Alasan Pemerintah Impor Beras, Memastikan Ketersediaan Cadangan Pangan

Jumali
Jumali Selasa, 30 Januari 2024 12:17 WIB
Alasan Pemerintah Impor Beras, Memastikan Ketersediaan Cadangan Pangan

Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi saat meninjau Gudang Bulog Sendangsari, Selasa (30/1/2024)/ Harian Jogja-Jumali

Harianjogja.com, BANTUL—Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengakui jika cadangan beras lokal yang ada saat ini menipis. Alhasil, Bulog terpaksa harus mengimpor beras untuk pasokan cadangan pangan.

“Untuk ini hari ini disini untuk stoknya ini pahit sekali, ngapunten kita harus lakukan importasi. Tadi dari Myanmar 600.000 ton, dari Thailand 500.000 ton. Artinya ada 1,1 juta ton beras impor. Ini memang keputusan pahit harus kita kerjakan supaya, pemerintah, masyarakat memiliki cadangan pangan,” katanya di Gudang Bulog Sendangsari, Selasa (30/1/2024).

Sementara untuk stok nasional, Arief mengungkapkan saat ini ada 1,4 juta ton beras impor yang terus menerus masuk. Beras impor ini akan distop saat para petani mulai panen.

BACA JUGA : Bapanas Janji Stop Impor Beras saat Panen Raya

“Dan perintahnya pak presiden harga di petani harus baik. Beliau meminta impor untuk cadangan pangan. Tapi saat panen raya, harga harus baik. Sehingga nilai tukar petani 114 persen ini jadi angka yang terbaik,” katanya.

Menurut Arief, saat ini Bulog telah ditugaskan oleh pihaknya agar ada minimum stok sebanyak 1 juta ton. Di mana, pada transfer pada akhir tahun diharapkan ada 1,2 juta ton beras tersedia. Jumlah ini kata Arief ditambah 1,2 juta ton untuk  bantuan pangan.

“Tapi, pak Presiden minta Januari, Februari sebelum panen besar, bantuan beras untuk stabilisasi untuk beras ini didobelkan,” ucap Arief.

Arief juga mengungkapkan jika pihaknya telah bertemu dengan pemilik penggilingann padi di Jogja semalam. Di mana di tingkat penggilingan padi, saat ini harga gabah sangat tinggi diatas Rp8 ribu.

“Untuk jadi beras tanpa diberikan bantuan beras cadangan pangan, angkanya bisa diatas Rp18 sampai 20 ribu. Sehingga bantuan pangan, SPHP tetap dijalankan menyeluruh se-indonesia,” ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online