Makna Podhang Ngisep Sari, Ikon Gunungkidul yang Berkibar saat HUT RI
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Sumur - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Musim kemarau di Kabupaten Gunungkidul tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya, bahkan bisa mencapai tujuh bulan. Kondisi ini dipicu oleh fenomena El Nino yang berdampak pada minimnya curah hujan sejak awal musim.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengingatkan masyarakat untuk mulai melakukan penghematan air sejak dini guna mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas.
“Harus lebih bijak lagi agar tidak ada yang terbuang percuma,” kata Purwono, Kamis (14/5/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG, musim kemarau di Gunungkidul sudah dimulai sejak akhir April dan diperkirakan berlangsung hingga November mendatang. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada periode Juli hingga September.
Menurutnya, pengaruh El Nino membuat intensitas hujan di awal musim penghujan masih rendah, sehingga memperpanjang periode kering yang biasanya terjadi setiap tahun.
“Penghematan air ini menjadi bagian dari mitigasi di musim kemarau. Sehingga harus benar-benar bijak dalam memanfaatkan, misal jangan biarkan kran bocor atau mencuci piring dengan air secukupnya,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Gunungkidul telah menyiapkan bantuan air bersih bagi masyarakat terdampak. Tahun ini, sebanyak 1.500 tangki air disiapkan dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter.
“Yang disediakan ada sekitar 7,5 juta liter air bersih, siap dibagikan ke warga yang membutuhkan. Selain itu, sejumlah kapanewon juga miliki anggaran droping sendiri,” katanya.
Di sisi lain, upaya penguatan akses air bersih juga dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul. Kepala Bidang Cipta Karya, Ashari Nurkalis, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran Rp1,2 miliar untuk mendukung program tersebut.
Program ini menyasar tujuh kalurahan dengan berbagai proyek pembangunan dan peningkatan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Beberapa di antaranya yakni peningkatan SPAM di Padukuhan Sumur, Giripurwo sebesar Rp187,7 juta, pembangunan SPAM di Nagsemrejo, Ngawu sebesar Rp195 juta, serta bantuan di Kedungkeris, Nglipar senilai Rp190,2 juta.
Selain itu, pembangunan juga dilakukan di Kalurahan Wareng, Wonosari sebesar Rp65,6 juta dan Padukuhan Gembyong, Ngoro-oro, Patuk dengan anggaran Rp268,9 juta. Tak hanya pembangunan baru, peningkatan dan perluasan jaringan juga dilakukan di sejumlah sumber air yang sudah ada.
“Harapannya dengan program ini, maka akses jangkauan layanan air bersih ke masyarakat juga semakin mudah,” kata Ashari.
Dengan berbagai langkah ini, pemerintah daerah berharap dampak kemarau panjang dapat ditekan, sekaligus memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kering berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Imigrasi Parepare mendeportasi WN Malaysia yang overstay 101 hari melalui jalur laut dari Parepare-Nunukan menuju Tawau.
RAPBN 2027 menargetkan pendapatan Rp3.426 triliun dan belanja Rp4.097,2 triliun, dengan defisit dipersempit menjadi 2,4% terhadap PDB.
Gempa M7,7 mengguncang Flores dan terasa kuat di Sikka. Bupati Sikka meminta warga tenang serta waspada terhadap potensi tsunami.
Harga buyback emas Antam, Galeri 24, dan UBS di Pegadaian turun pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Cek harga berdasarkan berat emas.
Perempuan muda dan lansia di DIY serta Klaten mengolah kain perca menjadi tenun dan kerajinan bernilai ekonomi di Rumah Kreatif Tukik.