Lewat Manajemen Talenta, Ahmad Luthfi: Tak Ada Jasa Titip dalam Pengisian Jabatan
penempatan pejabat dilakukan melalui mekanisme manajemen talenta berdasarkan kompetensi dan profesionalisme.
Laboratorium Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta tengah mengembangkan biosurfaktan untuk dapat diproduksi skala pilot dan skala industri./Istimewa
Harianjogja.com, SLEMAN—Laboratorium Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta tengah mengembangkan biosurfaktan untuk dapat diproduksi skala pilot dan skala industri. Produk yang telah dihasilkan adalah Dialkil Kabohidrat dan telah dipatenkan dengan nomor IDP 000066485.
Ketua Tim Pengabdisn bagi Masyarakat (PbM) Ir. Mahreni, MT. Ph. D mengungkapkan, biosurfaktan ini diproduksi dengan menggunakan bahan baku makro alga atau rumput laut yang banyak dihasilkan di sepanjang pantai di Indonesia. Hanya saja saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Dia menjelaskan dengan memanfaatkan sebagai bahan baku surfaktan, maka nilai ekonom imakroalga (rumput laut) akan semakin tinggi dan berdampak dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah pantai atau petani rumput laut.
"Rumput laut mempunyai kandungan karbohidrat berupa agarose atau alginat yang dapat dijadikan sebagai bahan baku surfaktan melalui reaksi alkoholisis dan esterifikasi membentuk senyawa yang memiliki gugus hidrofil dan lipofil sehingga bias digunakan sebagai surfaktan," jelas dia.
Adapun biosurfaktan yang diproduksi oleh salah satu peneliti Prodi Teknik Kimia kini sedang dalam tahap hilirisasi untuk diaplikasikan sebagai bahan pembasah atau wetting agent pigmen dan sebagai penstabil emulsi cat dan tinta. Industri yang telah memanfaatkan Biosurfaktan Dialkil Karbohidrat ini adalah CV. Tryuasda Megah Warna telah berhasil menggunakan Biosurfaktan Dialkil Karbohidrat sebagai wetting agent atau bahan pembasah pigmen untuk memproduksi tinta sablon kantong semen.
Lebih lanjut Mahreni mengungkapkan, produk Dialkil Karbohidrat melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat UPN Veteran Yogyakarta kini sedang dikembangkan sebagai emulsifier tinta sablon kaos atau kain.
Menurutnya, beberapa kelebihan menggunakan biosurfaktan Dialkil Karbohidra seperti yang dinyatakan oleh CV. Tryausda Megah Warna adalah lebih efesien sebagai wetting agent dan stabilator emulsi. Hasil uji coba tinta yang menggunakan wetting agent komersial dan surfaktan Dialkil Karbohidrat menunjukan bahwa surfaktan Dialkil Karbohidrat mempunyai kualitas yang sama dengan surfaktan komersial.
"Kami mengucapkan terimakasih kepada LPPM UPN Veteran Yogyakarta yang telah mendanai Pengabdian HiIirisasi Produk hasil penelitian dosen yang sangat bermanfaat untuk komersialisasi produk produk hasil penelitian sehingga produk hasil penelitian tidak berhenti pada skala laboratorium tetapi dapat menjadi produk inovasi yang dimanfaatkan oleh industri," ungkapnya.
Surfaktan dan Biosurfaktan
Lebih lanjut Mahreni memberikan penjelasan terkait surfaktan dan biosurfaktan. Surfaktan adalah suatu senyawa kimia yang bersifat ampipilik dimana sifat hidropilik dan hidropobik ada dalam satu moleku lsurfaktan. Surfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan suatu fase sehingga dapat mengemulsikan dua fase yang tidak saling bercampur menjadi emulsi sehingga surfaktan dibutuhkan oleh industry kosmetik, makanan, tekstil, industry minyak bumi dan farmasi.
"Permasalahan yang ditimbulkan oleh penggunaan surfaktan adalah pencemaran lingkungan, terutama oleh surfaktan berbahan dasar petroleum yang bersifat nonbiodegradable. Untuk itu perlu dilakukan pengembangan surfaktan yang bersifat biodegradable," jelas dia.
Dengan meningkatnya kesadaran penduduk dunia terhadap efek pencemaran yang disebabkan oleh surfaktan nonbiodegradable, maka beberapa negara dan makin banyak negara yang akan menyusul telah menetapkan regulasi untuk membatasi penggunaan surfaktan nonbiodegradable. Oleh karena itu sangat penting untuk memproduksi surfaktan biodegradable, non toksik dan menggunakan bahan baku yang dapat diperbaharui.
Beberapa peluang untuk memproduksi biosurfaktan skala industry adalah ketersediaan bahan baku yang melimpah seperti selulosa, protein, karbohidrat, lignin yang semuanya bias didapatkan dari hasil metabolism mikroorganisme dan dari tanaman baik tanaman darat maupun tanaman laut seperti rumputlaut. Dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah di Indonesia maupun di dunia, dimungkinkan surfaktan kimia dapat digantikan dengan biosurfaktan di masa yang akan datang. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
penempatan pejabat dilakukan melalui mekanisme manajemen talenta berdasarkan kompetensi dan profesionalisme.
Wamenaker Afriansyah Noor mengingatkan calon pekerja migran memilih jalur resmi dan menguasai bahasa asing sebelum bekerja ke luar negeri.
Bitcoin sempat menembus US$87.200. Simak faktor pendorong penguatan dan imbauan bagi investor menghadapi volatilitas pasar kripto.
Kebakaran rumah di Sragen diduga akibat korsleting listrik. Uang Rp50 juta dan dua sepeda gunung hangus, dua anggota keluarga jadi korban.
MBG di SMKN 2 Jogja dihentikan sementara setelah 413 warga sekolah diduga keracunan. Sampel makanan dan air masih diperiksa di laboratorium.
Kemenhaj mempertimbangkan maskapai alternatif untuk menekan biaya haji 2027. Biaya penerbangan mencapai 40% dari total BPIH.