KONI DIY Bangun Simpalawa, Data Atlet Kini Serba Digital
KONI DIY mengembangkan aplikasi Simpalawa untuk pengelolaan data atlet, pelatih, dan wasit berbasis digital di DIY.
Suasana gerai penjualan pupuk di salah satu Koperasi Unit Desa (KUD) Bantul belum lama ini. Pemerintah menerbitkan aturan baru tentang penyaluran pupuk yang kini dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih.
Harianjogja.com, Bantul – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul siap mengawal proses distribusi pupuk dari swasta ke Koperasi Desa Merah Putih.
Sebagai informasi, Pemerintah mulai mengalihkan sistem penyaluran pupuk dari distributor swasta ke koperasi tingkat desa, menyusul terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 6/2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi. Perubahan ini dilakukan untuk menyederhanakan sistem distribusi agar lebih efisien, transparan, dan tepat sasaran.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo mengatakan, sistem baru ini bukan kewenangan langsung pihaknya, melainkan dikendalikan oleh PT Pupuk Indonesia.
“Kami hanya sebatas mengawal, pelaksana dan kebijakannya ada di PT Pupuk Indonesia. Penyaluran nanti akan melibatkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai pihak penyalur ke petani,” ujarnya, Rabu (30/7/2025).
BACA JUGA: Kembangkan Bukit Dermo, Pemkab Bantul Alokasikan Anggaran Rp1,5 Miliar
Sebelumnya, di Bantul pupuk disalurkan dari pengecer ke kelompok tani. Dalam skema baru, koperasi akan mengambil alih sebagian peran tersebut. Meski begitu, penyaluran oleh distributor swasta tidak dihapus sepenuhnya.
Lurah Bangunharjo, Nur Hidayat menjelaskan, di wilayahnya penyaluran pupuk kini terbagi dua: sebagian tetap melalui distributor, sebagian lagi melalui koperasi desa.
“Kuotanya dibagi, misalnya dari 200 ton pupuk per tahun, 100 ton untuk distributor dan 100 ton untuk koperasi. Jadi bukan menggantikan, tapi berdampingan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa harga pupuk yang dijual melalui koperasi tetap mengikuti ketentuan pemerintah, termasuk harga eceran tertinggi. “Harga pupuk juga sudah ada patokannya. Yang non-subsidi juga tersedia, termasuk pupuk organik,” jelasnya.
Namun, Nur Hidayat mengakui bahwa antusiasme warga untuk membeli pupuk di koperasi desa masih belum tinggi. “Karena sistemnya belum berjalan penuh. Baru beberapa komoditas seperti pupuk dan gas yang masuk, itu pun belum lengkap,” ungkapnya.
Pemerintah berharap sistem baru ini dapat memperkuat peran koperasi desa dalam rantai distribusi pupuk bersubsidi, sekaligus memastikan subsidi tepat sasaran sesuai data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KONI DIY mengembangkan aplikasi Simpalawa untuk pengelolaan data atlet, pelatih, dan wasit berbasis digital di DIY.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.