Tenggat PBB-P2 Kian Dekat, Target di Lima Kalurahan Masih Rendah
Lima kalurahan di Kulonprogo masih mencatat realisasi PBB-P2 di bawah 50 persen. BKAD menggencarkan sosialisasi dan pembayaran digital hingga 30 September 2026.
Ilustrasi Tanah longsor di Kulonprogo. /Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO—Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Kulonprogo memicu munculnya sejumlah retakan tanah di lingkungan SD Negeri (SDN) Kokap. Kondisi tersebut dinilai membahayakan karena berpotensi menimbulkan tanah longsor dan menyebabkan pergerakan bangunan sekolah.
Retakan tanah berdampak langsung pada struktur bangunan SDN Kokap. Sejumlah dinding bangunan dilaporkan mengalami keretakan, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan kegiatan belajar mengajar.
“Ada retakan bangunan di dapur sekolah, ruang guru, dan sejumlah ruangan lainnya,” ujar Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulonprogo, Budi Prastawa, Minggu (4/1/2026).
Menurut Budi, kondisi keretakan tanah dan bangunan tersebut baru diketahui pada Jumat (2/1/2026), setelah sehari sebelumnya wilayah Kulonprogo diguyur hujan cukup deras. Lokasi SDN Kokap yang berada di area tidak datar membuat tanah di sekitarnya rawan bergerak, terlebih talud penyangga sekolah juga mengalami retakan.
Pantauan di lapangan menunjukkan halaman sekolah telah mengalami rekahan yang cukup jelas. Kondisi ini dinilai berisiko dan sewaktu-waktu dapat membahayakan guru maupun murid.
“Retakan ini rawan longsor. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo untuk tindak lanjut. Saat ini baru dilakukan penanganan darurat,” lanjut Budi.
Sebagai langkah awal, BPBD bersama pihak sekolah dan wali murid telah melakukan kerja bakti pada Sabtu (3/1/2026). Kegiatan tersebut difokuskan pada pemindahan barang dan aset sekolah yang masih bisa diselamatkan, sekaligus mengatur aliran air hujan agar tidak mengarah langsung ke area retakan.
“Pengelolaan aliran air hujan dilakukan supaya air tidak langsung masuk ke bagian tanah yang retak. Ini untuk mencegah kerusakan yang lebih parah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana SD-SMP Disdikpora Kulonprogo, Gigih Muktitama, menilai kondisi SDN Kokap telah masuk kategori rusak berat. Hal itu ditandai dengan talud penyangga dan lantai bangunan yang sudah merekah.
Disdikpora, kata Gigih, telah meninjau langsung lokasi dan meminta pihak sekolah menyusun proposal perbaikan untuk diajukan ke Pemkab Kulonprogo. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama.
“Saat ini belum ada anggaran untuk pembangunan sekolah tersebut. Perbaikannya juga membutuhkan biaya cukup besar karena tinggi talud yang harus ditangani,” ungkap Gigih.
Ia menyarankan agar ruang-ruang yang dinilai rawan tidak digunakan sementara waktu untuk kegiatan belajar mengajar. Pasalnya, penanganan fisik bangunan SDN Kokap belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.
“APBD 2026 sudah diketok dan penanganan SDN Kokap belum masuk. Kami usulkan di 2027. Mudah-mudahan bisa menjadi prioritas karena masih banyak sekolah lain yang juga membutuhkan penanganan,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lima kalurahan di Kulonprogo masih mencatat realisasi PBB-P2 di bawah 50 persen. BKAD menggencarkan sosialisasi dan pembayaran digital hingga 30 September 2026.
Rupiah ditutup melemah ke Rp18.009 per dolar AS setelah Perry Warjiyo mundur. Pasar menyoroti sentimen geopolitik dan risiko fiskal.
Polresta Banyumas memeriksa sedikitnya 10 saksi untuk mengusut ambruknya tribun VIP Drift Speed Fest yang melukai sekitar 83 penonton.
Galaxy Watch Ultra2, smartwatch yang memadukan fitur pendukung aktivitas luar ruang dengan insight kesehatan berbasis AI melalui Samsung Health.
ESDM menyatakan Indonesia masih bertahan dalam survival mode menghadapi gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.
KAI Daop 6 Jogja masih mencatat 14 pelintasan liar hingga Juli 2026. Delapan titik ditutup tahun ini, total 42 perlintasan ditutup sejak 2023.