Hiphop, Diplomasi yang Datang dari Jalanan
Program Next Level di Bantul menunjukkan jejak diplomasi hiphop sebagai medium ekspresi generasi muda dan dialog budaya lintas negara.
Suasana saat pemutaran JAFF Movie Night di Auditorium IFI-LIP, Jogja, Jumat (30/9/2022)./Harian Jogja-Arief Junianto
Harianjogja.com, JOGJA — Sebanyak empat film pendek dipilih sebagai penanda digelarnya Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2022. Pemutaran keempat film yang dikemas dalam acara bertajuk JAFF Movie Night itu dilakukan di Auditorium IFI-LIP, Jogja, Jumat (30/9/2022).
Keempat film itu, masing-masing adalah On the Origin of Fear (2016) karya Bayu Prihantoro; C’est la Vie (2017) karya Ratrikala Bhre Aditya; The Fox Exploits, the Tiger’s Might (2015) karya Lucky Kuswandi; dan My Family, My Films, My Nations (1998) karya Garin Nugroho.
Berdurasi 12 menit, film On the Origin of Fear (2016) menampilkan sosok aktor Pritt Timothy yang memainkan peran sebagai seorang dubber. Film ini menyoroti fakta sejarah kelam penyiksaan yang ada dalam adegan film G30S/PKI.
Adapun C’est la Vie merupakan film yang menampilkan kisah haru seorang tahanan politik yang dibuang ke Pulau Buru. Sementara The Fox Exploits, the Tiger’s Might mengisahkan dua remaja yang hidup di antara kelindan kekuasaan dan seksualitas di sebuah kota kecil.
BACA JUGA: Dukung Raperda Retribusi Tenaga Kerja Asing, Begini Penjelasan Kadin Jogja
Terakhir, My Family, My Films, My Nations merupakan film esai karya Garin Nugroho yang terbilang “langka” di acara pemutaran film Tanah Air. Film berdurasi 35 menit ini berisikan enam film pendek yang mengisahkan tentang kehidupan masyarakat kelas bawah di era menjelang Reformasi dari beberapa sudut pandang, yakni seorang suami, ibu, anak-anak, keluarga, dan negara.
Garin Nugroho menceritakan betapa sulitnya proses produksi film tersebut. Sebagai film esai, My Family, My Films, My Nations bisa dibilang film yang tak banyak diproduksi oleh sineas Tanah Air ketika itu.
Film tersebut, kata Garin, menjadi salah satu caranya untuk memandang sekaligus memotret bagaimana wajah asli Indonesia sebelum era 1998. “Selama proses pengambilan gambar, kami dikawal banyak aparat, diintai banyak intelkam,” kata Garin secara virtual seusai pemutaran film.
Sementara itu, Kurator JAFF Movie Night, Andika Wahyu mengatakan keempat film itu dipilih bukan tanpa alasan.
Salah satu pertimbangannya adalah momentum peringatan G30S/PKI. Menurutnya, keempat film itu memiliki benang merah terkait dengan sejarah kelam Indonesia tersebut.
Baginya, momentum G30S/PKI yang terjadi pada 1965 memiliki keterkaitan dan rentetan panjang dengan periode-periode sosial politik setelahnya.
Oleh karena itulah, perlu adanya sebuah pembicaraan panjang terkait hal-hal yang menurutnya memang “belum selesai” tersebut.
“Menurut saya, ada yang belum selesai dengan persoalan G30S/PKI. Tidak cuma urusan yang terjadi pada 1965, sampai orde setelahnya pun demikian. Bahkan sampai era sekarang,” kata Andika.
Hal-hal yang “belum selesai” itu, kata Andika, terbilang sangat kompleks. Mulai dari kebenaran sejarah soal peristiwa G30S/PKI itu sendiri, hingga rentetan sejarah setelahnya yang berdampak pada dinamika sosial dan politik di Indonesia.
“Setidaknya, empat film yang saya pilih itu cukup mewakili, betapa sampai detik ini, trauma [atas peristiwa G30S/PKI] dan ketidaktahuan kita atas sejarah kelam itu masih menjadi hal yang belum selesai. Ini menjadi teror tersendiri bagi kita kan,” ucap Andika.
Tahun ini, JAFF rencananya digelar pada 26 November sampai 3 Desember 2022. Sebagai rangkaian pre-event, digelar beberapa acara pemutaran film.
Selain JAFF Movie Night, pemutaran film bertajuk JAFF Open Air Cinema telah digelar di Taman Legawong, Umbulharjo, Jogja, Sabtu (24/9/2022). Rencananya, JAFF Open Air Cinema juga akan digelar di Ruas Bambu Nusa, Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Sleman, Sabtu (1/10/2022) malam WIB yang akan menampilkan pemutaran film produksi artis Nicholas Saputra berjudul Semesta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 30 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak 12 perjalanan dan tarif Commuter Line Rp8.000.
KPK mendalami penukaran 46.500 dolar Singapura yang diduga disiapkan Suhardiman Amby untuk Raja Juli Antoni dalam penyidikan kasus Kuansing.
PSEL Legok Nangka senilai Rp7,2 triliun mulai dibangun di Kabupaten Bandung. Proyek ini akan mengolah 2.131 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 40,79 M
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 30 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jam keberangkatan tiap stasiun.
Ilmuwan menemukan spesies dinosaurus baru berusia 210 juta tahun di Zimbabwe. Temuan ini membuka wawasan baru tentang evolusi dinosaurus awal di Afrika.