Tingkat Pengangguran Sarjana DIY Capai 3,94%, Disnakertrans Ungkap Penyebabnya
TPT lulusan D4-S3 di DIY mencapai 3,94% pada Mei 2026. Disnakertrans DIY menyoroti ketidaksesuaian kompetensi dan kebutuhan industri.
Konferensi pers melon Hikapel di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/1/2023)./Harian Jogja-Anisatul Umah
Harianjogja.com, SLEMAN—Berawal dari curhatan emak-emak yang mengaku kesusahan membawa melon saat bepergian, Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Budi Setiadi Daryono membuat inovasi dengan menciptakan melon seukuran apel.
Melon seukuran apel yang diberi nama Hikapel ini memiliki berat 250-300 gram per buah. Selain punya kandungan vitamin C, hikapel ini juga mengandung vitamin A. Kandungan beta karoten yang tinggi ini bisa dimanfaatkan sebagai pengganti wortel.
Hikapel yang lahir pada 2012 lalu memiliki makna mendalam baginya. Bertepatan dengan lahirnya sang buah hati bernama 'Fadhil Hikari Setiadi', buah melon yang dia teliti diberi nama Hikapel. Hika adalah nama anaknya, sementara melon yang diteliti bentuknya mirip apel, maka diberi nama Hikapel.
"Ada banyak keluhan dari ibu-ibu yang saya sebut emak-emak. Melon yang besar memang memberatkan. Kemudian mereka membuat challenge [mengecilkan ukuran] meski melon saya sebelumnya sudah enak," ucapnya saat konferensi pers di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/1/2023).
BACA JUGA: Taman Budaya Bantul Dibangun di Kamijoro Tahun Ini, Pemkab: Dokumen Amdal Segera Diuji
Dia mejelaskan setidaknya ada 17 jenis melon yang dia kembangkan, namun yang bisa dimakan hanya 16, karena satu di antaranya digunakan untuk bahan parfum.
Masa tanam melon ini sekitar 60 hari dan jika menggunakan hidroponik dibutuhkan waktu 65 hari. Perkiraan ini untuk penanaman di dataran rendah. Penanaman melon di dataran tinggi masa panennya akan lebih lama lagi.
"Saya pernah nyoba tanam di Pangalengan dan hasilnya lain, kalau high land 1.500-2.000 [mdpl] akan menjadi cukup lama ada tambahan 20-25 hari. Menjadi 80-85 hari baru bisa panen," jelasnya.
Produk melon menengah premium ini dijual dengan harga Rp35.000 per kilogram (kg). Per kg berisi sekitar tiga sampai empat buah melon. Dia mengatakan kendala penanaman melon adalah perubahan iklim. Perubahan iklim membuat petani yang selama ini berpatokan pada musim menjadi susah. Musim kemarau ternyata hujan, dan musim hujan kadang malah kering.
Selain itu hama dan penyakit juga menjadi hambatan. Indonesia negeri yang subur, namun juga subur hama dan penyakit.
"Ini problemnya, sehingga kami pakai green house. Sebelumnya enggak pernah sebelum 2015. Kami bingung ini musim hujan panas, ini musim kemarau hujan deras."
Salah satu warga Sleman, Candra, 28, mengaku suka dengan Hikapel ini, karena rasanya yang manis. Juga ukurannya yang mungil membuat melon ini mudah dibawa bepergian. "Saya suka dengan rasanya yang manis."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TPT lulusan D4-S3 di DIY mencapai 3,94% pada Mei 2026. Disnakertrans DIY menyoroti ketidaksesuaian kompetensi dan kebutuhan industri.
Presiden Prabowo dijadwalkan menghadiri resepsi 100 tahun Gontor sekaligus meresmikan Fakultas Kedokteran Unida Gontor di Ponorogo.
Zidane mengumumkan skuad perdana Prancis dengan tetap menunjuk Mbappe sebagai kapten dan memanggil lima pemain baru.
Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Sabtu 19 September 2026 tersedia mulai 07.30 WIB dengan tarif perjalanan Rp12.000.
Harga emas Pegadaian hari ini, Sabtu 19 September 2026, mencakup Antam, UBS, dan Galeri 24 lengkap dengan harga buyback.
IHSG turun 1,53% menjadi 6.441,159 sepanjang pekan 14–18 September 2026 di tengah tekanan global dan sinyal kenaikan suku bunga The Fed.