Jelang Jatuh Tempo, PBB Gunungkidul Baru Terkumpul Rp21,7 Miliar
PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp21,7 miliar menjelang jatuh tempo 30 September 2026. Wajib pajak diminta segera membayar agar terhindar denda.
Seorang pengunjung membeli durian dalam acara Pasar Durian Runtuh yang berlangsung di Parkiran HeHa Sky View di Kapanewon Patuk. Rabu (12/2/2025)./ Harian Jogja - David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Keberadaan durian asli Gunungkidul Kencono Rukmi mulai tersisih dengan varietas lainnya. Diduga durian lokal ini kurang diminati petani karena harga jual yang lebih murah ketimbang varietas seperti monthong, bawor hingga duri hitam.
Lurah Nglanggeran, Patuk, Widada mengatakan, daerahnya merupakan salah satu sentra penghasil durian di Kapanewon Patuk, Gunungkidul. Jenis yang ditanam bervariasi mulai dari varietas lokal semodel Kencono Rukmi hingga yang sedang ngetren saat sekarang, Duri Hitam.
Meski demikian, ia mengakui, untuk jenis lokal Kencono Rukmi mulai tersisih. Hal ini dikarenakan, petani memilih varietas lain yang dinilai lebih prospektif dari sisi bisnis.
“Ada beberapa pohon [Kencono Rukmi] milik petani yang berbuah, tapi tidak banyak. Memang keberadaanya sudah kalah dengan varietas lain,” kata Widada, Ahad (23/2/2025).
Ia menduga, durian jenis Kencono Rukmi kurang dilirik petani karena harga jual yang rendah. Widada menuturkan, untuk jenis lain seperti Duri Hitam per kilonya bisa dihargai Rp350.000.
Hal yang sama untuk jenis Bawor yang bisa mencapai lebih dari Rp100.000 per kilogram. Sedangkan Kencono Rukmi dijual per buah dengan harga ditentukan dengan ukuran besar atau kecil.
“Inilah yang menjadi salah satu alasan petani memilih membudidayakan durian varietas unggul, ketimbang yang lokal asli Gunungkidul,” ungkapnya.
BACA JUGA: Maret Jadi Puncak Panen Raya Padi di Gunungkidul
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Ketua Kelompok Tani Kencono Mukti Embung Nglanggeran, Sudiyono mengatakan, durian Kencono Rukmi dengan harga Rp100.000 per buah sudah mahal dan ukurannya sudah besar. Rata-rata durian lokal ini dipasarkan di kisaran Rp50.000-75.000 per butirnya.
“Kalau budidayanya, Kencono Rukmi menyebar di perkarangan warga. Sedangkan varietas lain terpusat, contohnya di kawasan Embung Nglanggeran ada jenis Monthong dan Bawor,” katanya.
Menurut dia, harga jual menjadi faktor utama alasan petani tidak lagi mengembangkan durian lokal Gunungkidul. Di sisi lain, dari sisi perawatan tidak berbeda jauh dengan varietas durian unggul sehingga lebih memilih menanam jenis lain seperti Duri Hitam, Bawor dan lainnya.
“Tanaman durian memiliki cara perawatan yang sama, meski beda varietasnya. Mungkin inilah yang membuat petani lebih mengembangkan durian varietas unggulan karena keuntungan yang diperoleh juga lebih banyak,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp21,7 miliar menjelang jatuh tempo 30 September 2026. Wajib pajak diminta segera membayar agar terhindar denda.
Klasemen Asian Games 2026 berubah setelah Nurisa Dian meraih emas. Indonesia kini mengoleksi 5 emas, 7 perak, dan 20 perunggu.
Gejala influenza A meliputi demam, batuk, lelah, nyeri tubuh hingga sakit tenggorokan. Kenali tanda bahaya dan kapan perlu ke dokter.
Indonesia menghadapi Bangladesh pada laga penentu. Simak syarat Garuda lolos final dan proyeksi poin ranking FIFA jika menang.
Nurisa Dian Ashrifah meraih emas kelima Indonesia di Asian Games 2026 setelah mengalahkan Amaya Amparo 139-137.
America.gov jadi chatbot AI pemerintah AS untuk mencari informasi federal. Simak fitur, Gemini-Grok, rencana layanan dan privasinya.