Tak Lagi Manual, Permintaan Darah di RSUD Jogja Kini Serba Digital

Media Digital
Media Digital Selasa, 04 Agustus 2026 16:32 WIB
Tak Lagi Manual, Permintaan Darah di RSUD Jogja Kini Serba Digital

Petugas RSUD Kota Jogja mengoperasikan SI DOBRAH, sistem digital yang digunakan untuk mempercepat proses pemesanan dan pelayanan kebutuhan darah pasien. Ist/ Dok. RSUD Kota Jogja

Harianjogja.com, JOGJA - Permintaan darah untuk pasien di RSUD Kota Jogja kini tak lagi mengandalkan proses manual. Rumah sakit tersebut menerapkan Sistem Informasi Digital Order Bank Darah (SI DOBRAH) untuk mempercepat proses pemenuhan kebutuhan darah, terutama dalam situasi yang membutuhkan penanganan segera.

Melalui sistem baru ini, permintaan darah dari sejumlah unit pelayanan seperti IGD, ICU, ruang operasi, hingga rawat inap dapat dikirim secara digital dan diproses secara real-time. Sistem tersebut juga telah terhubung dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS).

Direktur RSUD Kota Jogja, dr. Ariyudi Yunita, mengatakan digitalisasi ini ditujukan untuk memperbaiki kecepatan sekaligus ketepatan pelayanan transfusi darah. Menurutnya, layanan tersebut berkaitan langsung dengan keselamatan pasien sehingga membutuhkan proses yang cepat dan minim kesalahan.

“Dengan SI DOBRAH, permintaan darah dari unit pelayanan seperti IGD, ICU, ruang operasi, dan rawat inap dapat diproses secara real-time. Hal ini sangat membantu terutama pada kondisi gawat darurat yang membutuhkan kecepatan dan presisi tinggi,” ujarnya, dikutip Selasa (4/8/2026).

Sebelum SI DOBRAH diterapkan, proses pemesanan darah masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut dinilai memiliki risiko berupa keterlambatan pelayanan, kesalahan pencatatan, maupun kendala ketika petugas harus memeriksa kelengkapan dokumen.

Kini tenaga medis dapat mengajukan kebutuhan darah secara daring melalui sistem. Setelah permintaan masuk, petugas Bank Darah Rumah Sakit dapat melakukan verifikasi, menyiapkan darah, hingga mencatat hasil pemeriksaan kecocokan darah atau crossmatch secara elektronik.

Seluruh tahapan tersebut terdokumentasi dalam sistem sehingga data lebih mudah ditelusuri. Digitalisasi juga membuat pencatatan menjadi lebih akurat sekaligus mengurangi ketergantungan pada dokumen berbasis kertas.

Ariyudi mengatakan penerapan SI DOBRAH bukan hanya menyasar kecepatan pelayanan pasien. Sistem tersebut juga diharapkan mengurangi pekerjaan administratif tenaga kesehatan serta menyediakan data yang dapat digunakan rumah sakit untuk evaluasi dan pengambilan keputusan.

“Digitalisasi ini diharapkan dapat mendukung peningkatan mutu pelayanan sekaligus memperkuat tata kelola rumah sakit. Data yang tercatat dalam sistem juga dapat menjadi bahan pemantauan dan evaluasi manajemen,” katanya.

Untuk menjalankan inovasi tersebut, RSUD Kota Jogja membentuk Tim Pelaksana Inovasi SI DOBRAH yang melibatkan tenaga medis, petugas bank darah, dan tim teknologi informasi. Rumah sakit juga memastikan penerapannya tetap memperhatikan keamanan informasi serta perlindungan data pasien sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online