Penjualan Motor Listrik di Jogja Naik, Sleman Jadi Pasar Terbesar

Yosef Leon
Yosef Leon Jum'at, 15 Mei 2026 03:17 WIB
Penjualan Motor Listrik di Jogja Naik, Sleman Jadi Pasar Terbesar

Penampakan motor listrik keluaran Indomobil Emotor yang diluncurkan di Pakuwon Mall, Kamis (14/5/2026). Harian Jogja-Yosef Leob.

Harianjogja.com, JOGJA—Pasar motor listrik di DIY dinilai terus berkembang pesat seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan hemat energi dan biaya operasional yang lebih murah. Indomobil eMotor bahkan mencatat penjualan nasional hampir menyentuh 20.000 unit sejak resmi diluncurkan sekitar satu tahun terakhir.

DIY disebut menjadi salah satu daerah dengan potensi pasar motor listrik terbesar di Indonesia. Tingginya populasi penduduk, banyaknya mahasiswa, serta meningkatnya kesadaran penggunaan kendaraan ramah lingkungan menjadi faktor utama pertumbuhan pasar tersebut.

CEO Indomobil eMotor, Pius Wirawan, mengatakan penjualan motor listrik di Jogja menunjukkan tren positif dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan, satu showroom di Jogja mampu mencatat penjualan hampir 200 unit hanya dalam waktu sebulan.

“Jogja ini market-nya besar banget. Bulan lalu saja satu showroom hampir 200 unit. Karena itu kami sedang mengembangkan jaringan di Jogja sekaligus memperbanyak aktivitas pameran dan kolaborasi dengan komunitas maupun organisasi pemuda,” katanya, Kamis (14/5/2026).

Menurut Pius, karakteristik Jogja sebagai kota pelajar membuat kendaraan listrik semakin diminati, terutama karena biaya penggunaan yang lebih hemat dibanding sepeda motor konvensional berbahan bakar minyak.

Saat ini, Indomobil eMotor memiliki empat lini produk utama, yakni Adora, Tyranno, Sprinto, serta QT dan QT Pro yang menyasar kebutuhan pengguna berbeda-beda.

Sementara itu, Presiden Direktur Sumber Baru Group, Hendra Kurniawan, menyebut penjualan sepeda motor di wilayah Jogja rata-rata mencapai 6.000 hingga 7.000 unit per bulan.

Dari total penjualan tersebut, pihaknya menargetkan kendaraan motor listrik dapat mengambil pangsa pasar sekitar 10 persen atau lebih dari 600 unit setiap bulan.

“Kalau bisa ambil 10 persen saja sudah sekitar 600 unit lebih per bulan. Itu target kami,” ujarnya.

Hendra menilai keberadaan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat beralih ke motor listrik.

Selain itu, biaya operasional kendaraan listrik juga dinilai jauh lebih murah dibanding motor berbahan bakar bensin. Menurut dia, pengeluaran bahan bakar yang biasanya mencapai sekitar Rp500.000 per bulan dapat ditekan menjadi sekitar Rp100.000 jika menggunakan motor listrik.

Biaya perawatan atau servis kendaraan listrik juga diklaim lebih hemat hingga 70 persen dibanding motor konvensional karena komponen mesin yang lebih sederhana.

Hendra menambahkan wilayah Sleman saat ini masih menjadi pasar terbesar kendaraan di DIY karena tingginya jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat.

Segmen pelajar dan mahasiswa disebut menjadi target potensial pasar motor listrik di Jogja mengingat harga kendaraan yang relatif terjangkau, yakni mulai Rp15 juta hingga Rp19 juta per unit.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online