Masyarakat Jangan Mudah Termakan Hoaks di Era Banjir Informasi
Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu memilah informasi dan terhindar dari hoaks.
Kabid Kualitas Hidup Perempuan DP3AP2 DIY, Rofiqoh Widiastuti dan anggota DPRD DIY, Muhammad Syafii, dalam talkshow Konflik Mertua dan Menantu Perempuan, yang disiarkan langsung di Starjogja FM, Jumat (18/10/2024)./Lugas Subarkah
JOGJA—Dalam keluarga baru tak jarang terjadi konflik antara suami dan istri yang seringnya disebabkan relasi dan komunikasi yang tidak sehat melibatkan orang tua suami. Dalam hal ini suami harus mampu menjadi penengah untuk meminimalkan konflik.
Hal ini disampaikan oleh Kabid Kualitas Hidup Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Rofiqoh Widiastuti, dalam gelar wicara bertajuk Konflik Mertua dan Menantu Perempuan, yang disiarkan langsung Starjogja FM, Jumat (18/10/2024).
Berdasarkan survei Kompas, 60% konflik pada keluarga baru terjadi antara mertua dan menanntu perempuan. “Ini penting karena berhubungan dengan cara melihat perempuan dalam rumah tangga. Ini ada perebutan otoritas wilayah,” ujarnya.
Menurutnya, laki-laki dibesarkan dalam pengasuhan ibunya untuk menjadi tulang punggun keluarga. Ibu berharap anak lakinya membantu meningkatkan ekonomi keluarga. Sementara istrinya mengharapkan laki-lakui menjadi kepala keluarga yang menfakahi keluarga barunya.
“Kita meletakkan laki-laki sebagai aset bertumpu ekonomi. Beda kalau kita tempatkan anak sebagai amanah. Ekspektasi kepada anak laki-laki tidak jadi tumpuan. Ekspektasinya membesarkan laki-lakilaki bertanggung jawab lepada keluarganya,” katanya.
Perempuan yang dibawa oleh suaminya ke dalam keluarga suami juga biasanya mendapatkan tekanan karena menjadi orang baru dalam keluarga tersebut dengan tuntutan yang cukup besar yakni dalam mengurus rumah tangga, pengasuhan anak dan sebagainya.
Dalam posisi itu, istri biasanya membutuhkan rasa aman yang perlu diberikan oleh suami. “Yang menjadi penyambung kedua pihak adalah suami. Dia harus mampu jadi penyeimbang kedua pihak. Istri butuh rasa aman. Ketika tidak bisa diberikan suami, maka konflik memuncak,” kata dia.
Dalam menjalankan perannya sebagai penengah, suami harus bisa mendinginkan suasana ketika terjadi konflik antara istri dengan ibunya. “Kuncinya selain komunikasi, mampu terbangun rasa aman di antara mereka. Jangan pernah masing-masing diaalahkan. Yang dibutuhkan adalah ngademke,” paparnya.
Anggota DPRD DIY, Muhammad Syafii, menuturkan yang krusial di dalam pola hubungan suami-istri baru adalah mebyiapkan bekal finansial dan psikologis. Karena menurutnya, dalam pernikahan di Indonesia, tidak hanya menyatukan dua orang saja, namun dua keluarga.
“Menyatukan dua keluarga besar yang ada, sementara dalam keluarga inti saja tak terhindarkan adanya benturan. Misal tinggal dimana, menjadi pilihan masing-masing harus siap. Kalau di tempat peremuan, laki-laki harus siapkan keluarga kecilnya masuk di keluarga istrinya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu memilah informasi dan terhindar dari hoaks.
Tren baju murah untuk foto liburan merebak di kalangan turis China. Pakaian lalu dibuang atau dijual kembali dan memicu isu limbah tekstil.
Power window mobil seret bisa disebabkan debu hingga karet aus. Kenali penyebab dan cara mengatasinya dengan silicone spray.
Nguyen Xuan Son cedera hamstring dan absen 4-6 pekan. Striker Vietnam itu harus mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026
Cek harga emas Antam, Galeri24 dan UBS di Pegadaian beserta harga buyback dalam berbagai ukuran, dari 0,5 gram hingga 1.000 gram.
Kata oke ternyata punya sejarah sejak 1839. Istilah OK pertama kali tercatat di Boston Morning Post sebagai singkatan jenaka.