Perkuat Kesiapsiagaan, BOB Gelar Simulasi Bencana di Parangtritis

Newswire
Newswire Minggu, 31 Mei 2026 04:37 WIB
Perkuat Kesiapsiagaan, BOB Gelar Simulasi Bencana di Parangtritis

Simulasi tsunami Parangtritis libatkan ratusan personel, evakuasi megathrust ditargetkan 35 menit di Bulak Mabul Bantul.

Harianjogja.com, BANTUL—Kawasan wisata Pantai Parangtritis, Bantul, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami, khususnya ancaman megathrust di wilayah pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Upaya tersebut diwujudkan melalui simulasi evakuasi berskala besar yang melibatkan ratusan personel lintas instansi.

Kegiatan ini digelar sebagai langkah penguatan sistem keselamatan destinasi wisata sekaligus pengingat dua dekade peristiwa gempa Yogyakarta 2006. Selain itu, agenda tersebut juga diarahkan untuk menyamakan standar mitigasi bencana di kalangan pemerintah, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat lokal.

Simulasi yang diinisiasi oleh Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) pada Senin (25/5/2026) itu melibatkan unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga relawan kebencanaan dalam satu skema koordinasi terpadu.

Sejumlah instansi yang terlibat antara lain Dinas Pariwisata DIY dan Kabupaten Bantul, BMKG DIY, BPBD DIY, BPBD Bantul, PMI Bantul, Polda DIY, TNI, Basarnas DIY, Satpol PP, Tim SAR, Pemerintah Kalurahan Parangtritis, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), masyarakat setempat, serta pelaku usaha jasa wisata di kawasan Pantai Parangtritis.

Skenario Evakuasi Ditargetkan 35 Menit

Plt. Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, menegaskan bahwa kawasan wisata pesisir seperti Parangtritis memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap aktivitas tektonik laut dalam sehingga membutuhkan kesiapsiagaan berlapis.

“Isu gempa megathrust yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan menjadi pengingat penting bahwa destinasi wisata juga harus memiliki kesiapsiagaan yang baik terhadap ancaman bencana. Kegiatan ini merupakan langkah antisipatif sekaligus bentuk komitmen BPOB dalam mendukung penguatan safety dan security di sektor pariwisata,” ujar Yusuf.

Dukungan terhadap penguatan mitigasi juga disampaikan Sekretaris Dinas Pariwisata DIY, Lis Dwi Rahmawati, yang menekankan bahwa keberhasilan sektor pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga jaminan keselamatan wisatawan di lokasi destinasi.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat lokal seperti nelayan, pedagang, hingga pemandu wisata sebagai garda terdepan dalam situasi darurat di kawasan pantai.

“Pengembangan pariwisata tidak hanya berfokus pada kuantitas kunjungan, tetapi juga kualitas, termasuk aspek keselamatan wisatawan. Keterlibatan masyarakat seperti nelayan, pedagang, dan pemandu wisata menjadi sangat penting karena mereka merupakan garda terdepan dalam membantu proses evakuasi dan keselamatan wisatawan,” jelas Lis.

Edukasi Gempa dan Praktik Lapangan di Pesisir Parangtritis

Kepala Stasiun Geofisika Yogyakarta BMKG DIY, Ardhianto Septiadhi, memberikan edukasi terkait potensi gempa tektonik serta pentingnya respons cepat masyarakat pada detik-detik awal guncangan. Ia menekankan bahwa pengetahuan jalur evakuasi dan tanda-tanda alam menjadi faktor penentu keselamatan.

Dalam pemaparannya, ia juga menyampaikan perbandingan data internasional terkait dampak gempa bumi yang menunjukkan bahwa kesiapsiagaan mandiri dapat menekan angka korban secara signifikan.

“Penyelamatan pertama dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Oleh karena itu, simulasi seperti ini menjadi sangat penting agar masyarakat memiliki pemahaman dan refleks yang tepat saat menghadapi situasi darurat,” ungkap Ardhianto.

Dari sisi teknis lapangan, Staf Pusdalops BPBD Bantul, Eta Efendi, memaparkan peta jalur evakuasi dalam skenario megathrust Parangtritis. Materi penanganan korban dan pertolongan pertama juga dipraktikkan langsung bersama Kepala Markas PMI Bantul, Rofiah.

Simulasi kemudian mencapai puncaknya melalui uji evakuasi massal dari bibir Pantai Parangtritis menuju Titik Evakuasi Akhir (TEA) di Bulak Mabul. Dalam skenario ini, batas waktu aman ditetapkan maksimal 35 menit sejak sirine peringatan dibunyikan.

Berdasarkan hasil catatan panitia, proses mobilisasi peserta menuju zona aman berlangsung lebih cepat dari batas waktu yang ditentukan, dengan rata-rata pencapaian antara 12 hingga 25 menit.

Direktur Destinasi Pariwisata BPOB, Neysa Amelia, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun kawasan wisata pesisir yang tangguh terhadap ancaman bencana geologi.

“Harapannya, Pantai Parangtritis ke depan semakin siap menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan pelaku usaha pariwisata,” tutup Neysa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online