Belasan Dapur MBG di Sleman Masih Berhenti Beroperasi
Sebanyak 11 SPPG di Sleman menghentikan operasional sementara akibat kendala renovasi, IPAL, dan administrasi.
Ilustrasi banjir di Wonosari./Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPBD Gunungkidul menyampaikan bahwa Pemkab tetap dalam kondisi siap apabila terjadi bencana alam secara tiba-tiba utamanya bencana hidrometeorologi meski curah hujan rendah.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan potensi curah hujan normal. Oleh sebab itu, ancaman bencara hidrometeorologi relatif rendah. Kendati demikian, BPBD mengaku siaga. “Kami terus mengacu pada peringatan dini BMKG. Ada hujan yang durasi tiga harian, harian, jangka pendek, atau cuaca ekstrem itu bisa hitungan jam,” kata Purwono dihubungi, Senin (19/2/2024).
Purwono mengaku seharusnya puncak musim hujan ada pada Januari dan Februari 2024. Siklon Anggrek juga sempat terjadi pada Januari. Hujan merata pada Februari dalam waktu sepekan hanya ketika libur Imlek. “Sepekan belakangan hujan malah hilang. Baru 19 Februari hujan terpantau di beberapa wilayah di Gunungkidul dengan intensitas ringan,” katanya.
Dia melanjutkan darurat siaga bencana hidrometeorologi telah dimulai sejak 1 Januari sampai 29 Februari 2024. Piket TRC dilakukan nonstop dan peralatan telah disiapkan.
Purwono juga menyinggung kejadian tahunan yang ada di Padukuhan Kedungwanglu, Banyusoco, Playen, Gunungkidul di mana apabila terjadi hujan lebat dengan durasi lama maka ada warga padukuhan tersebut terisolasi.
BACA JUGA: DIY Dilanda Cuaca Ekstrem hingga Sepekan ke Depan, Ternyata Ini Pemicunya
Mereka tidak dapat melintas jembatan crossway akibat tenggelam oleh air Sungai Prambutan. Beberapa waktu lalu, listrik di sana bahkan mati selama beberapa hari. Hal ini tentu meningkatkan risiko terjadinya musibah.
“Kalau di Kedungwanglu, kami senantiasa memantau. Di Banyusoco, FPRB juga sudah dibentuk. Karena itu terjadi bertahun-tahun, kami memberikan support tali tambang sebagai pengaman, juga ada bronjong,” ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan masyarakat perlu waspada apabila berkendara utamanya jika melintas ruas jalan Jogja-Wonosari. Menurut dia, di sepanjang bahu jalan tersebut banyak berdiri pohon besar.
Dia mengaku ruas jalan paling aman berada di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) karena tidak banyak pohon besar. Hanya saja, Dinas Perhubungan (Dishub) Gunungkidul juga menyatakan JJLS apabila ditinjau dari kesediaan rambu-rambu justru rawan. Di JJLS banyak persimpangan yang belum ada alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 11 SPPG di Sleman menghentikan operasional sementara akibat kendala renovasi, IPAL, dan administrasi.
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.