Guru Besar UAD Soroti Epidemi sebagai Fenomena Sosio-Matematis

Newswire
Newswire Senin, 04 Mei 2026 11:07 WIB
Guru Besar UAD Soroti Epidemi sebagai Fenomena Sosio-Matematis

Konsep epidemi sebagai fenomena sosio-matematis mengemuka dalam pidato pengukuhan Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bidang Pemodelan Matematika Interaksi Populasi, Profesor Yudi Ari Adi yang menekankan pentingnya pendekatan matematika dalam memahami penyebaran penyakit secara komprehensif. /Istimewa-UAD.

Harianjogja.com, JOGJA—Konsep epidemi sebagai fenomena sosio-matematis mengemuka dalam pidato pengukuhan Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bidang Pemodelan Matematika Interaksi Populasi, Profesor Yudi Ari Adi yang menekankan pentingnya pendekatan matematika dalam memahami penyebaran penyakit secara komprehensif.

Dalam pidato pengukuhan di hadapan Senat Terbuka UAD, Sabtu (25/4/2026) bertajuk "Pemodelan Dinamika Epidemiologi Sebagai Ikhtiar Ilmiah Memahami Penyebaran Penyakit", Prof. Yudi memaparkan bahwa kompleksitas epidemi tidak hanya bersumber dari aspek biologis, melainkan juga dipengaruhi interaksi dinamis antarindividu, mobilitas populasi, serta perubahan perilaku masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa sistem epidemiologi bersifat kompleks karena melibatkan berbagai lapisan interaksi yang saling memengaruhi. Kondisi tersebut menjadikan pendekatan matematika sebagai alat penting untuk membaca dinamika dan potensi perubahan dalam penyebaran penyakit.

Sebagai contoh, dalam kasus Tuberkulosis (TBC), ia menyoroti bahwa faktor psikologis dan persepsi risiko masyarakat memiliki peran krusial dalam menentukan apakah penyakit akan terkendali atau berkembang menjadi endemik berkepanjangan.

"Hasil ini menegaskan bahwa epidemi merupakan fenomena sosio-matematis yang dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis dan perilaku masyarakat," ujar Prof. Yudi.

Lebih jauh, ia menekankan pemanfaatan teknologi mutakhir seperti Physics-Informed Neural Networks (PINNs) yang menggabungkan persamaan diferensial dengan kecerdasan buatan (AI). Pendekatan ini dinilai mampu membantu pengambil kebijakan dalam mengestimasi parameter penyakit secara real time, bahkan ketika data lapangan terbatas.

Menurutnya, integrasi antara matematika dan AI tersebut dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi pengendalian wabah yang lebih adaptif, efektif, dan efisien, khususnya dalam menghadapi dinamika epidemi yang terus berubah.

Ia mengingatkan bahwa setiap hasil analisis matematika tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga keberlangsungan kehidupan manusia dan sistem sosial.

Prof. Yudi menjelaskan, integrasi antara matematika dan AI tersebut dapat menjadi dasar dalam menyusun strategi pengendalian wabah yang lebih adaptif, efektif, dan efisien. Pencarian kebenaran ilmiah bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan amanah moral untuk menghadirkan kebaikan bagi kehidupan.

"Setiap persamaan, analisis kestabilan, simulasi numerik, hingga rekomendasi kebijakan merupakan bagian dari ikhtiar untuk mencegah kerusakan, termasuk penyebaran penyakit, ketimpangan akses layanan kesehatan, serta kerentanan sistem sosial," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online