Berikut 5 Poin Piagam Klaten Hasil ICHC ke-35
Penyelenggaraan 35th International Cycling History Conference (ICHC) menghasilkan Piagam Klaten.
Sebanyak 25 pengelola destinasi wisata se-DIY mengikuti gelaran pelatihan digitalisasi yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata DIY di Hotel Tara, Senin (5/2) - Harian Jogja/ Alfi Annissa Karin
TEGALREJO—Di tengah era digitalisasi seperti saat ini, para pengelola destinasi wisata didorong untuk bisa melek teknologi, salah satunya dengan memanfaatkan keberadaan media sosial. Konten-konten di media sosial merupakan wajah pertama destinasi wisata yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Sebisa mungkin, konten berbentuk foto ataupun video dibuat dengan menarik, sehingga bisa membuat masyarakat merasa ingin datang.
Untuk menyiapkan SDM pengelola destinasi wisata yang melek digitalisasi, Dinas Pariwisata DIY menggelar pelatihan di Hotel Tara, Senin (5/2/2024). Sebanyak 25 pengelola destiniasi wisata di DIY diberi materi terkait fotografi, videografi, dan optimalisasi sosial media. Panitia Pelatihan Konten Digital Dinas Pariwisata DIY Erni Srijarwati menuturkan pelatihan terbagi dalam 3 hari, mulai tanggal 5-7 Februari 2024. Hari pertama fokus pada materi fotografi, hari kedua videografi, dan hari ketiga materi terkait pengelolaan sosial media. Pihaknya juga turut menggandeng praktisi profesional untuk memberikan paparan materi.
"Di akhir sesi, nantinya peserta diminta untuk mempraktikkan materi yang telah disampaikan," ujar Erni saat ditemui di Hotel Tara, Senin (5/2/2024).
Seusai menerima materi pelatihan, para pengelola wisata diharapkan dapat memaksimalkan promosi secara digital melalui sosial media. Sehingga, nantinya akan lebih banyak orang lagi yang tahu tentang destinasi wisata yang dipromosikan. Sekaligus mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan.
"Ini upaya dari Dinas Pariwisata untuk memberikan pelatihan digital marketing dengan mempelajari konten video, foto, dan sosial media. Nantinya, cara menjualnya akan seperti itu," imbuhnya.
Salah satu pemateri fotografi Misbachul Munir menuturkan sejauh ini masih banyak akun sosial media dari destinasi wisata yang belum representatif. Konten-konten yang ada juga dirasa tidak menarik. Munir mengatakan, masih banyak pengelola sosial media yang berpatokan pada kuantitas dan jam tayang untuk mengejar traffic sosial media.
"Padahal kalau kontennya tidak menarik, mau traffic tinggi pun orang tidak akan melihat," katanya.
Untuk itu, Munir lebih menekankan pada kualitas konten. Dia mengajak para pengelola wisata untuk memahami bagaimana sebuah konten memiliki nilai dan bisa menarik traffic yang tinggi.
"Hari ini saya mencoba beberapa contoh bagaimana sosmed menjadi menarik untuk dikunjungi orang dan yang viral itu kontennya akan seperti apa akan dibahas selama tiga hari ini," ungkapnya. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penyelenggaraan 35th International Cycling History Conference (ICHC) menghasilkan Piagam Klaten.
Pemerintah siapkan jutaan lapangan kerja dari hilirisasi, pangan, hingga ekonomi hijau. Ini sektor paling menjanjikan.
Kemenhub dorong Kertajati jadi pusat MRO nasional. Bandara ini diproyeksikan jadi hub penerbangan dan logistik.
PDAM Sleman petakan wilayah rawan air saat kemarau 2026. Godean hingga Pakem berpotensi alami tekanan rendah.
9 WNI relawan Gaza dibebaskan dari Israel. Pemerintah pastikan mereka dalam perjalanan pulang ke Indonesia.
Polres Bantul sita 256 botol miras ilegal dari tiga lokasi. Tiga pelaku diamankan dalam operasi dua hari.