Bantul Kucurkan Rp2,17 Miliar untuk Perbaikan 89 Rumah Tak Layak Huni
Pemkab Bantul mengalokasikan Rp2,17 miliar untuk memperbaiki 89 rumah tidak layak huni pada 2026 yang tersebar di tujuh kapanewon.
Beragam koleksi mejeng di Museum Gerabah Kasongan yang berlokasi di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Kamis (13/11/2025). Selain gerabah, museum ini juga menyimpan sejumlah karya seni berupa patung dan kerajinan kriya.
Harianjogja.com, BANTUL— Kabupaten Bantul menyimpan potensi besar di sektor wisata edukasi sejarah di wilayahnya. Melalui keberadaan 17 museum dengan beragam tema, daerah ini dinilai memiliki peluang kuat menjadi destinasi edukatif dan budaya unggulan di DIY.
Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Bantul, Devi Puspitasari mengatakan, potensi wisata sejarah dan museum di Bantul cukup beragam, mulai dari tema budaya, sejarah, hingga ilmu pengetahuan.
“Total ada 17 museum di Bantul yang bisa dikunjungi. Koleksinya beragam, mulai dari peninggalan sejarah dan tokoh, hingga karya seni dan pengetahuan,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Devi mencontohkan sejumlah museum bertema sejarah dan tokoh di antaranya Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, Museum Taman Tino Sidin, Museum Rumah Garuda, Museum Bantul Masa Belanda, dan Museum Muhammadiyah.
Sementara untuk tema seni budaya ada Museum Wayang Kekayon, Museum Wayang Beber Sekartaji, serta Museum dan Galeri Keris Sanggar Keris Mataram (SKM).
Selain itu, museum bertema ilmu pengetahuan juga tersebar di wilayah Bantul seperti Museum Gumuk Pasir PGSP, Museum Tani Jawa Indonesia, dan Museum & Factory Chocolate Monggo.
“Kalau dilihat dari ragamnya, potensi wisata sejarah dan budaya di Bantul sebenarnya luar biasa, hanya saja data kunjungan masih fluktuatif, rata-rata baru ratusan orang per bulan,” kata Devi.
Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Yunatun Yunadiana menyebut, untuk meningkatkan minat masyarakat, terutama generasi muda, pihaknya sejak 2016 menggelar program Wajib Kunjung Museum (WKM). Agenda ini bertujuan mengenalkan sekaligus mempromosikan museum-museum yang tergabung dalam Forum Komunikasi Museum Bantul.
“Melalui WKM kami ingin menjadikan museum sebagai media edukasi yang menarik. Kami melibatkan pelajar, guru, masyarakat, dan komunitas agar semakin mengenal sejarah dan budaya lokal,” jelasnya.
Yanutun berharap, kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan angka kunjungan tetapi juga menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan sejarah dan budaya Bantul.
“Kami ingin ada kunjungan berulang, bukan hanya sekali datang lalu lupa. Museum harus menjadi bagian dari gaya hidup edukatif masyarakat Bantul,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul mengalokasikan Rp2,17 miliar untuk memperbaiki 89 rumah tidak layak huni pada 2026 yang tersebar di tujuh kapanewon.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Pertamina mempercepat distribusi BBM subsidi di Madura untuk mengurai antrean Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di empat kabupaten.
Australia memperketat larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dengan menaikkan denda hingga Rp1,1 triliun dan memperluas pengawasan.