Kemenhut Pastikan Penanganan Kebakaran TNBTS Berjalan Terpadu
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan,"
Gambar Buku Wayang Topeng Pedhalangan Yogyakarta: Jejak Lain Perkembangan Seni Pertunjukan Topeng di Jawa. (ist/TBY)
Harianjogja.com, JOGJA—Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menerbitkan buku Wayang Topeng Pedhalangan Yogyakarta: Jejak Lain Perkembangan Seni Pertunjukan Topeng di Jawa. Buku karya Sumaryono tersebut menceritakan sejarah pertunjukan topeng di Jawa khususnya DIY dan mempopulerkan kembali pertunjukan topeng Panji kepada masyarakat luas.
Kepala TBY, Diah Tutuko Suryandaru mengatakan pencetakan buku Topeng Pedhalangan Yogyakarta merupakan kegiatan rutin TBY untuk bisa mendokumentasikan dan mempublikasikan seni dan budaya yang ada di Jawa, khususnya DIY. Sehingga TBY tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, namun juga ada literasinya untuk masyarakat khususnya komunitas pelaku seni.
“TBY tidak hanya menggelar seni pertunjukan tapi juga ada literasinya yang bercerita lebih mendalam dan bisa dipelajari oleh masyarakat luas,” kata Diah, Senin (26/7). Menurut Diah, buku tersebut cukup menarik dan perlu didokumentasikan TBY agar bisa dipelajari oleh masyarakat yang berkeinginan untuk mendalami seni pertunjukan khususnya pertunjukan topeng di Jawa.
Selama ini masyarakat menyaksikan seni pertunjukan secara langsung, tapi di satu sisi mungkin ada yang ingin lebih mengeksplorasi lebih mendalam, maka pihanya menyediakan literaturnya. Nantinya buku tersebut juga akan dibagikan kepada lembaga-lembaga yang fokus pada seni dan budaya, dan akademisi. Namun bagi masyarakat umum yang ingin mendalaminya juga bisa datang ke TBY.
“Kami menyampaikan tugas dan fungsi TBY ini bagian yang sangat penting tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tapi literasinya juga harus ada,” kata Diah. Dia berharap buku tersebut bisa diapresiasi oleh masyarakat yang konsen terhadap seni budaya untuk menambah wawasan lebih luas lagi.
Sumaryono, sang penulis buku Wayang Topeng Pedhalangan Yogyakarta: Jejak Lain Perkembangan Seni Pertunjukan Topeng di Jawa, menjelaskan buku tersebut menceritakan bahwa di Jogja ada seni pertunjukan yang khas dan spesifik yang disebut wayang topeng pedalangan. Seni pertunjukan tersebut hidup dan berkembang di kalangan komunitas seniman dalang di Jogja. “Keberadaan wayang topeng di Jogja merupakan mata rantai seni pertunjukan topeng di Jawa,” kata Sumaryono.
Pria yang akrab disapa Maryono ini mengatakan konon menurut peninggalan prasasti dari sumber-sumber sejarah pertunjukan topeng sudah ada sejak abad ke-VIII dan IX. Cerita tersebut terus berkembang dan tonggaknya pada abad ke-13 ketika muncul cerita panji yang berakhirnya Raja Erlangga.
“Muncul cerita panji yang sebenarnya tidak semata mata fiksi tapi ada unsur sejarah. Seni pertunjukan topeng itu dikaitkan cerita panji di Jawa bahkan Bali identik cerita panji. Termasuk wayang topeng pedalangan Jogja selalu menceritakan kisah-kisah panji. Seperti kita ketahui cerita panji mencapai kejayaannya seiring masa keemasan masa Majapahit di abad 15, masa keemasan Majapahit itu cerita panji berkembang di Kerjaaan Majapahit,” kata Maryono.
Beradaptasi
Diceritakan pada masa Majapahit sampai akhir abad 15 pengaruh Majapahit hampir di seluruh pelosok Nusantara itu dibuktikan cerita panji yang muncul di pelosok Nusantara dan beradaptasi dengan daerah masing-masing. Misalnya ada panji Melayu, Cirebon. Demikian di Kalimantan ada cerita panji, di kalangan suku Sasak juga ada cerita panji, bahkan wayang kulit menceritakan cerita panji termasuk di Jogja apalagi setelah Demak diubah sedemikian rupa oleh Sunan Kalijaga, lalu topeng dibuat meniru wayang kulit tapi wajah tetap Sekar Taji, Kelana, ada Kartolo yang disesuaikan.
Maryono berharap masyarakat mengenali kembali warisan budaya seni pertunjukan topeng panji karena Itu satu khazanah. “Ironisnya cerita Panji di Jawa kalah poluler dengan Mahabara dan Ramayana tanda Hinduistik. Mahabarata dan Ramayana lebih polpuler dari cerita panji. Kami ingin menggugah kembali warisan leluhur asli Jawa cerita Panji dan topengnya. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
“Untuk pemadaman sekarang, ada tiga helikopter yang sudah beroperasi untuk pemadaman titik api, terutama di kelerengan yang tidak bisa dijangkau oleh pasukan,"
PSIM Jogja menang 2-1 atas Borneo FC tanpa Ze Valente. Caretaker Guntur Cahyo Utomo menegaskan kekuatan tim terletak pada kolektivitas pemain.
Bahlil Lahadalia melarang ekspor SDA Indonesia transit di negara lain. Ia meminta pengiriman LNG dan mineral langsung ke negara tujuan.
Pieter Huistra kecewa setelah PSS Sleman kalah dari Garudayaksa FC. Dua gol mudah dan kartu merah Kevin Gomes menjadi sorotan.
Kunjungan wisman ke DIY pada September 2026 turun 12,96% secara bulanan. Low season dan gangguan penerbangan akibat abu vulkanik menjadi faktor penyebab.
PLN UID Yogyakarta mengajak masyarakat menjaga lingkungan sekitar jaringan listrik dan melaporkan potensi gangguan menjelang musim hujan 2026/2027.