Jepang vs Brasil! Zion Suzuki Pede Hadapi Ujian Berat Piala Dunia
Jepang tanpa kalah di fase grup dan siap hadapi Brasil di 32 besar Piala Dunia 2026. Zion Suzuki tampil percaya diri.
FTI UPN “Veteran” Yogyakarta dan BHMTC meluncurkan Fast Track Technopreneurship untuk mencetak mahasiswa menjadi pengusaha muda berbasis teknologi. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Fakultas Teknologi Industri (FTI) UPN “Veteran” Yogyakarta bersama BHMTC menggelar kick off program Fast Track Technopreneurship sebagai upaya memperkuat pembelajaran kewirausahaan berbasis teknologi bagi mahasiswa.
Program tersebut ditandai dengan Pertemuan Ke-4 Kelas Fast Track Technopreneurship yang digelar Sabtu (7/3/2026) di Seturan, Jogja. Kegiatan ini juga dirangkai dengan diskusi akademik serta buka puasa bersama yang melibatkan pimpinan fakultas dan dosen pengampu mata kuliah technopreneur di lingkungan FTI.
Founder BHMTC, Biohadikesuma, mengatakan program Fast Track Technopreneurship dirancang untuk menghadirkan model pembelajaran kewirausahaan yang lebih aplikatif dan dekat dengan realitas dunia usaha.
Menurutnya, pendekatan pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik yang meniru kondisi nyata industri.
“Program ini dirancang dengan pendekatan simulated real-world learning. Mahasiswa tidak hanya belajar konsep kewirausahaan, tetapi juga merasakan langsung proses membangun dan mengelola usaha berbasis teknologi,” ujar Biohadikesuma dalam keterangannya, Sabtu.
Ia menambahkan pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk mental, pola pikir, serta karakter technopreneur pada mahasiswa sejak di bangku kuliah.
“Harapannya mahasiswa tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru berbasis teknologi,” katanya.
Sementara itu, Dekan FTI UPN “Veteran” Yogyakarta, Awang Hendrianto, menuturkan bahwa mata kuliah technopreneur merupakan mata kuliah wajib bagi seluruh program studi di fakultas tersebut.
Ia mengakui pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya dominasi orientasi akademik serta keterbatasan pengalaman praktik mahasiswa.
“Melalui kolaborasi dengan BHMTC, kami ingin menghadirkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual sehingga mahasiswa dapat memahami dinamika dunia usaha secara langsung,” kata Awang.
Menurutnya, program Fast Track Technopreneurship menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan berbasis teknologi di lingkungan kampus.
Di sisi lain, mahasiswa FTI semester 4, Jason, menilai program tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan pembelajaran di kelas pada umumnya.
“Program ini membuat kami bisa melihat langsung bagaimana proses membangun bisnis teknologi. Jadi tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik dan simulasi dunia usaha,” ujar Jason.
Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus dikembangkan agar mahasiswa memiliki keberanian untuk mencoba membangun usaha sejak masih kuliah.
Melalui kolaborasi antara FTI UPN “Veteran” Yogyakarta dan BHMTC ini, kampus diharapkan semakin mampu mendorong lahirnya generasi technopreneur muda yang siap menghadapi tantangan ekonomi digital sekaligus berkontribusi pada penguatan ekonomi berbasis inovasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jepang tanpa kalah di fase grup dan siap hadapi Brasil di 32 besar Piala Dunia 2026. Zion Suzuki tampil percaya diri.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.
Pasutri asal Candimulyo meraih dua penghargaan pada Bupati Award 2026 Kabupaten Magelang berkat inovasi gula semut dan pertanian modern.
PT Importa Jaya Abadi (Importa) meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian penjualan 1 juta unit lemari pakaian besi
Kasus Ebola di Kongo meningkat. Dosen UMY mengingatkan Indonesia memperkuat kewaspadaan, deteksi dini, dan sistem kesehatan menghadapi ancaman penyakit menular.
Kemhan mengevaluasi total Latsarmil SPPI 2026 usai lima peserta meninggal, mencakup seleksi kesehatan, latihan fisik, dan metode pembelajaran.