Kemensos Jaring 600 Anak Jalanan Masuk Sekolah Rakyat
Kemensos menjaring ratusan anak jalanan di Jabodetabek untuk mengikuti program Sekolah Rakyat gratis milik pemerintah.
Pakar UII Jogja mengingatkan bahaya pencitraan mahasiswa di media sosial dan pentingnya karakter Ulil Albab dalam personal branding digital. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena personal branding mahasiswa di era digital dinilai mulai bergeser dari upaya membangun kapasitas diri menjadi sekadar pencitraan demi popularitas di media sosial. Akademisi Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja mengingatkan pentingnya membangun karakter dan etika digital agar mahasiswa tidak terjebak dalam validasi semu di ruang maya.
Kondisi tersebut disampaikan Manajer Akademik Keilmuan Magister Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), Ahmad Luthfi, saat menjadi pembicara dalam webinar bertajuk Personal Branding untuk Mahasiswa Digital yang digelar bagi mahasiswa PJJ Informatika UII baru-baru ini.
Menurut Luthfi, jejak digital saat ini bukan lagi sekadar dokumentasi pribadi, melainkan telah menjadi bagian dari identitas profesional seseorang yang dapat dinilai publik maupun calon pemberi kerja di masa mendatang.
“Setiap unggahan, komentar, dan aktivitas digital membentuk persepsi tentang siapa kita. Karena itu personal branding tidak boleh berhenti pada pencitraan semata, tetapi harus dibangun di atas nilai dan karakter,” tegas Luthfi dalam keterangannya yang dikutip Senin (11/5/2026).
Mahasiswa Rentan Mengalami Kelelahan Identitas
Luthfi menilai tren personal branding mahasiswa saat ini memunculkan sejumlah persoalan serius, terutama ketika media sosial dijadikan tolok ukur utama kesuksesan dan eksistensi diri.
Dosen Informatika UII tersebut mengidentifikasi sedikitnya tiga persoalan utama dalam praktik personal branding generasi digital saat ini, yakni pencitraan berlebihan (over exposure), ketergantungan pada validasi melalui jumlah likes dan pengikut, serta kesenjangan antara identitas di media sosial dengan kehidupan nyata.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan psikologis hingga fenomena identity fatigue atau kelelahan identitas pada mahasiswa.
Ia mengingatkan bahwa mahasiswa yang terlalu fokus membangun tampilan visual tanpa diimbangi kualitas diri dan kompetensi justru rentan mengalami tekanan mental di tengah kompetisi digital yang semakin tinggi.
Konsep Ulil Albab Jadi Solusi Etika Digital
Sebagai solusi, Luthfi menawarkan konsep Insan Ulil Albab yang menjadi nilai khas UII dalam membangun karakter mahasiswa di era digital.
Konsep tersebut mengintegrasikan tiga aspek utama, yakni zikir sebagai fondasi spiritual, fikir untuk penguatan intelektual, serta amal sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, personal branding mahasiswa tidak lagi diarahkan semata-mata untuk mencari popularitas, tetapi menjadi representasi akhlak, kompetensi, dan integritas diri.
“Kompetisi sejati mahasiswa digital bukan tentang siapa paling terlihat, tetapi siapa yang paling banyak memberi manfaat,” ujarnya.
Tiga Pilar Personal Branding Mahasiswa
Dalam webinar tersebut, Luthfi juga memaparkan tiga pilar penting yang perlu dipegang mahasiswa dalam membangun identitas digital yang sehat dan kredibel.
Terdiri atas Spiritual Core, mahasiswa perlu memiliki fondasi etika, integritas, dan nilai moral yang kuat dalam aktivitas digital.
Intellectual Expression, mahasiswa didorong aktif berbagi pengetahuan, gagasan, serta berpikir kritis di ruang publik digital. Social Impact, kehadiran digital mahasiswa seharusnya mampu menghasilkan karya dan solusi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Selain itu, Luthfi turut mengingatkan pentingnya budaya saring sebelum sharing dalam menggunakan media sosial serta menghindari diskusi toksik yang dapat memperburuk kualitas ruang digital.
Melalui edukasi tersebut, mahasiswa diharapkan mampu membangun personal branding yang sehat, edukatif, dan tetap berpijak pada etika digital serta nilai karakter yang kuat di tengah derasnya arus media sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemensos menjaring ratusan anak jalanan di Jabodetabek untuk mengikuti program Sekolah Rakyat gratis milik pemerintah.
KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat 246 ribu penumpang KAJJ selama libur Kenaikan Yesus Kristus, naik 189 persen dari pekan sebelumnya.
Disdik Sleman mulai adaptasi penerapan Bahasa Inggris di SD menjelang kebijakan wajib nasional pada tahun ajaran 2027/2028.
Persib Bandung memastikan seluruh pemain dan ofisial aman usai diduga mendapat serangan oknum suporter setelah laga kontra PSM Makassar.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.