Garebeg Besar Jogja Disederhanakan, Sultan Tegaskan Faktor Penghematan

Anisatul Umah
Anisatul Umah Kamis, 21 Mei 2026 19:17 WIB
Garebeg Besar Jogja Disederhanakan, Sultan Tegaskan Faktor Penghematan

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, ditemui di Kompleks Kepatihan, Kamis (21/5/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA — Prosesi Upacara Adat Garebeg Besar di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun ini tampil berbeda. Tidak lagi meriah seperti biasanya, rangkaian pembagian pareden dipastikan hanya berlangsung di dalam lingkungan Keraton dan khusus diperuntukkan bagi abdi dalem.

Keputusan ini langsung menarik perhatian publik, mengingat Garebeg selama ini identik dengan arak-arakan gunungan dan pembagian hasil bumi kepada masyarakat luas.

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa langkah tersebut diambil sebagai bagian dari upaya penghematan.

"Ya kita juga menghemat lah, psikologisnya kan gitu. Nanti dikira mewah-mewah. Penghematan aja," ucapnya saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kamis (21/5/2026).

Ikuti Tren Penghematan APBN dan Daerah

Sultan menjelaskan, kebijakan ini tidak berdiri sendiri. Saat ini pemerintah pusat tengah melakukan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang kemudian diikuti oleh pemerintah daerah.

"Ya kita lihat, pemerintah APBN penghematan, daerah ya penghematan. Karena biaya ya biaya yang terbesar itu kan di situ. Nah, nek kecil turut penghematan kan ora logis. Itu aja," paparnya.

Meski demikian, Sultan belum memastikan apakah format sederhana ini akan terus diterapkan di masa mendatang. Semua masih bergantung pada kondisi ekonomi ke depan.

Sekaten Berpotensi Tanpa Gunungan

Tak hanya Garebeg, penyesuaian juga berpotensi terjadi pada rangkaian Sekaten. Sultan mengisyaratkan bahwa prajurit Keraton kemungkinan tetap akan terlibat, namun prosesi gunungan bisa ditiadakan sementara.

"Penghematan aja. Ya kita, kita, saya enggak bisa menentukan nanti kita lihat perkembangan. Kalau memang apa, keadaan ekonominya lebih baik, ya dimunculkan lagi. Kita kan belum tahu," lanjutnya.

Abdi Dalem Siap Jalankan Dhawuh

Perubahan ini merupakan hasil dhawuh langsung dari Sultan. KRT. Kusumanegara, Abdi Dalem senior berpangkat Bupati Nayaka, memastikan seluruh abdi dalem akan menjalankan perintah tersebut dengan penuh tanggung jawab.

"Betul bahwa kami, Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini nampi Dhawuh Dalem," ujarnya.

Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa, KRT. Sindurejo, menegaskan bahwa perubahan dalam tradisi Garebeg bukan hal baru. Dalam sejarahnya, upacara ini kerap menyesuaikan kondisi zaman, mulai dari masa kerajaan hingga periode pandemi Covid-19.

"Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama," jelasnya.

Nilai Sakral Tetap Terjaga

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, memastikan bahwa penyederhanaan ini tidak mengurangi makna utama Garebeg sebagai simbol sedekah Raja kepada rakyat.

"Tidak digelarnya prosesi pembagian pareden ke luar lingkungan Keraton sama sekali tidak menghilangkan esensi utama Garebeg sebagai wujud syukur dan sedekah dari Raja," tegasnya.

Distribusi pareden tetap dilakukan, namun secara internal di dalam Keraton dan dikelola oleh abdi dalem.

Dengan format baru ini, prosesi iring-iringan pareden menuju Kompleks Kepatihan dan Puro Pakualaman yang biasanya terbuka untuk publik dipastikan tidak digelar.

Meski lebih sederhana, Garebeg Besar tahun ini tetap menjadi simbol kuat tradisi Jogja yang adaptif terhadap kondisi zaman—menjaga keseimbangan antara nilai budaya, realitas ekonomi, dan keberlanjutan tradisi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online