UMKM DIY Harus Masuk Ekosistem Digital

Media Digital
Media Digital Selasa, 22 Maret 2022 16:57 WIB
UMKM DIY Harus Masuk Ekosistem Digital

Sejumlah peserta mengikuti pelatihan UMKM berbasis digital, di Pendopo Kapanewon Godean, Sleman, Selasa (22/3/2022)/Harian Jogja-Lugas Subarkah

Meski sudah ada ribuan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di DIY, belum banyak yang sudah memaksimalkan platform digital untuk mengembangkan usahanya. Merespons hal ini, Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) DIY menggelar pelatihan UMKM berbasis digital, di Pendopo Kapanewon Godean, Sleman, Selasa (22/3/2022).

Sebanyak 20 peserta yang merupakan pelaku UMKM di Desa Sidoarum, Godean, Sleman mengikuti pelatihan yang mengangkat tema "Pengembangan UKM Digital di Masa Pandemi" ini. Diskominfo DIY bekerja sama dengan DPRD DIY dan salah satu pelaku UMKM untuk menjadi narasumber dalam pelatihan ini.

Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo DIY, Rahmat Sutopo, menjelaskan pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman dan praktek menggunakan teknologi informasi untuk mendukung usaha pelaku UMKM

"Kenapa? Dunia sedang berubah. Semua mengarah ke digitalisasi, termasuk bisnis. Kalau tidak digital, pasti ketinggalan. Kami tidak ingin UMKM di DIY yang selama ini dikenal ulet dan istimewa justru tidak paham digital, karena hal itu lambat laun akan membuat mereka ketinggalan dan tidak berkembang," ungkapnya.

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat dari total 65,47 juta UMKM di Indonesia, baru sebanyak 16,9 juta UMKM yang masuk ke ekosistem digital. Tahun 2024, ditargetkan ada 30 UMKM yang go digital. Di DIY sendiri, saat ini ada 338.072 UMKM.

Pengembangan UMKM ini diperlukan karena UMKM memiliki fungsi penting yakni memberi jaring pengaman untuk masyarakat berpenghasilan rendah, menyumbang produk domestik bruto serta memperluas penyerapan tenaga kerja.

Anggota DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, menuturkan penguatan UMKM perlu dilakukan dengan semangat nilai-nilai budaya Jogja, sehingga diharapkan para pelaku UMKM tetap memegang tata nilai Jogja untuk menjalankan usahanya.

Ia mencontohkan salah satu nilai budaya Jogja dalam konteks kewirausahaan bagaimana kita mesti bertekat bulat, Cancut Taliwondo. "Maknaya kita mesti punya tekat kuat bulat, berusaha keras. Ora mengka-mengko. Melayani customer kalau mengka-mengko ra payu," ujarnya.

Kemudian ada pula Saiyeg Saeko Kapti, yang bermakna memelihara kekompakan dan kebersamaan. Hal ini menurutnya sudah terwijud dengan adanya Forum Komunikasi UMKM Sidoagung yang menjadi wadah bagi para pelaku UMKM agar senantiasa kompak.

Ia juga berpesan kepada para pelaku UMKM khususnya bagi mereka yang bertindak sebagai reseller agar dalam penjualannya menjelaskan produsen produk yang mereka jual. Hal ini diperlukan agar customer paham dan tidak tertipu. "Karena jika ada masalah reseller ikut terlibat," ungkapnya.

Founder dan Owner Ngombe Jamu, Niken Agustin, menjelaskan kiat-kiat membangun UMKM hingga merambah pasar digital menggunakan google apps. Ia memaparkan teknik tersebut berdasarkan pengalamannya sendiri membangun Ngombe Jamu, UMKM jamu siap minum yang ia rintis sejak 2018 lalu.

"Saya riset dulu awalnya. Ga ada background kuliner, bikin jamu. Saya riset lihat sekeliling, lihat komunitas. Waktu itu lagi booming milkshake, boba. Bidang kuliner paling gampang di bangung, tapi susah mempertahankanya. Pertama kompetitor banyak. Saya harus punya sesuatu yg beda," katanya.

Maka ia pun mencoba kuliner yang tradisional, yakni jamu. Pada awalnya ia hanya memproduksi kunir asem dan beras kencur, dalam kemasan plastik. Produksi ini terus ia kembangkan, termasuk kemasannya sekarang telah menggunakan botol kaca yang lebih berkualitas.

Untuk merambah pasar digital, diperlukan pemilihan platform digital yang tepat. Ada empat platform yang bisa digunakan, yakni website dengan memanfaatkan Google Bisnisku, media sosial, aplikasi percakapan dan aplikasi iklan digital dengan Google Ads.

Salah satu peserta pelatihan ini, Agus Nuryanto, mengatakan ia telah menggeluti usaha wedang uwuh dengan brand Djewery. Berawal sebagai reseller, sudah tiga tahun berjalan Agus memproduksi wedang uwuhnya sendiri. "Masih produksi rumahan, dibantu anak-anak," katanya.

Saat ini, wedang uwuh Djewery sudah masuk di toko retail modern yakni di 80 gerai Indomaret wilayah Sleman bagian timur. Meski belum menggunakan iklan berbayar, Agus juga telah memasarkan produknya di sosial media dan digital market seperti Shopee.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online