Temui Sultan, Fahri Hamzah Bahas Masa Depan Permukiman di DIY
Fahri Hamzah dan Sri Sultan HB X membahas penataan kota DIY, penyediaan hunian terjangkau, serta pengembangan kawasan permukiman di masa depan.
Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti memberikan penghargaan kepada pemenang di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (20/7/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA— Karya Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta karya Marcelo Diaz Octavianus terpilih sebagai Juara I Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026. Karya tersebut dinilai unggul setelah melalui proses seleksi berlapis, penilaian dewan juri, dan memperoleh persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Dewan Juri Kehormatan.
Pengumuman pemenang disampaikan dalam penjurian tahap final Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY yang berlangsung di Ruang Gadri Kompleks Kepatihan Jogja, Senin (20/7/2026).
Sayembara yang digelar Pemerintah Daerah (Pemda) DIY melalui Biro Tata Pemerintahan Setda DIY ini bertujuan menghadirkan penanda perbatasan yang tidak sekadar menjadi gerbang wilayah, tetapi juga merepresentasikan identitas, filosofi, dan nilai Keistimewaan DIY.
Pemda DIY Ingin Penanda Perbatasan Sarat Makna Budaya
Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menilai tingginya minat peserta dari berbagai daerah di Indonesia menjadi bukti besarnya perhatian publik terhadap upaya membangun identitas ruang DIY.
Menurutnya, antusiasme tersebut sejalan dengan visi Pemda DIY untuk memperkuat karakter daerah melalui ruang publik yang mengandung nilai budaya.
"Sesuai pesan Bapak Gubernur, ini bukan cuma soal batas fisik. Ada pesan budaya di dalamnya," tutur Ni Made.
Ia menegaskan hasil sayembara harus berlanjut hingga tahap pembangunan sehingga karya terbaik tidak berhenti sebatas konsep.
"Harapannya jelas. Ini tidak boleh berhenti jadi draf desain yang menumpuk. Harus benar-benar berlanjut ke tahap realisasi pembangunan," tegasnya.
Inspirasi Cahaya Matahari di Rongkop Antar Marcelo Diaz Menjadi Juara
Marcelo Diaz Octavianus mengungkapkan ide desain pemenangnya lahir ketika melakukan survei di kawasan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Warga Wonosari itu mengaku sempat mengalami kebuntuan sebelum menemukan inspirasi dari bentang alam di lokasi.
"Cahaya Pradipta merupakan cahaya yang menerangi. Saat survei di lokasi, saya melihat gunung kapur yang terbelah dan di tengahnya terlihat cahaya matahari. Dari situ saya mendapatkan inspirasi bahwa cahaya tersebut seperti menuntun saya menuju sesuatu yang baik, menuju Jogja," ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi rancangan penanda perbatasan dengan simbol cahaya sebagai elemen utama. Baginya, cahaya menjadi metafora keramahan, harapan, dan keterbukaan Jogja bagi setiap orang yang memasuki wilayah DIY.
"Saya ingin identitas Jogja semakin kuat dengan menambahkan unsur-unsur khas Yogyakarta. Di situ ada kehangatan dan budaya yang ingin saya tampilkan agar lebih dikenal masyarakat luas. Jadi ketika orang memasuki Jogja dari perbatasan, mereka langsung merasakan seperti apa Jogja itu sebenarnya," katanya.
Diikuti Sekitar 400 Pendaftar, Tersaring Menjadi Lima Finalis
Ketua Dewan Juri, Ikaputra, menjelaskan proses penjurian berlangsung cukup panjang sejak sayembara diluncurkan pada 17 April 2026.
Sekitar 400 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kompetisi tersebut. Setelah melalui tahapan verifikasi dan seleksi, sebanyak 124 karya dinyatakan memenuhi persyaratan sebelum disaring menjadi 10 besar dan akhirnya menyisakan lima finalis terbaik.
Menurut Ikaputra, karya Cahaya Pradipta menonjol karena menghadirkan karakter visual yang kuat sekaligus masih memiliki ruang pengembangan pada tahap perancangan berikutnya.
"Salah satu kelebihan karya ini adalah kesan pertama yang muncul ketika melihat tetenger tersebut. Bentuknya cukup unik dan tidak biasa. Ini merupakan pradesain yang masih bisa dikembangkan lebih jauh, termasuk eksplorasi ketinggiannya. Namun secara visual, baik pada siang maupun malam hari, karya ini sudah terlihat sangat kuat, unik, dan spektakuler," terang Ikaputra.
Ia menambahkan dewan juri mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari estetika, kelayakan konstruksi, pemilihan material, kesesuaian dengan lingkungan, hingga kemampuan desain merepresentasikan nilai budaya DIY.
Seluruh proses penilaian dilakukan secara cermat hingga menghasilkan keputusan yang disepakati bersama, termasuk oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Dewan Juri Kehormatan.
"Kami memiliki kesatuan pandangan bahwa karya juara pertama memiliki karakter yang sangat ikonik. Ketika pertama kali melihatnya, langsung muncul kesan berbeda. Bentuknya kuat, unik, dan memiliki daya tarik visual yang tetap menonjol baik pada siang maupun malam hari. Potensinya sangat besar untuk menjadi identitas baru kawasan perbatasan DIY," katanya.
Akan Menjadi Referensi Penanda Perbatasan DIY
Sayembara ini difokuskan untuk mencari desain penanda perbatasan di dua koridor strategis wilayah selatan DIY, yakni kawasan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, dan Sindutan, Kabupaten Kulon Progo.
Ke depan, karya terbaik hasil sayembara akan menjadi referensi dalam proses pengembangan dan pembangunan penanda perbatasan di dua lokasi tersebut.
Sementara itu, Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda DIY Nuri Achadiyanti mengatakan dewan juri melalui rapat pleno penjurian tahap akhir telah menetapkan lima karya terbaik.
Daftar pemenang terdiri atas:
Juara I: Peserta SP-022, Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Juara II: Peserta SP-165, Watujaga.
Juara III: Peserta SP-106, Catur Gatra Tunggal: Penanda Perbatasan DIY.
Harapan I: Peserta SP-038, Ngayomi Budaya Kukuh.
Harapan II: Peserta SP-349, Regol Keistimewan Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Fahri Hamzah dan Sri Sultan HB X membahas penataan kota DIY, penyediaan hunian terjangkau, serta pengembangan kawasan permukiman di masa depan.
Polda DIY memeriksa empat saksi dan menyurati BPN dalam penyelidikan dugaan mafia tanah yang menimpa ahli waris Komaridin di Sleman.
PSIM Jogja memastikan mempertahankan empat pemain asing andalan untuk menghadapi Super League 2026/2027. Ze Valente, Pulga Vidal, Yusaku Yamadera, dan Jop van.
Liam Gallagher kembali menegaskan Oasis belum berencana merilis album baru meski popularitas band legendaris Inggris itu sedang meroket setelah tur reuni.
TelkomGroup, Nongsa Digital Park, dan BW Digital Perkuat Gerbang Digital Indonesia melalui Sistem Kabel Laut NCC
Piala Presiden Elite 2026 mempertemukan Persib, Persebaya, Persija, Arema, dan PSMS dengan klub-klub terbaik Asia Tenggara. Simak jadwal lengkap serta pembagian