Cegah Insiden Keracunan MBG Terulang, Pemkab Kulonprogo Evaluasi 10 SPPG
Pemkab Kulonprogo melakukan monev terhadap 10 SPPG dan membekukan empat unit untuk mencegah kejadian fatal MBG kembali terulang.
Aliran irigasi yang menjadi penopang utama PLTMH Kedungrong sebagai alternatif pasokan listrik dari PLN sehingga tidak terdampak pemadaman beberapa hari terakhir ini. Wakil Bupati Kulonprogo, Ambar Purwoko meninjau ruangan mesin PLTMH yang mengolah energi menjadi listrik bagi masyarakat sebanyak sekitar 50 KK, Senin (22/6/2026). Harian Jogja/Khairul Ma'arif
Harianjogja.com, KULONPROGO—Di tengah pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir, warga Padukuhan Kedungrong, Kalurahan Kebonharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulonprogo, tetap dapat menjalankan aktivitas seperti biasa. Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang telah beroperasi sejak 2012 menjadi penopang utama kebutuhan listrik masyarakat setempat.
PLTMH Kedungrong membuat ketergantungan warga terhadap pasokan listrik dari PLN jauh berkurang. Sebagian besar rumah tangga memanfaatkan listrik yang dihasilkan pembangkit tersebut sebagai sumber utama energi, sementara listrik PLN hanya digunakan sebagai cadangan ketika diperlukan.
Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong, Sumberini, menjelaskan bahwa pembangkit listrik tersebut awalnya hanya difungsikan untuk mendukung penerangan jalan. Namun, seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat, kapasitasnya terus meningkat hingga mampu menyuplai listrik ke rumah-rumah warga.
Saat ini, PLTMH Kedungrong melayani sekitar 50 kepala keluarga (KK). Warga hanya dikenai iuran sebesar Rp12.000 setiap 35 hari sekali, termasuk untuk kebutuhan lampu penerangan jalan.
“Dengan adanya penghematan energi yang kematian listrik bergilir beberapa hari terakhir ini kalau di Kedungrong tidak masalah dengan adanya PLTMH ini. Pasokan listrik PLN sampingan untuk PLTMH ini utama yang bisa membackup listrik untuk menyalakan alat-alat elektronik seperti setrika, kulkas, televisi, hingga sound system,” katanya kepada wartawan, Senin (22/6/2026).
Menurut Sumberini, keberadaan PLTMH memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat. Biaya listrik yang harus dikeluarkan warga menjadi lebih hemat karena sebagian besar kebutuhan energi rumah tangga sudah dipenuhi dari pembangkit tersebut.
Ia mengklaim pengeluaran listrik warga tidak sampai Rp100.000 per bulan berkat pemanfaatan PLTMH yang menggunakan sumber energi dari aliran irigasi di sekitar permukiman.
Meski demikian, operasional pembangkit tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah penurunan debit air yang dapat memengaruhi stabilitas pasokan listrik dan membuat lampu menjadi lebih redup. Selain itu, sampah yang terbawa aliran air juga berpotensi menghambat kinerja pembangkit.
“Untuk kendala dikala debit air menurun, nyala lampu tidak stabil bisa agak redup. Di samping itu, air tidak bisa mengalir terus seperti misalnya di pertengahan Juli, termasuk sampah bisa jadi kendala sehingga operator membersihkan tiap harinya,” lanjutnya.
Sumberini menuturkan, ide pembangunan PLTMH muncul karena wilayah Kedungrong yang berada di kawasan perbukitan kerap mengalami pemadaman listrik ketika hujan deras terjadi. Pada masa itu, pohon tumbang yang menimpa jaringan listrik sering menyebabkan pasokan listrik dari PLN terputus dalam waktu cukup lama.
Operator PLTMH Kedungrong, Suparman, menambahkan pembangkit tersebut memiliki kapasitas daya sekitar 18 kWh yang mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di wilayah itu. Menurutnya, berbagai kebutuhan rumah tangga dapat ditopang oleh energi yang dihasilkan PLTMH selama debit air mencukupi.
“Debit air itu harus memenuhi standar, sekalipun airnya kecil bisa tetapi daya listriknya tidak dominan. PLN masih dipakai tetapi tidak dominan, ketika aliran air tersumbat sampah akan ganggu pasokan PLTMH,” ungkapnya.
Keberhasilan pengelolaan PLTMH Kedungrong juga mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Kulonprogo. Wakil Bupati Kulonprogo, Ambar Purwoko, menilai keberadaan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan tersebut sangat relevan, terutama ketika masyarakat menghadapi gangguan pasokan listrik dari jaringan utama.
Menurut Ambar, PLTMH Kedungrong layak dijadikan model pengembangan energi alternatif berbasis masyarakat di wilayah lain di Kulonprogo. Kunjungan yang dilakukan ke lokasi tersebut bertujuan melihat langsung pengelolaan pembangkit sebagai bahan evaluasi dan pengembangan program serupa di daerah lain.
“Saya mengapresiasi adanya PLTMH ini aliran listrik dapat berlangsung dengan baik dan harganya murah hanya Rp12 ribu,” tuturnya. Ambar juga berharap pengelolaan saluran irigasi dapat terus dijaga melalui kolaborasi berbagai pihak agar sampah tidak menghambat aliran air yang menjadi sumber utama operasional PLTMH Kedungrong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Kulonprogo melakukan monev terhadap 10 SPPG dan membekukan empat unit untuk mencegah kejadian fatal MBG kembali terulang.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 26 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 26 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Subsidi BBM dan LPG 3 kg 2027 turun Rp11,4 triliun. DPR menyoroti data penerima subsidi dan tingginya exclusion error pemerintah.
Wapres Gibran meminta pendataan warga terdampak banjir bandang Solok dipercepat untuk penanganan dan penataan permukiman.
Pertumbuhan anak perempuan yang lambat perlu dipantau. Kenali faktor penyebab perawakan pendek dan risiko gangguan kromosom.