MORAZEN Yogyakarta Dukung Tumbuh Kembang Anak lewat MORA Impact
MORAZEN Yogyakarta kembali menjalankan program MORA Impact sebagai bagian dari komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG)
Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Indah Pujiyanti (ist)
Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena cuaca panas Indonesia melanda sebagian wilayah beberapa hari terakhir ini. Suhu panas pada siang hari dapat mencapai kisaran 35-38°C jauh melebihi dari batas maksimal kenyamanan suhu di Indonesia yang berkisar 22- 26C.
Dosen Program Studi Arsitektur Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Indah Pujiyanti, menyampaikan kondisi panas ekstrem ini tentu saja menyebabkan ketidaknyamanan kita dalam beraktivitas di luar ruangan maupun di dalam ruangan. Kita mungkin bisa saja menggunakan AC untuk menurunkan suhu ruangan, akan tetapi hal tersebut tentu saja memiliki dampak dalam penggunaan energy listrik yang cukup besar dan justru dapat menjadi salah satu penyebab efek pemanasan global. Maka dari itu, sebenarnya ada beberapa alternative dari teknik passive cooling yang sebenarnya dapat kita terapkan untuk meminimalkan penggunaan AC tersebut. Setidaknya bisa kita terapkan di desain rumah tinggal kita masing- masing.
Solusi Alternatif
Indah menjelaskan teknik passive cooling merupakan metode pendinginan alami dengan rekayasa desain arsitektur. Beberapa teknik passive cooling yang dapat kita terapkan untuk menurunkan suhu dalam ruangan antara lain dengan teknik ventilatif cooling aitu mendesain system ventilasi silang pada bangunan. Ventilasi silang tidak hanya menyediakan ventilasi yang terbuka di dua sisi akan tetapi dengan menempatkan lubang-lubang ventilasi di dua sisi dengan ketinggian yang berbeda. Hal ini diupayakan untuk mengeluarkan suhu panas dari sisi ventilasi yang lebih tinggi.
Alternatif passive cooling berikutnya adalah dengan rongga udara pada atap bangunan yaitu dengan penggunaan atap limasan/pelana yang tinggi dan hindari penggunaan atap datar, karena pada dasarnya suhu panas akan bergerak ke bagian atas bangunan sehingga suhu panas tidak berada di ketinggian efektif ruang untuk beraktivitas.
Selain ventilative cooling dan pemanfaatan rongga udara, ada pula teknik evaporatif cooling yaitu dengan memberikan elemen air di sekitar bangunan kita sehingga panas Matahari yang datang dapat tereduksi oleh air dan suhu yang masuk dalam ruangan akan lebih rendah dari pada suhu luar ruangan.
Teknik passive cooling terakhir yang dapat kita upayakan adalah dengan penghijauan itu memperbanyak area hijau dan pepohonan di sekitar rumah sehingga radiasi matahari yang masuk ke dalam ruangan dapat tereduksi dan bayangan dari tajuk pohon dapat memberikan keteduhan di beberapa bagian rumah.
Dengan menerapkan teknik passive cooling yang tepat pada bangunan diharapkan kita masih dapat beraktivitas dengan nyaman di tengah cuaca panas ekstrem yang terjadi beberapa hari terakhir ini dan yang paling utama adalah penggunaan energy listrik dalam bangunan dapat diminimalkan seoptimal mungkin. (BC)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
MORAZEN Yogyakarta kembali menjalankan program MORA Impact sebagai bagian dari komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG)
iPhone 17 pimpin pasar global Q1 2026, Apple kuasai 3 besar, Samsung dan Xiaomi bertahan di segmen entry level.
Polres Kulonprogo petakan 30 geng pelajar untuk cegah kejahatan jalanan. Simak langkah preventif Pemkab dan kepolisian di sini.
FIB Bronze Jogja 2026 jadi ajang penting pembinaan padel Indonesia menuju Kualifikasi Piala Dunia dan Asian Games.
BNI ini salah satu bank nasional dengan jaringan internasional yang cukup besar. Kami menjadi penghubung antara dunia internasional dengan Indonesia, baik inbou
Jogja Run D-City 2026 meriahkan Jogja. Tiket peserta disalurkan untuk beasiswa, hadiah hingga Rp25 juta dan hiburan spektakuler.