The Ascott Limited Hadirkan Oakwood Yogyakarta
Oakwood Yogyakarta menghadirkan pengalaman hunian modern yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan wisatawan bisnis maupun rekreasi.
Suasana bedah buku bertajuk Dinamika Politik NU Era Presiden Gus Dur karya Yanto Bashri di Gedung Bapendan Wonokromo 1, Wonokromo, Pleret, Bantul, Kamis (4/4/2024) sore./Jumali
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bekerja sama dengan DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Dinamika Politik NU Era Presiden Gus Dur karya Yanto Bashri di Gedung Bapendan Wonokromo 1, Wonokromo, Pleret, Bantul, Kamis (4/4/2024) sore.
Bedah buku ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat, tetapi juga memberikan gambaran terkait dengan perkembangan dan dinamika politik di era kepemimpinan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid.
Anggota DPRD DIY, Aslam Ridlo mengungkapkan bedah buku ini menyasar anggota Gerakan Pemuda Ansor, Barisan Serbaguna (Banser), dan anggota Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu, bedah buku sengaja digelar seusai Pemilu 2024 agar bisa menjadi sarana mereviu dan menjadi ajang pendidikan politik utamanya untuk kalangan muda NU.
“Bedah buku ini sekaligus memberikan data sebagai pembanding dan pelengkap ke mereka. Ke depan semua pasti berharap pemilu bisa berjalan lebih baik,” kata Aslam.
Aslam mengungkapkan bedah buku juga bertujuan untuk meningkatkan literasi dan minat baca masyarakat. Diakuinya, DIY secara umum menempati peringkat pertama dalam hal minat baca. Meski demikian, hal ini harus terus ditingkatkan. “Bagaimanapun budaya baca buku harus dilestarikan dan ditingkatkan,” kata Aslam.
Menurutnya, selama ini orang melihat politik sebagai sebuah ajang transaksional. Padahal, di era Gus Dur hal itu bukan politik transaksional. Poltik yang dibawa oleh Gus Dur adalah politik Rahmatal lilalamin, yakni politik sebagai wasilah atau alat bukan tujuan. “Ini yang perlu dipahami dan diterjemahkan anak-anak muda NU," kata Aslam.
BACA JUGA: BEDAH BUKU: Soal Kesehatan, Masyarakat Tak Boleh Percaya Mitos & Hoaks
Perwakilan DPAD DIY, Heri Pranoto mengatakan acara bedah buku yang digelar bertujuan meningkatkan literasi masyarakat. Selain itu, banyak ilmu yang didapatkan dari buku tersebut. “Kami juga berharap ilmu yang didapatkan dari acara bedah buku ini bisa ditularkan ke masyarakat lainnya,” katanya.
Buku Dinamika Politik NU Era Presiden Gus Dur terdiri dari tujuh bab mengenai diskursus kiai dalam ruang publik, formasi kiai dalam masyarakat tradisional dan modern, kiai khos menghadapi perubahan politik reformasi Indonesia, kiai khos membangun kultur politik tradisional NU, serta peran kiai atas terpilihnya Gus Dur dan kejatuhannya.
Perwakilan penerbit Bildung, Arifin mengungkapkan kiprah NU dalam bidang sosial keagamaan sejak 1984.
Dalam buku tersebut juga diungkapkan mengenai keputusan NU kembali ke khitah tahun 1926. Tak hanya itu, juga diungkapkan mengenai peran sosial politiknya pada 1998, dan keputusan mendirikan PKB sebagai kendaraan politiknya. “Dari semua itu, Gus Dur berperan penting,” katanya.
Dia mengungkapkan, dalam buku tersebut dijelaskan peran sosial keagamaan dan peran sosial politik dari NU. Di satu sisi NU tetap konsisten menjalankan khitah 1926 dan basis perjuangan dalam bidang agama dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sementara di sisi lain, NU juga tidak melepaskan peranperan politiknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Oakwood Yogyakarta menghadirkan pengalaman hunian modern yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan wisatawan bisnis maupun rekreasi.
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.
DPRD DIY memastikan tidak ada kebijakan pemutusan kerja terhadap tenaga pendidik non-aparatur sipil negara tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta
Prabowo targetkan pembangunan 5.000 desa nelayan lengkap SPBU khusus, cold storage, dan fasilitas es batu hingga 2027.
BNNP DIY mengungkap modus sabu disembunyikan dalam speaker di Bantul. Seorang mahasiswa ditangkap bersama sabu dan tembakau sintetis
HUT ke-18 Harian Jogja, Transformasi dari Perusahaan Media Menuju Perusahaan Komunikasi Diperkuat