Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
GeNose C19 adalah alat pendeteksi virus corona yang dikembangkan para peneliti di Universitas Gajah Mada dan sudah mendapatkan Izin Edar dari Kementerian Kesehatan. - KEMENTERIAN BUMN
Harianjogja.com, SLEMAN-Sempat marak dikabarkan GeNose C19 dilarang digunakan sebagai syarat perjalanan bahkan ditarik izin edarnya. Menanggapi hal ini, tim peneliti alat skrining Covid-19 melalui hembusan nafas ini menegaskan sampai saat ini GeNose masih digunakan di berbagai sektor publik dan izin edarnya masih berlaku.
Juru Bicara Tim GeNose, M. Saifudin Hakim, menjelaskan Informasi dilarangnya GeNose merupakan kesimpulan sepihak atas kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang tidak memasukkan GeNose sebagai syarat melakukan perjalanan selama PPKM Darurat.
“Banyak berita negatif dan bahkan cenderung tidak benar soal GeNose yang harus diluruskan kepada publik. Izin edar GeNose C19 juga masih berlaku sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pelarangan penggunaan GeNose C19 di masyarakat,” ujarnya, Rabu (7/7/2021).
BACA JUGA: Covid-19 DIY Bertambah 1.370 & 32 Orang Meninggal dalam Sehari
Kesempatan libur penggunaan GeNose C19 di sektor transportasi digunakan oleh Tim Peneliti dan Pengembang GeNose untuk menambah data varian baru virus Covid-19 ke kecerdasannya. Uji Validasi Eksternal masih dijalani oleh GeNose C19.
Hal itu akan membantu hidung elektronik mengendus terduga Covid-19 dengan lebih akurat pada situasi penggunaan riil di lapangan. “Akurasi GeNose sampai saat ini masih di angka 93-94% dan akan terus kita tingkatkan,” katanya.
Menurutnya, penambahan data varian baru Covid-19 akan semakin memperkuat Artificial Intelligence (AI) dan akurasi GeNose C19. GeNose C19 justru harus semakin terus digunakan pada situasi riil agar semakin cerdas. “GeNose C19 ini ibarat hidung sekaligus otak elektronik. Jika keduanya dilatih terus secara serempak, kita akan memiliki teknologi inovatif yang praktis, simpel, dan tepat,” ungkapnya.
Ia juga menepis keraguan masyarakat terhadap kemampuan GeNose C19 mendeteksi kemungkinan Covid-19 pada pengguna. Data tim peneliti menunjukkan bahwa GeNose C19 mampu mendeteksi terduga pengguna positif Covid-19 pada koridor perjalanan.
Data itu mencerminkan tingkat persentase positif atau positivity rate sebesar 9% pada populasi calon pejalan yang tanpa gejala atau merasa sehat. Angka tersebut mendekati rata-rata tingkat positif nasional setinggi 14%.
Saat ini GeNose C19 juga masih tetap dipergunakan sebagai alat skrining di berbagai sektor dan kegiatan, antara lain perkantoran, kampus, pondok pesantren, dan korporasi. Ia menegaskan operator GeNose C19 tidak akan rugi memiliki GeNose C19.
“Ke depannya, GeNose C19 bisa kita kembangkan untuk mendeteksi penyakit-penyakit terkait pernapasan lainnya, tidak hanya Covid-19. Hanya dengan mengganti ‘otak’-nya itu tadi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Kevin Diks meminta Timnas Indonesia tetap fokus dan tak terbawa emosi saat menghadapi Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026.
Densus 88 menangkap 11 tersangka dugaan terorisme di enam provinsi. Penyidik menemukan keterhubungan jaringan melalui pertemuan daring.
Gempa Sumba Barat Daya M6,1 merusak 20 rumah dan sejumlah fasilitas. Satu orang luka, 173 personel disiagakan untuk penanganan.
Hari Jadi Gunungkidul ke-196 mengusung tema Gayeng Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine dengan pesan kebersamaan dan kemandirian daerah.
Google menguji pusat data AI di luar angkasa lewat Project Suncatcher dengan membawa empat chip TPU ke orbit.