perubahan pola konsumsi.
HMI Jogjakarta menggelar aksi di Polda DIY, menuntut penanganan serius kasus dugaan kekerasan seksual di Ponpes Ash-Sholihah Sleman.
BMKG mengingatkan potensi gelombang laut hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia pada 14-17 September. Pelaku pelayaran diminta waspada.
Disdukcapil Kulonprogo mengingatkan warga soal penipuan aktivasi IKD yang meminta Rp10.000, nomor rekening hingga kode OTP.