Bawaslu Bantul Berharap Pemilihan Lurah Tak Diwarnai Politik Uang
Bawaslu Bantul mendorong Pilur 2026 bebas politik uang dengan memperkuat gerakan Desa Anti Politik Uang di 30 kalurahan.
Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Indah Pujiyanti (ist)
Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena cuaca panas Indonesia melanda sebagian wilayah beberapa hari terakhir ini. Suhu panas pada siang hari dapat mencapai kisaran 35-38°C jauh melebihi dari batas maksimal kenyamanan suhu di Indonesia yang berkisar 22- 26C.
Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Indah Pujiyanti, menyampaikan kondisi panas ekstrem ini tentu saja menyebabkan ketidaknyamanan kita dalam beraktivitas di luar ruangan maupun di dalam ruangan. Kita mungkin bisa saja menggunakan AC untuk menurunkan suhu ruangan, akan tetapi hal tersebut tentu saja memiliki dampak dalam penggunaan energy listrik yang cukup besar dan justru dapat menjadi salah satu penyebab efek pemanasan global. Maka dari itu, sebenarnya ada beberapa alternative dari teknik passive cooling yang sebenarnya dapat kita terapkan untuk meminimalkan penggunaan AC tersebut. Setidaknya bisa kita terapkan di desain rumah tinggal kita masing- masing.
Solusi Alternatif
Indah menjelaskan teknik passive cooling merupakan metode pendinginan alami dengan rekayasa desain arsitektur. Beberapa teknik passive cooling yang dapat kita terapkan untuk menurunkan suhu dalam ruangan antara lain dengan teknik ventilatif cooling aitu mendesain system ventilasi silang pada bangunan. Ventilasi silang tidak hanya menyediakan ventilasi yang terbuka di dua sisi akan tetapi dengan menempatkan lubang-lubang ventilasi di dua sisi dengan ketinggian yang berbeda. Hal ini diupayakan untuk mengeluarkan suhu panas dari sisi ventilasi yang lebih tinggi.
Alternatif passive cooling berikutnya adalah dengan rongga udara pada atap bangunan yaitu dengan penggunaan atap limasan/pelana yang tinggi dan hindari penggunaan atap datar, karena pada dasarnya suhu panas akan bergerak ke bagian atas bangunan sehingga suhu panas tidak berada di ketinggian efektif ruang untuk beraktivitas.
Selain ventilative cooling dan pemanfaatan rongga udara, ada pula teknik evaporatif cooling yaitu dengan memberikan elemen air di sekitar bangunan kita sehingga panas Matahari yang datang dapat tereduksi oleh air dan suhu yang masuk dalam ruangan akan lebih rendah dari pada suhu luar ruangan.
Teknik passive cooling terakhir yang dapat kita upayakan adalah dengan penghijauan itu memperbanyak area hijau dan pepohonan di sekitar rumah sehingga radiasi matahari yang masuk ke dalam ruangan dapat tereduksi dan bayangan dari tajuk pohon dapat memberikan keteduhan di beberapa bagian rumah.
Dengan menerapkan teknik passive cooling yang tepat pada bangunan diharapkan kita masih dapat beraktivitas dengan nyaman di tengah cuaca panas ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir ini dan yang paling utama adalah penggunaan energy listrik dalam bangunan dapat diminimalkan seoptimal mungkin. (BC)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bawaslu Bantul mendorong Pilur 2026 bebas politik uang dengan memperkuat gerakan Desa Anti Politik Uang di 30 kalurahan.
Cristiano Ronaldo meninggalkan timnas Portugal jelang lawan Denmark setelah situasi dengan Jorge Jesus. Ia belum menyatakan pensiun.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku berjudul Merakit Ayodya di Balai Muslimin, Kelurahan Warungboto
Jadwal semifinal voli pantai Asian Games 2026 Bintang/Sofyan vs Jepang, Kamis (1/10), pukul 13.00 WIB.
Raphinha dicoret dari skuad Brasil jelang laga perdana melawan India setelah mengalami edema otot di paha kanan.
Paspor Indonesia berada di peringkat 56 dunia dengan skor mobilitas 89, sementara Singapura dan Malaysia masuk tiga besar Global Passport Power Rank 2026.