SMA dan SMK di Perbatasan Gunungkidul Kekurangan Siswa
Sejumlah SMA dan SMK negeri di wilayah pinggiran Gunungkidul masih kekurangan siswa baru setelah SPMB 2026/2027 selesai diumumkan.
Tugu Selamat Datang Gunungkidul. - ist
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul yang mencakup lebih dari separuh Daerah Istimewa Yogyakarta menyimpan potensi besar untuk pengembangan sektor perkebunan dan hortikultura. Beragam komoditas buah-buahan kini terus dikembangkan di Bumi Handayani sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru masyarakat.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan wilayahnya tidak hanya dikenal sebagai penghasil tanaman pangan seperti padi, jagung, dan singkong. Gunungkidul juga memiliki produksi hortikultura dan buah-buahan yang terus berkembang, mulai dari pisang, mangga, pepaya, durian hingga nangka.
Berdasarkan data panen 2025, pisang tercatat sebagai komoditas buah dengan intensitas panen tertinggi. Dalam setahun, produksi pisang mencapai 130.346,7 kuintal. Posisi berikutnya ditempati mangga dengan produksi 92.624 kuintal, nangka 36.039,7 kuintal, durian 12.184,5 kuintal, serta alpukat sebanyak 9.311,6 kuintal.
“Masih banyak jenis buah lain yang dipanen, seperti jeruk, anggur, buah naga, pepaya, manggis hingga duku. Namun, volumenya belum setinggi pisang, mangga, nangka, atau durian,” ujar Raharjo, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, komoditas buah-buahan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan untuk terus dikembangkan. Selain cocok dengan karakter lahan di Gunungkidul, nilai jualnya juga relatif tinggi sehingga mampu menambah pendapatan masyarakat.
“Karena potensinya besar, pengembangan terus kami dorong. Salah satunya dengan pemberian bantuan bibit kepada masyarakat secara rutin,” katanya.
Sebagai contoh, pada 2025 lalu Dinas Pertanian dan Pangan menyalurkan 1.000 batang bibit nangka kepada masyarakat. Program penanaman tersebut dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Ibu.
“Penanaman difokuskan di kawasan Embung Batara Sriten, Kalurahan Pilangrejo, Kapanewon Nglipar,” jelas Raharjo.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menyebut pengembangan buah-buahan di wilayahnya sudah berjalan cukup masif, baik melalui subsektor perkebunan maupun hortikultura. Salah satu kawasan yang menonjol adalah Kapanewon Patuk yang dikenal sebagai sentra durian di Gunungkidul.
Beragam varietas durian dikembangkan, mulai dari jenis lokal seperti Kencono Rukmi hingga varietas premium seperti Monthong, Bawor, Duri Hitam, dan Musang King.
“Di Patuk juga ada kebun durian yang dikembangkan di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, tepatnya di sekitar Embung Nglanggeran yang juga menjadi destinasi wisata,” kata Rismiyadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sejumlah SMA dan SMK negeri di wilayah pinggiran Gunungkidul masih kekurangan siswa baru setelah SPMB 2026/2027 selesai diumumkan.
Pencarian dua remaja yang hilang di Gunung Bismo, Wonosobo, memasuki hari keenam. Tim gabungan masih menyisir sejumlah jalur.
Hari Pustakawan Nasional diperingati setiap 7 Juli. Simak sejarah, makna, dan peran pustakawan dalam memperkuat literasi di era digital.
Kasus dugaan pencemaran sumur di Mulyodadi, Bantul, diselesaikan melalui mediasi. Yayasan SPPG sepakat memenuhi empat tuntutan warga.
Penembakan di Ohio menewaskan seorang polisi, dua korban, dan tersangka. Dua petugas serta seekor anjing polisi juga mengalami luka.
Pembangunan PJU Sleman 2026 belum dimulai. Dishub masih menunggu hasil review kontrak Kejaksaan sebelum pekerjaan fisik dilaksanakan.