Harga BBM Naik, Pelaku Wisata DIY Pilih Efisiensi daripada Naik Tarif

Anisatul Umah
Anisatul Umah Minggu, 14 Juni 2026 12:17 WIB
Harga BBM Naik, Pelaku Wisata DIY Pilih Efisiensi daripada Naik Tarif

Sejumlah wisatawan bermain kano di kawasan Pantai Drini di Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, belum lama ini. - Harian Jogja/David Kurniawan\r\n

Harianjogja.com, JOGJA—Kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai menjadi perhatian serius pelaku industri pariwisata DIY. Meski biaya operasional diperkirakan meningkat, pelaku usaha wisata masih menahan diri untuk menaikkan harga layanan karena khawatir semakin menekan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Memasuki musim liburan dan periode kunjungan wisatawan mancanegara pada pertengahan tahun, sektor pariwisata Yogyakarta menghadapi tantangan ganda. Selain harus mengelola kenaikan biaya transportasi dan operasional, pelaku usaha juga dituntut menjaga daya saing destinasi agar tetap menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto Setyo Aji, menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi hampir pasti berdampak terhadap industri pariwisata karena tidak seluruh aktivitas operasional menggunakan bahan bakar bersubsidi.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang turut memengaruhi sektor wisata. Dalam situasi seperti ini, pariwisata bukan lagi menjadi kebutuhan utama bagi sebagian masyarakat sehingga pelaku usaha harus lebih cermat dalam menyusun strategi bisnis.

"Dampaknya pasti nanti akan ada di operasional teman-teman. Dan mungkin penyesuaiannya lebih cenderung ke efisiensinya dibanding menaikkan harganya," ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Bobby menjelaskan langkah efisiensi kemungkinan akan dilakukan pada berbagai aspek operasional perusahaan. Karena itu, ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), mengingat kebijakan efisiensi berpotensi berdampak pada pengaturan tenaga kerja.

Salah satu bentuk penyesuaian yang mungkin dilakukan adalah pengurangan hari kerja atau penataan ulang jam operasional guna menekan pengeluaran perusahaan. Menurut Bobby, pola tersebut memiliki kemiripan dengan kebijakan efisiensi yang pernah diterapkan pemerintah melalui skema Work From Home (WFH).

"Di samping sisi operasionalnya, kemudian sumber daya manusianya, poinnya adalah bagaimana mengefisienkan pengeluaran," lanjutnya.

Ia juga menilai dampak kenaikan harga BBM tidak dapat dilihat hanya dari kondisi dalam negeri. Faktor geopolitik global turut memengaruhi pergerakan industri pariwisata, terutama terkait keputusan wisatawan mancanegara dalam menentukan destinasi perjalanan.

Bobby mengungkapkan periode Juni hingga Agustus biasanya menjadi momentum positif bagi sektor pariwisata DIY karena bertepatan dengan musim panas di sejumlah negara yang menjadi pasar wisatawan mancanegara.

"Tetapi kembali lagi, bagaimana kondisi politik di Indonesia? Ini juga tentunya diikuti dan dilihat perkembangannya oleh orang di luar sana."

Sementara itu, Dewan Pimpinan Daerah Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY juga menilai kenaikan harga BBM menjadi faktor yang perlu dicermati karena berpengaruh langsung terhadap biaya transportasi yang merupakan komponen utama dalam perjalanan wisata.

Ketua DPD Asita DIY, Trianto Sunarjati, mengatakan dampak kenaikan harga BBM terhadap sektor pariwisata DIY belum terlalu signifikan. Menurutnya, Yogyakarta masih memiliki daya tarik kuat yang membuat wisatawan tetap memilih daerah ini sebagai tujuan perjalanan.

Ia menjelaskan kekuatan pariwisata DIY tidak hanya bertumpu pada wisata alam, tetapi juga didukung oleh keragaman produk wisata budaya, pendidikan, kuliner, hingga sektor Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE).

"Pariwisata DIY masih memiliki kekuatan pada keberagaman produk wisata, budaya, pendidikan, kuliner, hingga kegiatan Meetings, Incentives, Conferences, dan Exhibitions (MICE) yang terus menjadi daya tarik utama wisatawan," ungkapnya.

Dalam jangka pendek, Trianto memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan belum akan terpengaruh secara signifikan. Hal itu karena sebagian besar perjalanan wisata, terutama untuk segmen rombongan, study tour, dan kegiatan MICE, umumnya telah direncanakan jauh sebelum keberangkatan.

Meski demikian, apabila biaya transportasi terus meningkat dan diikuti penyesuaian harga pada berbagai komponen perjalanan lainnya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola konsumsi masyarakat terhadap kegiatan wisata.

"Wisatawan diperkirakan akan semakin selektif dalam menentukan destinasi, durasi perjalanan, maupun besaran pengeluaran selama berwisata," paparnya.

Dari sisi pelaku usaha perjalanan wisata, kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan biaya operasional, terutama pada sektor transportasi darat yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam penyusunan paket wisata.

Trianto mengatakan kemungkinan penyesuaian tarif dari perusahaan transportasi maupun penyedia jasa pendukung akan memengaruhi struktur biaya perjalanan. Karena itu, Asita DIY memilih mengedepankan efisiensi dan optimalisasi operasional sebelum mempertimbangkan kenaikan harga kepada konsumen.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga daya saing produk wisata DIY di tengah persaingan destinasi dan tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

"Beberapa bulan ke depan Asita DIY masih optimistis terhadap prospek kunjungan wisatawan ke DIY, terlebih memasuki periode high season dan liburan musim panas yang masih menunjukkan tren positif, khususnya untuk wisatawan mancanegara," ungkapnya.

Untuk menghadapi tantangan kenaikan harga BBM, Asita DIY mendorong pelaku industri pariwisata memperkuat efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas layanan, menghadirkan inovasi produk wisata yang lebih fleksibel, meningkatkan kolaborasi antarpelaku usaha, serta mengoptimalkan promosi destinasi.

Selain itu, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, asosiasi, dan seluruh pemangku kepentingan agar iklim usaha pariwisata tetap kondusif. Trianto menilai sektor pariwisata selama ini terbukti mampu beradaptasi menghadapi berbagai tantangan ekonomi maupun perubahan tren pasar.

"Tantangan seperti kenaikan harga BBM tentu perlu diantisipasi, namun kami tetap optimistis bahwa pariwisata DIY akan terus tumbuh karena didukung oleh kekuatan destinasi, kreativitas pelaku usaha, dan tingginya minat masyarakat untuk berwisata."

Ke depan, menurut Trianto, tren pariwisata akan semakin mengarah pada konsep value for money. Produk wisata yang mampu menawarkan pengalaman berkualitas dengan biaya yang efisien diperkirakan akan menjadi pilihan utama wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga inovasi dan efisiensi akan menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan pariwisata DIY.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online