Kasus Kebakaran di Bantul Melonjak, Karhutla Mendominasi selama September
Kasus kebakaran di Bantul mencapai 326 kejadian hingga 21 September 2026. Karhutla melonjak dan menjadi pemicu utama kenaikan kasus.
Penampakan tanah bergerak di perumahan kawasan Padukuhan Guwo RT 03, Triwidadi, Pajangan, Bantul beberapa waktu lalu. Kejadian itu mengakibatkan 19 rumah rusak berat dan satu rumah lainnya roboh. Dokumentasi Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL— Insiden pergerakan tanah kembali terjadi di wilayah Kabupaten Bantul tepatnya di Padukuhan Guwo RT 03, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan. Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya 20 rumah mengalami kerusakan dengan luas area tanah yang bergerak diperkirakan mencapai sekitar satu hektare.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan kejadian itu terjadi pada 26 Februari 2026 setelah hujan mengguyur wilayah tersebut.
Sebanyak 19 rumah dilaporkan mengalami rusak berat, sementara satu rumah roboh sehingga tidak dapat dihuni.
“Penurunan tanah terjadi sekitar kurang lebih 2,5 meter. Total ada delapan KK dengan 22 jiwa yang terdampak,” kata Antoni, Sabtu (7/3/2026).
Warga Diminta Menjauh dari Lokasi
Menurut Antoni, petugas telah melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian dan mengimbau warga agar tidak mendekati area tersebut karena berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan.
BPBD Bantul juga telah mengusulkan kajian lebih lanjut kepada Badan Geologi guna mengetahui penyebab pasti pergerakan tanah.
Selain itu, pihak pengembang perumahan telah menggunakan alat berat untuk membuka saluran air yang sempat menggenang di sekitar kawasan tersebut.
Tanah Kembali Bergerak Pekan Ini
Panewu Pajangan, Anjar Arintaka Putra, menyebut pergerakan tanah di Perumahan Taman Semesta Asri terjadi dua kali.
Selain pada akhir Februari, pada pekan ini tanah di lokasi tersebut kembali mengalami penurunan sekitar lima hingga 10 sentimeter.
“Yang kami khawatirkan itu nanti kalau turunnya berdampak ke rumah yang di bawah, itu bisa berakibat fatal kalau longsornya semua,” ujar Anjar.
Hingga saat ini, warga yang rumahnya terdampak belum mengungsi ke tempat lain. Hal tersebut dilakukan agar mereka dapat segera melaporkan jika terjadi pergerakan tanah lanjutan.
“Sampai sekarang belum ada penanganan, kami hanya menyampaikan ke warga masyarakat yang menempati di situ untuk setiap saat waspada,” katanya.
Karakter Tanah Labil
Anjar menjelaskan karakteristik tanah di kawasan tersebut memang tergolong labil, sehingga rentan mengalami pergerakan.
Menurutnya, sebelum pembangunan perumahan dilakukan, seharusnya dipasang talut atau penahan tanah untuk memperkuat struktur lahan.
“Tanahnya itu tanah kapur, jadi kalau musim kering jadi pecah-pecah, kalau hujan ya larut seperti itu,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kebakaran di Bantul mencapai 326 kejadian hingga 21 September 2026. Karhutla melonjak dan menjadi pemicu utama kenaikan kasus.
Jadwal SIM Keliling Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia di sejumlah lokasi. Cek jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 29 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
Pemilih lintas domisili diminta diatur dalam revisi UU Pemilu, termasuk soal representasi politik bagi warga yang mencoblos jauh dari daerah asal.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengingatkan 87 calon lurah untuk menghindari politik uang menjelang Pilur 2026.
Dua narapidana Lapas Cibinong diperiksa setelah ditemukan Ombudsman di area SAE yang disebut sebagai klaster mewah.