Cek Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 12 Juli 2026, Tarif Tetap Rp8.000
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 12 Juli 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Simak jam keberangkatan dan tarif tetap Rp8.000.
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, CILACAP— Memasuki masa pancaroba dari musim hujan ke kemarau, kondisi cuaca di sejumlah wilayah mulai menunjukkan pola tidak stabil dengan potensi hujan ekstrem yang datang tiba-tiba. Situasi ini dipicu atmosfer yang labil dan sulit diprediksi.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan periode pancaroba ditandai dengan perubahan cuaca yang sangat dinamis dalam waktu singkat.
“Pada periode ini, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” katanya saat memberikan keterangan di Cilacap, Rabu (8/4/2026).
Fenomena tersebut mulai terlihat di lapangan, salah satunya di wilayah Banyumas yang sempat diguyur hujan deras pada Senin (6/4/2026). Kondisi ini menjadi indikasi kuat bahwa atmosfer sedang berada dalam fase transisi.
Berdasarkan data observasi 24 jam terakhir hingga Selasa (7/4/2026), hujan dengan intensitas tinggi tercatat di sejumlah titik.
“Hujan lebat tercatat terjadi di Rempoah, Cikidang, dan Sumbang, masing-masing sebesar 84 milimeter, 87 milimeter, dan 78 milimeter,” katanya.
Curah hujan di atas 70 milimeter tersebut tergolong sangat lebat dan berpotensi memicu genangan hingga mengganggu mobilitas warga. Kondisi ini dipengaruhi oleh pertumbuhan awan konvektif jenis Cumulonimbus yang berkembang pesat akibat labilitas udara.
BMKG memperkirakan pola hujan seperti ini masih akan terjadi di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, terutama pada malam hingga dini hari.
“Kondisi atmosfer yang labil selama masa transisi menyebabkan pertumbuhan awan konvektif menjadi lebih aktif, sehingga berpotensi menimbulkan hujan lebat dalam durasi singkat,” jelasnya.
Selain hujan deras, risiko lain yang perlu diwaspadai adalah angin kencang yang dapat memicu pohon tumbang dan membahayakan pengguna jalan maupun bangunan di sekitarnya.
Warga yang tinggal di area terbuka atau dekat pepohonan besar diminta meningkatkan kewaspadaan. Sementara itu, nelayan dan pengguna transportasi laut juga diingatkan untuk memperhatikan perubahan cuaca di perairan yang bisa terjadi secara mendadak.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat disarankan merapikan lingkungan, termasuk memangkas dahan pohon yang rapuh serta memastikan saluran air berfungsi dengan baik.
“Masyarakat juga diimbau untuk memastikan kondisi lingkungan sekitar aman, seperti memangkas dahan pohon yang rapuh dan memastikan saluran air berfungsi dengan baik,” katanya.
BMKG menegaskan akan terus memperbarui informasi cuaca secara real-time agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi lebih cepat.
“Dengan meningkatnya kewaspadaan, diharapkan potensi dampak dari cuaca ekstrem selama masa pancaroba dapat diminimalkan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 12 Juli 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Simak jam keberangkatan dan tarif tetap Rp8.000.
Lionel Scaloni mengakui Argentina kesulitan menghadapi Swiss sebelum menang 3-1 di perempat final Piala Dunia 2026. Albiceleste akan menghadapi Inggris.
BPBD Kota Jogja meningkatkan kesiapsiagaan musim kemarau 2026 dan mengimbau warga mewaspadai fenomena bediding serta risiko ISPA hingga kebakaran.
Harga BBM naik? Simak 10 tips hemat BBM untuk mobil matic, mulai dari menjaga tekanan ban hingga rutin servis agar konsumsi bensin lebih efisien.
Sejumlah pejabat Pemkab Sukoharjo pulang naik kereta usai diperiksa KPK terkait OTT yang menjerat Bupati Etik Suryani. Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka.
Korban tewas gempa Venezuela pada 24 Juni bertambah menjadi 4.333 orang. Lebih dari 18.000 warga masih tinggal di penampungan sementara.