7 Kecamatan di Aceh Tenggara Kembali Dilanda Banjir, 203 Jiwa Terdampak
Banjir kembali merendam 13 desa di tujuh kecamatan Aceh Tenggara. Sebanyak 52 KK atau 203 jiwa terdampak.
Ilustrasi sesar gempa - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Ancaman gempa besar di wilayah selatan Jawa kembali disorot setelah pakar kebencanaan menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini berada di fase akhir siklus megathrust. Kondisi ini dinilai krusial karena energi gempa besar diperkirakan belum sepenuhnya terlepas.
Peringatan tersebut disampaikan Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Prof Dwikorita Karnawati dalam seminar peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta yang diikuti dari Jakarta, Kamis (16/4/2026).
"Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi hasil studi sains untuk mendukung kebijakan. Kita berada di ujung siklus 200 tahun yang belum rilis energinya. Potensi magnitudo bisa mencapai 8,7, sehingga kesiapsiagaan di DIY harus ditingkatkan secara serius," kata Dwikorita.
Ia menjelaskan, berdasarkan kajian ilmiah, siklus gempa megathrust di selatan Jawa diperkirakan berulang setiap 200 tahun. Saat ini, wilayah DIY disebut telah memasuki fase 30 tahun terakhir dari siklus tersebut.
Untuk mengurangi risiko, Dwikorita menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur tahan bencana. Salah satu contoh yang disebut adalah Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kabupaten Kulonprogo yang dirancang mampu bertahan dari guncangan gempa besar dan potensi tsunami.
Bandara tersebut bahkan dinilai memiliki desain tangguh yang dapat menahan gempa hingga magnitudo 8,7 serta gelombang tsunami setinggi 15 meter. Selain itu, fasilitas ini juga dapat difungsikan sebagai lokasi evakuasi sementara bagi sekitar 12.000 orang.
Di sisi lain, ancaman tidak hanya datang dari laut. Dwikorita juga menyoroti keberadaan Sesar Opak yang menjadi pemicu gempa darat pada 2006.
Menurutnya, hasil studi terbaru menunjukkan sesar tersebut memiliki struktur kompleks dan tidak muncul di permukaan, atau dikenal sebagai blind fault. Meski tidak terlihat, pergerakan energinya dinilai masih aktif dan belum sepenuhnya terlepas.
"Sesar Opak ini tidak memotong permukaan sehingga disebut blind fault. Namun, mekanisme pergerakannya sangat dinamis dan energinya belum sepenuhnya terlepas sejak kejadian 2006. Hal ini menuntut penataan ruang yang lebih ketat, terutama di zona-zona dengan tingkat amplifikasi guncangan yang tinggi," katanya.
Ia juga mengapresiasi kebijakan di DIY yang dinilai konsisten menggunakan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam mitigasi bencana.
Ke depan, ia berharap sinergi antara teknologi peringatan dini dan kearifan lokal terus diperkuat agar masyarakat tetap siap menghadapi potensi bencana besar di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Banjir kembali merendam 13 desa di tujuh kecamatan Aceh Tenggara. Sebanyak 52 KK atau 203 jiwa terdampak.
Presiden Prabowo Subianto memberhentikan sementara Wagub Babel Hellyana terkait kasus pidana. Gubernur kini menjalankan tugas wakil gubernur.
Seluruh kabupaten/kota di DIY mengajukan tambahan kuota Pertalite ke BPH Migas menjelang libur Nataru 2026.
Calon Lurah Sabdodadi Sulistiyo menawarkan pembangunan berbasis marketing dan teknologi untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan warga.
Pemkot Solo menggandeng Gunungkidul lewat Solo Travel Dialogue untuk memperkuat promosi dan meningkatkan kunjungan wisata.
DPRD DIY mengingatkan warga berhati-hati menyerahkan fotokopi KTP saat Pilur untuk mencegah risiko penyalahgunaan data pribadi.