Jogja Tuan Rumah Kongres HIMPSI 2026, Ini Agendanya
Jogja jadi tuan rumah Kongres XV HIMPSI 2026. Bahas kesehatan mental, SDM, hingga ketangguhan bangsa di era global.
Sungai tercemar. - Foto ilustrasi dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, BANTUL—Upaya pemulihan Sungai Belik di wilayah Pandes, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret mulai dilakukan setelah kasus kematian ikan massal akibat pencemaran berat mengguncang warga beberapa waktu lalu. Pemerintah bersama pengelola IPAL komunal kini menebar ribuan benih ikan lokal untuk memulihkan ekosistem sungai yang terdampak limbah.
Langkah pemulihan dilakukan di tengah hasil uji laboratorium yang menunjukkan kondisi kualitas air Sungai Belik masih berada pada tingkat pencemaran berat dengan sejumlah indikator jauh melampaui ambang batas aman lingkungan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Istriyani mengatakan koordinasi lintas instansi telah dilakukan untuk menentukan langkah pemulihan ekosistem setelah dugaan pencemaran dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Menurut dia, salah satu langkah awal yang disepakati ialah restocking atau penebaran benih ikan lokal di aliran Sungai Belik.
Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) IPAL Komunal Grojogan disebut telah menebar sebanyak 7.000 ekor ikan nilem berukuran 7–8 sentimeter, 3.300 ekor ikan tawes, dan 100 ekor ikan sidat.
“Masih akan ada restocking lanjutan dalam dua sampai tiga bulan ke depan dengan jumlah ikan yang disesuaikan melalui perhitungan konversi banyak ikan per meter kubik pada kondisi perairan tercemar berat,” katanya, Jumat (8/5/2026).
Selain menebar ikan, pemerintah juga mulai mengevaluasi kualitas air Sungai Belik yang sebelumnya dipenuhi bangkai ikan akibat pencemaran organik berat.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, Fenty Yusdayati mengungkapkan hasil uji laboratorium menunjukkan sebagian besar parameter pencemaran berada di atas ambang batas.
Dari sembilan indikator yang diuji, hanya tiga parameter yang masih dalam kondisi normal, yakni pH air sebesar 7,8 mg/L, nitrat sebagai N sebesar 6,48 mg/L, dan deterjen 0,63 mg/L.
Namun sejumlah indikator utama pencemaran seperti Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), fosfat, dan amonia tercatat sangat tinggi.
“Nilai BOD mencapai 4.215,3 mg/L sementara COD sebesar 15.012,5 mg/L. Nilai ini sangat ekstrem dan mengindikasikan tingkat pencemaran organik yang sangat berat,” ujarnya.
Tingginya angka BOD dan COD menunjukkan kandungan limbah organik di Sungai Belik berada dalam kondisi serius yang dapat mengganggu kehidupan biota air dan kualitas lingkungan sekitar sungai.
Sebagai tindak lanjut, DLH Bantul merekomendasikan monitoring kualitas air secara rutin setiap tiga bulan.
Selain itu, pengambilan sampel ulang dari outlet IPAL dan DAM Pandes juga akan dilakukan untuk memastikan sumber pencemaran dapat dikendalikan.
Pemerintah juga meminta perbaikan IPAL komunal, terutama pada bagian bak kontrol yang dinilai perlu dibenahi agar limbah tidak kembali mencemari aliran sungai.
“Selain itu, sosialisasi kepada pengguna IPAL komunal juga akan kami lakukan agar limbah yang dibuang ke saluran pengolahan tidak kembali memicu pencemaran sungai,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja jadi tuan rumah Kongres XV HIMPSI 2026. Bahas kesehatan mental, SDM, hingga ketangguhan bangsa di era global.
Bahasa Inggris akan jadi pelajaran wajib SD mulai 2027. Pemerintah siapkan pelatihan guru dan strategi peningkatan mutu pendidikan.
Leo/Daniel juara Thailand Open 2026 usai kalahkan pasangan India. Kemenangan ini jadi momentum menuju Olimpiade 2028.
Ratusan warga Seloharjo Bantul menolak mantan dukuh kembali menjabat. Gugatan ke PTUN picu aksi dan pemasangan spanduk protes.
Presiden Prabowo beli sapi Brahman 1,2 ton dari Boyolali untuk kurban Iduladha 2026. Simak daftar sapi pilihan dari berbagai daerah.
Kinerja perbankan nasional tetap kuat di tengah tekanan global. Kredit tumbuh 9,49% dan bank BUMN jadi penopang utama ekonomi.