SK Darurat Kekeringan Sleman Rampung, Bantuan Air Bersih Disalurkan
BPBD Sleman merampungkan SK Darurat Kekeringan dan menyiapkan distribusi 50 tangki air bersih untuk mengantisipasi krisis air pada musim kemarau.
Biji kopi - Ilustrasi StockCake
Harianjogja.com, SLEMAN—Permintaan pasar yang terus meningkat mendorong perluasan kawasan budidaya Kopi Merapi di Kabupaten Sleman. Sebanyak 110 hektare lahan baru disiapkan pada 2026 bersamaan dengan pengembangan hilirisasi yang mencakup pemasaran hingga penjualan kopi menggunakan gerobak keliling di kawasan wisata.
Perluasan kawasan budidaya tersebut akan difokuskan di tiga kapanewon di lereng selatan Gunung Merapi, yakni di Kapanewon Turi, Kapanewon Pakem, dan Kapanewon Cangkringan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengembangan industri kopi yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga penguatan rantai usaha hingga tingkat pemasaran.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Liem Astuti, mengatakan tahun 2026 menjadi tahap penting dalam pembangunan fondasi hilirisasi Kopi Merapi.
"Tahun 2026 ini sebagai fondasi untuk pengembangan hilirisasi Kopi Merapi. Targetnya tidak hanya meningkatkan produksi kopi namun mengintegrasikan dari hulu hingga hilir. Proses ini akan dilakukan secara bertahap," kata Liem saat dihubungi, Kamis (23/7/2026).
Program tersebut dirancang agar pengembangan kopi tidak berhenti pada kegiatan budi daya. Pemerintah Kabupaten Sleman menyiapkan tahapan yang menghubungkan proses produksi, pengolahan, hingga pemasaran sehingga nilai ekonomi kopi dapat berkembang lebih luas.
Kopi yang dibudidayakan petani di Kabupaten Sleman terdiri atas kopi robusta dan kopi arabika.
Kawasan pengembangannya berada di lereng selatan Gunung Merapi yang meliputi wilayah di Kapanewon Turi, Kapanewon Pakem, dan Kapanewon Cangkringan.
Saat ini, kopi robusta menjadi varietas yang paling dominan dibudidayakan oleh petani.
Liem menjelaskan luas kopi robusta yang berkembang di wilayah tersebut mencapai sekitar 241,53 hektare.
Selain menjadi komoditas utama, Kopi Robusta Merapi juga telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis (IG), yang menjadi salah satu identitas penting produk kopi asal lereng Merapi.
Sementara itu, Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DP3 Sleman, Eko Sugianto Ngadirin, mengungkapkan total luas perkebunan kopi di Kabupaten Sleman saat ini mencapai 372,9 hektare.
Luas tersebut terdiri atas 296,8 hektare kopi robusta dan 76,1 hektare kopi arabika.
Dari kawasan budidaya yang ada saat ini, produksi rata-rata mencapai 715 kuintal biji kopi kering setiap tahun.
Menurut Eko, tambahan 110 hektare lahan yang direncanakan pada 2026 akan memanfaatkan lahan milik petani yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Sebagian besar lahan tersebut masih berupa kebun campuran dan area yang ditumbuhi semak-semak.
Untuk mendukung program perluasan kebun kopi tersebut, bantuan bibit kopi dan pupuk organik akan disalurkan oleh Balai Besar Perbenihan Tanaman Perkebunan Surabaya bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui APBD akan memberikan dukungan berupa pendampingan dan pembinaan kepada petani.
"Untuk perluasan kopi dilakukan Balai Besar Pembibitan Tanaman Perkebunan Surabaya dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian berupa bibit kopi dan pupuk organik. Dukungan Pemkab Sleman dari APBD untuk pendampingannya berupa pembinaan petani. Jadi kolaborasi," kata Eko.
Selain memperluas kawasan tanam, DP3 Sleman juga menyiapkan langkah pemasaran untuk memperkuat posisi Kopi Merapi di tengah persaingan pasar.
Produk kopi lokal tersebut telah memperoleh nama Kopi Nirmala Giri yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X saat panen perdana di Cangkringan pada pertengahan Juni 2025.
Salah satu program yang tengah dipersiapkan ialah Koling Merapi atau Kopi Keliling Merapi.
Program tersebut mengusung konsep penjualan kopi menggunakan gerobak keliling yang akan ditempatkan di berbagai lokasi keramaian dan destinasi wisata di Kabupaten Sleman.
Pelaksanaannya akan melibatkan pelaku usaha pengolahan kopi yang berada di wilayah Pakem dan Cangkringan.
Saat ini, peluncuran Koling Merapi masih menunggu penentuan waktu pelaksanaan.
Ke depan, pemasaran melalui gerobak keliling tersebut juga akan mendapat dukungan dari Bank Indonesia melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Melalui perluasan kebun dan penguatan hilirisasi tersebut, DP3 Sleman juga terus memperkenalkan karakter kopi lokal yang tumbuh di lereng Gunung Merapi. Produk tersebut dikenal memiliki aroma khas yang menjadi identitas kopi dari kawasan vulkanik tersebut dengan tema "Kopi Lereng Merapi, Hangatnya Lekat di Hati."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Sleman merampungkan SK Darurat Kekeringan dan menyiapkan distribusi 50 tangki air bersih untuk mengantisipasi krisis air pada musim kemarau.
Formula 1 memasuki seri Hungaria 2026. Andrea Kimi Antonelli masih memimpin klasemen, sementara Hamilton dan Russell terus memburu poin.
Warga Padukuhan Duwet di Tepus mengandalkan air keruh dari Kali Wonosari akibat kemarau. Air harus diendapkan sebelum digunakan.
Jadwal bola malam ini menghadirkan Benfica, Ajax, Anderlecht, Besiktas hingga Boca Juniors di kompetisi Eropa dan Copa Sudamericana.
Penelitian NC State: 10 menit dengar kicauan burung redakan stres, tingkatkan suasana hati. Simak temuan lengkapnya tentang manfaat suara alam.
PSIM Jogja datangkan bek asal Ceko, Ondrej Rudzan, untuk perkuat lini belakang Super League 2026/2027. Simak pernyataan manajemen dan target pemain