Roby Dwi Antono, Commission Artist ARTJOG 2026 ARS LONGA: GENERATIO
berbasis di Yogyakarta, Roby memulai praktik berkaryanya dengan menghadirkan dunia visual yang dipenuhi karakter khas, seperti kelinci, anak-anak, dan hewan
I Wayan Tirta saat menjalani cuci darah di RSPAU dr. S. Hardjolukito./Istimewa
JOGJA—Memasuki tahun ke10 penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan berfokus pada peningkatan mutu layanan terutama di fasilitas kesehatan. Setiap peserta yang mengakses layanan kesehatan dipastikan mendapatkan layanan yang cepat, mudah dan setara.
Sudah bukan masanya lagi, peserta mendapatkan perlakuan berbeda karena menggunakan jaminan JKsN. Hal inilah yang dirasakan oleh I Wayan Tirta, seorang pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) warga Kota Jogja yang telah enam tahun terakhir menjalani cuci darah di RSPAU dr. S. Hardjolukito.
Sembari menjalani proses cuci darah, I Wayan bercerita bagaimana perawat, tenaga medis bahkan petugas kebersihan memberikan pelayanan yang baik dan ramah. Bahkan dia merasa petugas di rumah sakit sudah seperti bagian dari keluarganya.
“Nama saya I Wayan Tirta, saya sudah enam tahun menjalani cuci darah di RSPAU dr. S Hardjolukito. Awalnya dari hipertensi dan asam urat terus saya kontrol ke dokter spesialis dalam lalu dianjurkan untuk cuci darah hingga sekarang. Kalau ditanya soal pelayanan di sini saya bisa katakan kalau perawat di sini sip. Perawatnya bagus, baik dan tidak ada perbedaan pelayanan. Saya senang sama perawat, tenaga medis dan dokternya juga. Bahkan sampai petugas yang mengepel saja baik sama saya, semua sudah seperti keluarga sendiri,” kata I Wayan melalui rilis, Kamis (27/7/2023).
I Wayan juga mengaku tak pernah membayar apa pun untuk layanan cuci darah yang ia terima. Itulah sebabnya, dia merasa lega bisa fokus pada kesehatan dan pengobatan tanpa terbebani biaya cuci darah yang terkenal mahal.
BACA JUGA: Berpotensi Naik 2025, Ini Iuran BPJS Kesehatan Saat Ini
Jika tanpa JKN, dalam satu kali terapi bisa menelan biaya hingga Rp800.000-Rp1 juta. Bisa dibayangkan berapa biaya yang akan dikeluarkan karena pada umumnya pasien menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan.
“Sekarang saya sudah enam tahun cuci darah dan selalui menggunakan jaminan JKN dari awal. Selama itu saya tidak pernah disuruh bayar sama rumah sakit, semuanya gratis. Saya senang karena apa, karena saya tidak terbebani biaya. Saya malah senang, saya tinggal datang terus cuci darah setiap senin dan kamis, sekali cuci darahnya empat jam. Tinggal fokus pada sakit saya ini kapan sembuhnya. Saya tidak beban dan pikiran saya rasanya plong begitu,” kata I Wayan bersemangat.
Dia bersyukur Program JKN bisa menjamin semua pengobatannya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana dirinya dan semua pejuang cuci darah sepertinya jika tanpa JKN yang siap menjamin seluruh biaya. “Terimakasih pada BPJS Kesehatan yang sudah menyelenggarakan program yang baik ini. Kami bisa fokus ke kesehatan,” katanya.
Untuk memastikan layanan yang mudah, kini ada Janji Layanan JKN yang dipasang di setiap fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Janji tersebut diantaranya menyebutkan bahwa fasilitas kesehatan berkomitmen untuk memberikan layanan yang ramah dan tanpa diskriminasi, memberikan layanan tanpa biaya tambahan.
Sementara terkait dengan obat, fasilitas kesehatan berkomitmen untuk memberikan pelayanan obat yang dibutuhkan dan tidak membebankan peserta untuk mencari obat jika terdapat kekosongan obat.
Harapannya, BPJS Kesehatan dapat terus menghadirkan layanan prima bagi peserta dan memastikan program ini tetap berkesinambungan. “Harapan saya Program JKN dan BPJS Kesehatan ini berjalan terus, kalau bisa dipertahankan terus. Supaya nanti saya dan teman-teman yang senasib dengan saya bisa tenang. Kalau sudah pikiran tenang, bahagia, mungkin cuci darahnya tidak terasa sakit."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
berbasis di Yogyakarta, Roby memulai praktik berkaryanya dengan menghadirkan dunia visual yang dipenuhi karakter khas, seperti kelinci, anak-anak, dan hewan
Mario Aji gagal finis di Moto2 Jerman 2026 usai crash di Sachsenring. Simak klasemen terbaru yang masih dipimpin Manuel Gonzalez.
Kia tarik 500 ribu SUV Telluride di AS karena sakelar kursi bisa picu kebakaran. Gagal diperbaiki dua kali, kini Kia pasang sekering elektronik.
Ada 15 jenis colokan dunia! Indonesia pakai Type C & F, Amerika Type A, Inggris Type G. Kenapa tidak diseragamkan? Simak sejarah dan faktanya di sini.
Sampah mulai mencemari kawasan Jembatan Kabanaran Kulonprogo hingga masuk saluran irigasi. DLH mengingatkan PKL dan pengunjung lebih peduli kebersihan.
Celine Evangelista mengaku telah menikah lagi dengan pria saleh. Ia beralasan mengikuti sifat taghaful dalam Islam, cukup syiarkan ke keluarga dan sahabat terde