Libur Lebaran Restoran di Kulonprogo Sempat Penuh, Tak Seramai Tahun Lalu
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Petani mencabut benih untuk ditanam. - ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, KULONPROGO—Para petani di Kulonprogo mewaspadai tiga jenis hama yang semuanya berujud bakteri. Ketiga hama ini menyerang daun hingga batang tanaman, terutama padi yang hendak masuk masa panen di Kulonprogo pada Agustus nanti.
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo mengidentifikasi ketiga bakteri yang jadi hama ini muncul disebabkan perubahan iklim. Ketiga bakteri hama ini masing-masing adalah blast, hawar daun bakteri atau BLB, dan bercak daun atau BLS.
Petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan DPP Kulonprogo, Pomo menjelaskan hama blast disebabkan oleh pyricularia grisea yang mengganggu pertumbuhan padi.
Sementara hama BLB atau yang umum disebut kresek disebabkan oleh bakteri xanthomonas oryzae yang menyebabkan daun mudah mengering seperti terbakar, kemudian hama BLS disebabkan menyerang daun padi hingga dampak terburuknya mudah rontok.
Pomo menerangkan akibat tiga bakteri hama ini dapat menurunkan produksi pertanian karena padi yang berbuah jadi berkurang. "Sementara ini pantuan kami belum menunjukan serangan yang parah, sehingga dampak terburuknya paling hanya menurunkan produksi gabah, tak sampai menyebabkan gagal panen," terangnya.
Munculnya tiga hama ini, jelas Pomo, terjadi baru beberapa tahun terakhir. Sebab makin masifnya adalah perubahan cuaca yang mendadak sehingga bakteri-bakteri tersbut dapat bekembang biak lebih banyak.
Upaya pengendalian bakteri hama ini sudah dilakukan DPP Kulonprogo, lanjut Pomo, dengan sosialisasi dan pencegahan menggunakan pupuk dan intervensi pertanian lain. "Seperti kalau intervensi yang bisa dilakukan untuk mencegah bakteri hama ini dengan menyiangi rumput liar di sekitar padi, karena kebanyakn muncul dari rumput liar ini," ungkapnya.
Perubahan iklim yang terjadi dan berdampak pada pertanian Kulonprogo juga secara komprehensif sudah dimitigasi.
Kepala DPP Kulonprogo, Drajat Purbadi menerangkan meningkatnya resiko pertanian dimitigasi dengan berbagai program, seperti Sekolah Lapangan Iklim.
BACA JUGA: DKPP Bantul Klaim 128 Hektare Lahan Terserang Wereng Telah Teratasi
Drajat menerangkan dinasnya terus mendorong petani di wilayahnya untuk meningkatkan pemahaman terkait perubahan iklim yang tengah terjadi. "Karena pemahaman yang valid ini jadi kunci petani dapat beradaptasi dalam perubahan iklim yang terjadi," tuturnya.
Peningkatan pemahaman perubahan iklim kepada petani, sambung Drajat, terutama dilakukan petugas pendamping lapangan DPP Kulonprogo. "Petugas pendamping lapangan kami yang sehari-hari membersamai petani juga terus mendorong adaptasi perubahan iklim, terutama dengan memanfaatkan sumber-sumber organik dalam budidaya pertanian.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menghadapi pasangan India pada final Thailand Open 2026 setelah tampil impresif tanpa kehilangan gim.
Primbon Jawa menyebut Minggu Wage menjadi hari pantangan bagi weton Kamis Legi dan Kamis Pahing untuk acara penting.
Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional, Hari Hipertensi Sedunia, dan Hari Telekomunikasi Sedunia. Berikut maknanya.
Beragam acara seru digelar di Jogja Minggu 17 Mei 2026, mulai wisata budaya, pameran seni, pesta buku hingga expo kendaraan listrik.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.