130 Warga Sleman Keracunan Usai Hajatan, Ini Hasil Uji Laboratoriumnya

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Sabtu, 16 Mei 2026 12:57 WIB
130 Warga Sleman Keracunan Usai Hajatan, Ini Hasil Uji Laboratoriumnya

Foto ilustrasi sakit perut/keracunan. - Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman merilis hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menjadi penyebab kasus keracunan massal di Padukuhan Toragan, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian tersebut mengarah pada foodborne outbreak atau kejadian luar biasa akibat makanan terkontaminasi.

Foodborne outbreak sendiri merupakan kondisi ketika dua orang atau lebih mengalami gejala penyakit serupa setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang sama yang telah terkontaminasi bakteri, virus, parasit, atau racun selama proses pengolahan maupun penyajian.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, menjelaskan bahwa hasil investigasi epidemiologi menunjukkan adanya indikasi kuat keterkaitan kasus dengan kontaminasi bakteri.

“Secara epidemiologis, sambal goreng krecek dan ati ampela, merupakan menu dengan asosiasi paling kuat terhadap kejadian sakit,” kata Yuliati, Jumat (15/5/2026).

Ia menambahkan, hasil uji juga mengarah pada dugaan kontaminasi bakteri Salmonella spp. dengan kemungkinan adanya kontaminasi campuran oleh Bacillus cereus. Temuan ini diperkuat oleh pola gejala yang dialami para korban serta kondisi makanan yang dikonsumsi.

Menurut Yuliati, sejumlah faktor turut memperkuat kesimpulan tersebut, di antaranya perubahan kualitas makanan yang sudah berbau dan cenderung asam, serta proses penyimpanan makanan matang yang terlalu lama pada suhu ruang.

Penggunaan santan dalam hidangan juga diduga mempercepat perubahan rasa dan kondisi makanan. Selain itu, praktik higiene dan sanitasi saat pengolahan makanan dinilai belum optimal sehingga berpotensi memicu kontaminasi.

Meski sempat menimbulkan kepanikan, seluruh pasien yang terdampak kini telah dinyatakan pulih. Sebagian sempat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan sebelum akhirnya dipulangkan. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini.

“Sepertinya pasien paling akhir yang pulang dari rumah sakit itu yang sempat dirawat di RS PKU Sleman,” ujarnya.

Terkait pembiayaan pengobatan, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Sosial memastikan akan menanggung seluruh biaya perawatan pasien melalui skema Jaring Pengaman Sosial (JPS).

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Sleman, Sarastomo Ari Saptomo, mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan Dinkes Sleman untuk proses verifikasi data dan tagihan.

“Sekarang kami masih berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sleman. Kami belum tahu berapa nominal yang harus kami bayar. Biasanya nanti tagihan dikumpulkan lewat Dinkes. Setelah diverifikasi, pencairan JPS baru bisa dilakukan,” kata Ari.

Diketahui, kasus keracunan ini bermula dari kegiatan pamitan haji yang digelar pada Minggu (3/5/2026). Acara tersebut dihadiri ratusan tamu undangan dari lingkungan sekitar dan keluarga.

Sebanyak 250 porsi makanan disiapkan untuk acara tersebut, dengan sekitar 130 orang tercatat mengonsumsi makanan di lokasi. Gejala mulai dirasakan beberapa jam setelah acara berlangsung.

Salah satu anggota keluarga penyelenggara, Nayuku Bramantyo, sebelumnya mengaku mulai mengalami gejala seperti diare dan demam pada malam hari setelah acara digelar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online