Tingkatkan Kunjungan, Pemkot Solo Promosikan Wisata ke Gunungkidul
Pemkot Solo menggelar Solo Travel Dialogue di Gunungkidul untuk memperkuat kolaborasi dan promosi wisata guna meningkatkan kunjungan wisatawan.
Podcast Sinau Sejarah bertema Peristiwa Perjanjian Giyanti, Palihan Nagari: Tumbuhnya Identitas Jogja di kanal Youtube Paniradya Kaistimewan, Jumat (13/2/2026). - ist
JOGJA—Paniradya Kaistimewan DIY menggelar Podcast Sinau Sejarah bertema Peristiwa Perjanjian Giyanti, Palihan Nagari: Tumbuhnya Identitas Jogja, di kanal Youtube Paniradya Kaistimewan, Jumat (13/2/2026). Podcast yang disiarkan dari SMAN 1 Kasihan ini mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih memahami sejarah keistimewaan DIY.
Perjanjian Giyanti ditandatangani pada 1755 di Desa Giyanti atau yang sekarang menjadi Karanganyar, Jawa Tengah. Perjanjian antara VOC, Pakubuwana III, dan Pangeran Mangkubumi ini secara resmi memecah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat di wilayah timur, dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di wilayah barat.
Narasumber yang merupakan sejarawan, Muhammad Lazuardi Krisantya, menjelaskan konteks sejarah perjanjian Giyanti memang tidak lepas dari pengaruh VOC, yang jauh sebelum Perjanjian Giyanti telah melakukan perdagangan tidak adil, intervensi kebijakan, bahkan pertempuran fisik.
“Tahun 1739 adalah masa pemerintahan Pakubuwono II. Waktu itu kratonnya ada di Kartasura. Ibu kotanya di Kartasura. Kemudian di era Pakubuwono II, selama tahun 1726 sampai 1741, adalah era yang stabil, damai. Mengalami perkembangan sastra, politik, perkembangan ekonomi, dan lain-lain. Tapi kemudian tahun 1741 dan 1742, pecah sebuah krisis. Itu disebabkan oleh VOC," katanya.
Sosiolog Alfonsus Mardani menuturkan waktu itu Gubernur Jenderal VOC sampai mempelajari budaya Jawa untuk memperkuat strategi diplomasi dengan Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi, setelah berperang cukup lama.
“Pangeran Mangkubumi juga dikenal sebagai orang yang sangat handal dalam berdiplomasi. Ketika mendapatkan lawan Gubernur Jenderal yang juga menyelami budaya Jawa dan Islam, akhirnya Pangeran Mangkubumi memutuskan untuk menyetujui pelaksanaan Perjanjian Giyanti,” paparnya.
Perjanjian Giyanti mengakhiri konflik internal Mataram akibat politik adu domba VOC dan menandai lahirnya dua kraton besar Jawa yang identitas budaya dan politiknya berbeda hingga kini. Perjanjian ini menjadi salah satu penanda penting sejarah Jogja dan Surakarta.
Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, menjelaskan pentingnya belajar sejarah karena relevan dikaitkan dengan masa kini. “Salah satu yang kita yakini bersama bahwa sejarah itu akan berulang. Apa yang pernah terjadi 500 tahun yang lalu mungkin akan terjadi lagi di sekian tahun yang akan datang. Ini disebut Cakra Manggilingan,” ujarnya.
Maka menurutnya penting bagi generasi muda untuk memahami sejarah, terutama sejarahnya sendiri.
“Ini DNA kita. Ini yang sedang kami pelajari sekarang di Perjanjian Giyanti, merupakan DNA-nya Mataram, DNA-nya Ngayogyakarta Hadiningrat. Inilah yang generasi muda punyai untuk menjadi pemimpin di masa depan,” ungkapnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Solo menggelar Solo Travel Dialogue di Gunungkidul untuk memperkuat kolaborasi dan promosi wisata guna meningkatkan kunjungan wisatawan.
Dokter Yoga Yuniadi meluruskan anggapan obat hipertensi menyebabkan ginjal rusak dan menjelaskan pentingnya menjaga tekanan darah tetap terkendali.
Kuota LPG 3 kg 2027 dipangkas menjadi 8 juta ton. Pemerintah menyiapkan CNG, jargas, dan kompor listrik sebagai energi alternatif.
DPRD Kota Jogja mendorong pencegahan korupsi melalui penguatan sistem, tata kelola transparan, akuntabel, dan budaya integritas.
Polri menetapkan 196 tersangka dari 245 laporan karhutla hingga 28 September 2026. Kasus yang melibatkan korporasi juga terus didalami.
Bulog memastikan Beras Kita Premium dapat digunakan untuk kebutuhan MBG sesuai arahan pemerintah, sementara beras fortifikasi bukan pengganti beras premium.