Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Jembatan Kabanaran, Pandansimo. - ist
Harianjogja.com, JOGJA— Penamaan Jembatan Kabanaran kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pihak mempertanyakan dasar historisnya. Mereka menilai gelar Sunan Kabanaran yang disandang Pangeran Mangkubumi tidak berkaitan dengan lokasi jembatan tersebut. Namun Dinas Kebudayaan DIY menegaskan bahwa pemilihan nama itu didasarkan pada pertimbangan budaya, sejarah, kebahasaan, dan identitas wilayah.
Saat peresmian jembatan pada 19 November lalu, sempat beredar informasi bahwa penamaan “Kabanaran” dipilih karena jembatan tersebut berada di kawasan historis yang diyakini sebagai pusat markas perjuangan Pangeran Mangkubumi atau Sultan HB I di Desa Kabanaran. Toponim itu kini masih tersisa sebagai Kalurahan Banaran.
Namun Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta mempersoalkan narasi tersebut. Mereka menyebut lokasi penobatan Sri Sultan HB I sebagai Sunan Kabanaran berada di Sukawati, Sragen, Jawa Tengah.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan bahwa penamaan Jembatan Kabanaran tidak dimaksudkan untuk menegaskan satu titik sejarah tertentu. “Penamaan ini bukan penegasan atas satu lokasi sejarah tertentu, melainkan penghargaan terhadap perjuangan Pangeran Mangkubumi sebagai Sunan Kabanaran,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).
Dian juga meminta agar polemik lokasi Desa Kabanaran yang berkaitan dengan perjalanan gerilya Pangeran Mangkubumi sebelum Perjanjian Giyanti 1755 tidak diperuncing. Menurut dia, hingga kini tidak ada bukti definitif yang memastikan lokasi penobatan Sunan Kabanaran pada 1749.
“Pada dasarnya tidak ada satu sumber pun yang memiliki kepastian mengenai lokasi Desa Kabanaran tempat penobatan Sunan Kabanaran berada. Lima pustaka yang dirujuk pun memberi persepsi lokasi yang semuanya berbeda,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa para ahli sejarah juga memiliki interpretasi berbeda-beda. Sartono Kartodirdjo menempatkan Kabanaran di barat Kotagede, sementara Raffles menyebut lokasi itu sekitar 10 mil dari pantai selatan Jogja. Ricklefs menulis Kabanaran berada di barat Kota Jogja saat ini. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penetapan lokasi secara pasti memang belum memungkinkan.
“Masalahnya bukan pada kebenaran lokasi peristiwa sejarah, karena semua memiliki persepsi sendiri-sendiri. Yang justru tidak bisa diperdebatkan adalah nilai, makna, dan spirit sejarah dari tokoh Pangeran Mangkubumi sebagai Sunan Kabanaran,” jelasnya.
Dari sisi kebahasaan, Dian menerangkan bahwa kata banar dalam Bausastra Jawa berarti “longgar dan terang”, merujuk pada ruang luas dan terbuka. Dengan imbuhan ka- dan -an, kata kabanaran bermakna tempat yang lapang dan tanpa sekat. Makna ini sejalan dengan fungsi jembatan yang menghubungkan wilayah, memperluas akses, dan menghilangkan batas fisik.
Penamaan ini juga berkaitan dengan memori kolektif masyarakat terhadap perjuangan Pangeran Mangkubumi. Kesamaan nama wilayah Banaran di sisi barat jembatan dinilai relevan sebagai inspirasi, meskipun tidak dimaksudkan sebagai klaim lokasi sejarah.
“Pemilihan nama lebih kepada penghargaan terhadap spirit perjuangan Sunan Kabanaran. Kesamaan nama wilayah menjadi pertimbangan, tetapi tidak berarti pemerintah menetapkan lokasi sejarah secara definitif,” kata Dian.
Secara filosofis, penamaan Jembatan Kabanaran juga dimaknai sebagai simbol persatuan, kesetiaan, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu dinilai penting untuk memperkuat identitas wilayah dan mengingatkan masyarakat pada keteladanan Sunan Kabanaran.
Selain aspek kesejarahan dan kebahasaan, jembatan yang menghubungkan Bantul dan Kulonprogo tersebut berada di koridor pengembangan wilayah selatan DIY. Penamaan dengan karakter lokal diharapkan mampu memperkuat citra kawasan dan menumbuhkan kebanggaan masyarakat di dua kabupaten tersebut.
Dian berharap, pemberian nama ini dapat menjadi sarana edukasi publik. Nama Kabanaran diharapkan menghadirkan kembali nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan kebersamaan sebagaimana keteladanan Sunan Kabanaran, serta menjiwai para pengelola maupun pengguna jembatan ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.
Perdagangan hewan kurban di Bantul naik jelang Iduladha 2026. Kambing paling diminati, omzet pedagang diprediksi melonjak.
Indomobil eMotor hadirkan 4 motor listrik di Jogja. Adora, Tyranno, Sprinto tawarkan fitur modern mulai Rp25 jutaan.