Generasi Muda Papua Diminta Sampaikan Kabar Inspiratif Lewat Jurnalisme Warga

Media Digital
Media Digital Kamis, 08 Agustus 2024 06:27 WIB
Generasi Muda Papua Diminta Sampaikan Kabar Inspiratif Lewat Jurnalisme Warga

Forum Diskusi Publik Kunjungan Jurnalistik 2024 bertema Citizen Journalism untuk Generasi Muda di Papua Youth Creative Hub Jayapura, di Jayapura, Papua, pada Rabu (7/8/2024). /Istimewa.

Harianjogja.com, JAYAPURA—Generasi muda Papua diharapkan bisa menyampaikan hal-hal positif dan inspiratif terkait Bumi Cendrawasih melalui jurnalisme warga.

Media sosial dapat diisi dengan konten yang menghibur, informatif dan membangun optimisme masyarakat. Hal itu mengemuka dalam Forum Diskusi Publik Kunjungan Jurnalistik 2024 bertema Citizen Journalism untuk Generasi Muda di Papua Youth Creative Hub Jayapura, di Jayapura, Papua, pada Rabu (7/8/2024).

Forum ini dihadiri setidaknya oleh 200 mahasiswa dan komunitas yang aktif di Jayapura juga menghadirkan narasumber dosen Universitas Cendrawasih Profesor Avelinus Lefaan, Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono, Kepala Biro Jakarta Pikiran Rakyat, Aldiro Syahria dan editor regional Kompas.com Teuku Muhammad Valdy Arief.

BACA JUGA : Belajar Pengelolaan Media Massa, Puluhan Mahasiswa Bengkel Jurnalistik USD Datangi Harian Jogja

Forum diskusi publik ini dimulai dari gagasan terkit media sosial dan upaya melawan hoaks. Anton Wahyu mengatakan media sosial maupun media massa sama-sama terbentur dengan aturan, namun yang pasti harus berhati-hati.

Menurutnya di media sosial, pengguna harus berhati-hati dalam menyebarkan informasi bukan asal cepat. Adapun media massa dalam menyiarkan berita juga ada aturan yang harus dipenuhi.

"Misalnya tidak boleh menayangkan aktivitas merokok, korban perkosaan, dan visualisasi berdarah. Selain itu juga ada pedoman khusus menulis terkait tema tertentu seperti bunuh diri, terorisme, dan disabilitas. Di citizen journalism atau jurnalistik warga hal ini longgar tetapi batasannya adalah UU ITE," katanya dalam diskusi tersebut.

Masyarakat juga diminta untuk bijak bermedia sosial. "Harus jadi salah satu yang tidak menyebarkan hoaks karena efeknya luar biasa, bisa menyebabkan baku hantam, tertipu, rumah dibakar, ini yang tidak diharapkan, jangan jadi bagian penyebar hoaks," imbau Anton.

Adapun Teuku Muhammad Valdy Arief mengatakan media sosial justru banyak membantu dalam penyampaian masalah. Tugas jurnalistik wartawan sering lali terbantu mendapatkan informasi lebih cepat meskipun tidak melulu lengkap. "Seringkali standar kebutuhan menulis berita 5W+1H tidak lengkap dalam sebuah postingan media sosial, namun harus ada kerja sama yang baik, saling melengkapi informasi," katanya.

Kerja sama yang baik antara pengguna media sosial dan media massa dibahas oleh Prof Dr Lefaan. Menurutnya media sosial terutama TikTok bisa menjadi media edukasi sekaligus evaluasi bahkan untuk diri sendiri.

Aldiro menitikberatkan pada manfaat media sosial yang bisa dimaksimalkan untuk menggaungkan sebuah isu. "Bandung terutama, semakin dikenal menjadi kota yang kreativitasnya luar biasa, dengan media sosial kreativitas ini bisa dikenal lebih luas," kata Aldiro.

Kekuatan Medsos

Anton menilai medsos memiliki kekuatan luar biasa. Ia mencontohkan kndisi jalan rusak di Lampung yang viral karena Tiktoker, Bima Yudho menyebut jalan Dajjal juga mendapatkan respons yang positif dari pemerintah. "Ini adalah jurnalisme warga, masyarakat mendapatkan informasi meskipun mengkritik, setelah ramai di media sosial, Presiden Jokowi datang dan diperintahkan untuk pembangunan jalan, Jika tidak ada citizen journalism mungkin aspirasi ini tidak akan sampai ke pemerintah," kata Anton.

BACA JUGA : Tambah Wawasan tentang Media Massa, Santri Ponpes Al-Luqmaniyyah Kunjungi Harian Jogja

Verifikasi dan Validasi

Jika selama ini dikenal dengan istilah mulutmu harimaumu, di era digital ini masyarakat harus berhati-hati menggunakan jempol untuk mengunggah sesuatu di media sosial. "Bisa kena pasal pidana, sampaikan sesuatu yang positif. Saya kira di Papua banyak hal positif, terutama hal kreatif, saatnya kita menunjukkan melalui medsos."

Media sosial menurutnya bahkan bisa menjadi ancaman jika citizen journalism mampu melakukan disiplin verifikasi agar tidak memberi informasi yang salah. Namun hal itu ditepis oleh Valdy yang mengatakan hal ini bukan ancaman.

"Saya tidak melihat ini ancaman, media harus memvalidasi informasi dengan cover both side. Sedangkan citizen journalism itu spontan, peristiwa, kini masanya mencari relevansi. Dulu media bisa bentuk opini, kini influencer yang bentuk opini. Nah justru harus saling melengkapi. Masukan dan kritik dari masyarakat perlu diperhatikan." ucapnya.

Profesor Lefaan menyatakan masyarakat sebaiknya menyederhanakan pikiran. Menurutnya media sosial harus bisa digunakan untuk memanusiakan manusia. "Media sosial mempercepat kita memecahkan masalah. Di sini media menjadi efisien, tapi harus memanusiakan manusianya. Semakin banyak masyarakat Papua bikin konten TikTok yang postif untuk kepentingan kita."

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online