Ribuan Siswa di Bantul Jalani MPLS Ramah Tanpa Perundungan
Ratusan sekolah di Bantul menggelar MPLS 2026 dengan konsep ramah, bebas perpeloncoan, perundungan, dan kekerasan sesuai Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026.
Beragam koleksi mejeng di Museum Gerabah Kasongan yang berlokasi di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Kamis (13/11/2025). Selain gerabah, museum ini juga menyimpan sejumlah karya seni berupa patung dan kerajinan kriya.
Harianjogja.com, BANTUL— Kabupaten Bantul menyimpan potensi besar di sektor wisata edukasi sejarah di wilayahnya. Melalui keberadaan 17 museum dengan beragam tema, daerah ini dinilai memiliki peluang kuat menjadi destinasi edukatif dan budaya unggulan di DIY.
Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Bantul, Devi Puspitasari mengatakan, potensi wisata sejarah dan museum di Bantul cukup beragam, mulai dari tema budaya, sejarah, hingga ilmu pengetahuan.
“Total ada 17 museum di Bantul yang bisa dikunjungi. Koleksinya beragam, mulai dari peninggalan sejarah dan tokoh, hingga karya seni dan pengetahuan,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Devi mencontohkan sejumlah museum bertema sejarah dan tokoh di antaranya Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, Museum Taman Tino Sidin, Museum Rumah Garuda, Museum Bantul Masa Belanda, dan Museum Muhammadiyah.
Sementara untuk tema seni budaya ada Museum Wayang Kekayon, Museum Wayang Beber Sekartaji, serta Museum dan Galeri Keris Sanggar Keris Mataram (SKM).
Selain itu, museum bertema ilmu pengetahuan juga tersebar di wilayah Bantul seperti Museum Gumuk Pasir PGSP, Museum Tani Jawa Indonesia, dan Museum & Factory Chocolate Monggo.
“Kalau dilihat dari ragamnya, potensi wisata sejarah dan budaya di Bantul sebenarnya luar biasa, hanya saja data kunjungan masih fluktuatif, rata-rata baru ratusan orang per bulan,” kata Devi.
Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Yunatun Yunadiana menyebut, untuk meningkatkan minat masyarakat, terutama generasi muda, pihaknya sejak 2016 menggelar program Wajib Kunjung Museum (WKM). Agenda ini bertujuan mengenalkan sekaligus mempromosikan museum-museum yang tergabung dalam Forum Komunikasi Museum Bantul.
“Melalui WKM kami ingin menjadikan museum sebagai media edukasi yang menarik. Kami melibatkan pelajar, guru, masyarakat, dan komunitas agar semakin mengenal sejarah dan budaya lokal,” jelasnya.
Yanutun berharap, kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan angka kunjungan tetapi juga menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan sejarah dan budaya Bantul.
“Kami ingin ada kunjungan berulang, bukan hanya sekali datang lalu lupa. Museum harus menjadi bagian dari gaya hidup edukatif masyarakat Bantul,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ratusan sekolah di Bantul menggelar MPLS 2026 dengan konsep ramah, bebas perpeloncoan, perundungan, dan kekerasan sesuai Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026.
KPK menyebut tingginya biaya politik menjadi salah satu faktor risiko korupsi kepala daerah. Sebanyak 15 kepala daerah hasil Pilkada 2024 telah menjadi tersangk
Cak Imin meresmikan Sigap Bangsa, organisasi penanggulangan bencana bentukan PKB yang telah melatih 250 relawan tanggap bencana.
Dishub DIY kembali menggelar program becak listrik gratis keliling Malioboro pada 21 Juli 2026. Berikut jadwal, lokasi, dan cara mengikutinya.
IRGC mengklaim meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania dan Kuwait sebagai balasan atas serangan AS.
Jumog River Tubing resmi beroperasi di Karanganyar. Wisatawan bisa menyusuri sungai 800 meter selama 20 menit dengan tiket Rp25.000.