Gelombang Tinggi, 3 Perahu Nelayan Tenggelam Diterjang Ombak
Tiga perahu nelayan Gunungkidul terbalik dalam kurang dari 24 jam. Tujuh nelayan selamat di tengah gelombang yang naik.
Tugu Selamat Datang Gunungkidul. - ist
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul yang mencakup lebih dari separuh Daerah Istimewa Yogyakarta menyimpan potensi besar untuk pengembangan sektor perkebunan dan hortikultura. Beragam komoditas buah-buahan kini terus dikembangkan di Bumi Handayani sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru masyarakat.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan wilayahnya tidak hanya dikenal sebagai penghasil tanaman pangan seperti padi, jagung, dan singkong. Gunungkidul juga memiliki produksi hortikultura dan buah-buahan yang terus berkembang, mulai dari pisang, mangga, pepaya, durian hingga nangka.
Berdasarkan data panen 2025, pisang tercatat sebagai komoditas buah dengan intensitas panen tertinggi. Dalam setahun, produksi pisang mencapai 130.346,7 kuintal. Posisi berikutnya ditempati mangga dengan produksi 92.624 kuintal, nangka 36.039,7 kuintal, durian 12.184,5 kuintal, serta alpukat sebanyak 9.311,6 kuintal.
“Masih banyak jenis buah lain yang dipanen, seperti jeruk, anggur, buah naga, pepaya, manggis hingga duku. Namun, volumenya belum setinggi pisang, mangga, nangka, atau durian,” ujar Raharjo, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, komoditas buah-buahan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan untuk terus dikembangkan. Selain cocok dengan karakter lahan di Gunungkidul, nilai jualnya juga relatif tinggi sehingga mampu menambah pendapatan masyarakat.
“Karena potensinya besar, pengembangan terus kami dorong. Salah satunya dengan pemberian bantuan bibit kepada masyarakat secara rutin,” katanya.
Sebagai contoh, pada 2025 lalu Dinas Pertanian dan Pangan menyalurkan 1.000 batang bibit nangka kepada masyarakat. Program penanaman tersebut dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Ibu.
“Penanaman difokuskan di kawasan Embung Batara Sriten, Kalurahan Pilangrejo, Kapanewon Nglipar,” jelas Raharjo.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menyebut pengembangan buah-buahan di wilayahnya sudah berjalan cukup masif, baik melalui subsektor perkebunan maupun hortikultura. Salah satu kawasan yang menonjol adalah Kapanewon Patuk yang dikenal sebagai sentra durian di Gunungkidul.
Beragam varietas durian dikembangkan, mulai dari jenis lokal seperti Kencono Rukmi hingga varietas premium seperti Monthong, Bawor, Duri Hitam, dan Musang King.
“Di Patuk juga ada kebun durian yang dikembangkan di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, tepatnya di sekitar Embung Nglanggeran yang juga menjadi destinasi wisata,” kata Rismiyadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tiga perahu nelayan Gunungkidul terbalik dalam kurang dari 24 jam. Tujuh nelayan selamat di tengah gelombang yang naik.
KAI menghadapi persoalan pembebasan lahan dalam pembangunan jalur kereta baru di Sumatra, Kalimantan, dan Bali.
Pelajar di Kota Jogja didorong tak hanya menggunakan hak pilih, tetapi ikut mengawasi kinerja wakil rakyat dan kebijakan pemerintah.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih melantik 80 pejabat baru. Ia menegaskan pengisian jabatan berdasarkan kinerja dan meritokrasi.
Pembatasan Pertalite disiapkan pemerintah dengan mengacu jenis kendaraan. Desil 10 menjadi sasaran utama kebijakan BBM subsidi.
Lebih dari 200 karya custom otomotif meramaikan Indonesian Custom Show (ICS) 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Jumat-Minggu (21-23/8/2026).