Jadwal Bus Malioboro-Parangtritis 15 Juni 2026, Tarif Rp12.000
Cek jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Senin 15 Juni 2026. Tarif hanya Rp12.000 dengan rute langsung dari Malioboro ke Pantai Parangtritis.
Wayang Gedhog langka akan dipentaskan di Keraton Jogja saat 1 Sura 2026. Lakon Jaya Berdangga sarat pesan perjuangan, kesetiaan, dan refleksi diri. /Istimewa-Dokumentasi Kraton Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA— Pergelaran Wayang Gedhog bertajuk Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji Lampahan "Jaya Berdangga" bakal menjadi salah satu agenda budaya paling menarik dalam rangkaian peringatan Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960 di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pementasan ini menyedot perhatian karena Wayang Gedhog merupakan kesenian langka yang kini sangat jarang ditampilkan di Yogyakarta.
Karya pewayangan yang mengangkat kisah Panji tersebut akan dipentaskan selama sekitar empat jam, mulai pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB, Selasa (16/6/2026), dengan MB. Cermo Wignyoutomo sebagai dalang. Pertunjukan digelar di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul, kawasan Alun-Alun Kidul Yogyakarta.
"Biasanya menyambut Tahun Baru Jawa ini kan Paguyuban Abdi Dalem menyelenggarakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng. Nah tahun ini, kami dari Kawedanan Kridhamardawa turut mangayubagya dengan menghadirkan pementasan wayang kulit gedhog yang digelar sebelum jalannya lampah budaya mubeng beteng tersebut," kata MB. Cermo Gupito, Abdi Dalem Dalang Kawedanan Kridhamardawa yang bertugas sebagai pimpinan produksi pementasan, Minggu (14/6/2026).
Menurut Cermo Gupito, pergelaran Wayang Gedhog tidak hanya menjadi sajian seni tradisi, tetapi juga sarana perenungan menjelang pergantian tahun Jawa. Masyarakat diharapkan memperoleh bekal nilai-nilai kehidupan dari cerita yang dipentaskan sebelum melanjutkan laku spiritual melalui Lampah Budaya Mubeng Beteng.
"Melalui rangkaian acara ini, masyarakat dapat memaknai pementasan wayang dalam rangka mencari ‘sangu’ untuk introspeksi diri, karena tentu saja dalam gelaran cerita wayang banyak falsafah kehidupan yang termuat," ujarnya.
Ia menjelaskan Wayang Gedhog memiliki karakter berbeda dibanding Wayang Purwa. Jika Wayang Purwa lazim mengangkat epos Mahabharata dan Ramayana, Wayang Gedhog berfokus pada kisah Panji yang lahir dari khazanah budaya Jawa.
Wayang Gedhog juga merupakan salah satu koleksi pusaka budaya langka milik Keraton Yogyakarta yang saat ini semakin jarang dipentaskan. Melalui agenda ini, Keraton berharap masyarakat kembali mengenal sekaligus ikut menjaga kelestarian Wayang Gedhog, baik di lingkungan Keraton maupun di luar Cepuri Keraton Yogyakarta.
Lakon "Jaya Berdangga" mengisahkan perjuangan Raden Panji yang menyamar demi memenuhi permintaan sang istri, Dewi Sekartaji, yang sedang mengandung. Permintaan tersebut berupa "Sari Swara Renggani Jagad" yang dipercaya memiliki arti penting bagi masa depan Kerajaan Jenggala dan Kediri.
Perjalanan Raden Panji untuk memenuhi syarat tersebut tidak berlangsung mudah. Berbagai rintangan muncul dari para senopati negara seberang yang berupaya menggagalkan misinya. Bahkan, sebagian di antaranya berani meminang Dewi Sekartaji. Namun, berkat kegigihan dan keteguhannya, Raden Panji berhasil memenuhi permintaan itu bersamaan dengan kelahiran putra mereka.
Cermo Gupito menuturkan pemilihan lakon Panji Lampahan Jaya Berdangga dilakukan karena cerita tersebut memiliki kedalaman makna yang relevan dengan kehidupan masyarakat Jawa hingga saat ini. Selain sarat nilai budaya, cerita ini juga memuat berbagai pelajaran hidup yang dekat dengan realitas keseharian masyarakat.
"Mulai dari mengajarkan perjuangan hidup, kesetiaan seseorang terhadap pasangan, mengedukasi masyarakat perihal proses produksi gamelan, dan yang terakhir menghadirkan serta mengingatkan kembali konsep kesuburan Tanah Jawa yang termuat dalam Wayang Gedhog, yaitu Raden Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji atau Candra Kirana, yang ini selaras dengan upaya Keraton Yogyakarta untuk selalu Hamemayu Hayuning Bawana," ungkap MB. Cermo Gupito.
Masyarakat dapat menyaksikan langsung pergelaran Wayang Gedhog tersebut di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul yang berada di kawasan Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Selain hadir secara langsung, masyarakat juga dapat mengikuti jalannya pertunjukan melalui siaran daring di kanal YouTube Kraton Jogja.
Acara ini terbuka untuk umum tanpa biaya dan tanpa mekanisme reservasi. Pengunjung cukup hadir dengan mengenakan pakaian yang rapi dan sopan. Setelah pementasan berakhir sekitar pukul 23.00 WIB, masyarakat juga dapat mengikuti iring-iringan Abdi Dalem menuju Bangsal Pancaniti untuk bergabung dalam Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng yang menjadi bagian dari tradisi menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura 2026.
Dalang: MB. Cermo Wignyoutomo
Hari/Tanggal: Selasa, 16 Juni 2026
Waktu: 19.00–23.00 WIB
Lokasi: Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul, Alun-Alun Kidul Yogyakarta
Keterangan: Terbuka untuk umum
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Cek jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Senin 15 Juni 2026. Tarif hanya Rp12.000 dengan rute langsung dari Malioboro ke Pantai Parangtritis.
Presiden Prabowo Subianto menyambut Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka. Bahas kerja sama ekonomi dan tenaga kerja terampil.
Pertamina Patra Niaga memastikan kualitas BBM tetap terjaga melalui pengelolaan zat pengotor di kilang untuk menghasilkan BBM standar Euro 4.
Pemkot Jogja mempercepat penataan kabel fiber optik melalui sistem ducting untuk mengurangi sampah visual dan mempercantik wajah kota wisata.
Kejagung menyerahkan PNBP hasil pemulihan aset senilai Rp1,029 triliun ke Kemenkeu, termasuk aset dan uang milik terpidana Eddy Tansil.
Chapter Jogja 2026 kembali hadir di JNM dan SD Tumbuh pada 19-23 Juni dengan konsep Unique Art Fair yang memperkuat ekosistem seni rupa Yogyakarta.