Airlangga Sebut Indonesia Tetap Menarik bagi Investor, Ini Alasannya
Airlangga sebut Indonesia tetap jadi tujuan investasi meski konflik global meningkat, didukung stabilitas ekonomi dan kawasan.
Universitas Alma Ata menyampaikan pernyataan sikap terkait LGBT dan mendorong penguatan pendidikan karakter serta ketahanan keluarga. /Istimewa.
Harianjogja.com, BANTUL—Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta menyampaikan pernyataan sikap terkait fenomena LGBT di Indonesia. Melalui deklarasi yang digelar di lingkungan kampus pada Rabu (24/6/2026), sivitas akademika menekankan pentingnya penguatan pendidikan karakter, ketahanan keluarga, dan nilai moral sebagai fondasi pembangunan generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan yang dihadiri jajaran wakil rektor, pimpinan universitas, dosen, serta ratusan perwakilan mahasiswa. Dalam forum itu, kampus menyampaikan pandangannya mengenai berbagai tantangan sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk isu LGBT yang dinilai perlu mendapat perhatian bersama.
Rektor Universitas Alma Ata, Prof. Hamam Hadi, mengatakan pernyataan sikap tersebut merupakan bentuk kontribusi kampus dalam memberikan pandangan akademik dan moral terkait masa depan generasi bangsa. Menurutnya, berbagai persoalan sosial yang berkembang perlu disikapi secara serius agar tidak menimbulkan dampak yang lebih luas, termasuk pada aspek kesehatan masyarakat.
"Yang kita lawan adalah perilaku LGBT, perilakunya, bukan penderita LGBT. Justru para penderita LGBT perlu kita kasih sayangi agar bisa keluar dari jebakan hidup yang sesungguhnya bisa menyesatkan dan mencelatakan mereka sendiri. Jadi saya ulangi, tidak berarti membenarkan ujaran perundungan, penghinaan, kekerasan dan sebagainya terhadap para penderita LGBT," tegas Prof. Hamam Hadi dikutip Rabu.
Dasar Pernyataan Sikap
Ia menjelaskan terdapat sejumlah pertimbangan yang melatarbelakangi pernyataan sikap terkait fenomena LGBT. Salah satunya adalah adanya estimasi peningkatan jumlah penyandang LGBT di Indonesia. Dalam pernyataan yang dibacakan, disebutkan bahwa jumlahnya diperkirakan mencapai 1,5% hingga 3% dari total populasi nasional atau berkisar antara 4,2 juta hingga 8,4 juta orang.
"Selain itu, meningkatnya paparan informasi melalui media sosial dan ruang digital dinilai membuat berbagai kampanye maupun konten terkait LGBT lebih mudah diakses masyarakat, termasuk kelompok usia muda," katanya.
Kampus juga menilai perkembangan teknologi informasi dan keterbukaan ruang digital membuat berbagai konten mengenai LGBT semakin mudah ditemukan oleh masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi melalui penguatan pendidikan karakter dan pendampingan keluarga.
Selain itu, UAA mendasarkan pandangannya pada perspektif keagamaan yang dianut institusi. Menurut sivitas akademika kampus, praktik hubungan sesama jenis tidak sejalan dengan ajaran agama-agama samawi yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia. Di sisi lain, penguatan karakter bangsa dan ketahanan keluarga dipandang menjadi kebutuhan penting di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang berkembang saat ini.
Prof. Hamam menambahkan bahwa dalam perspektif Islam, perilaku seksual sesama jenis dipandang bertentangan dengan ajaran agama. Namun demikian, ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan terhadap perilaku tidak boleh menjadi dasar untuk melakukan intimidasi, kekerasan, penghinaan, maupun tindakan diskriminatif terhadap individu LGBT.
"Pendekatan yang mengedepankan pendampingan, pembinaan, dan sikap kemanusiaan tetap harus dikedepankan dalam menyikapi persoalan tersebut," ujarnya.
Tujuh Poin Pernyataan Sikap
Dalam pernyataan sikap tersebut, Universitas Alma Ata menyampaikan tujuh poin utama. Poin pertama berisi keprihatinan terhadap maraknya praktik dan kampanye normalisasi LGBT yang menurut kampus berpotensi memengaruhi nilai budaya serta ketahanan keluarga di Indonesia.
Pada poin kedua, kampus menyatakan penolakan terhadap berbagai bentuk legalisasi maupun upaya pembenaran perilaku seksual sesama jenis karena dinilai tidak sejalan dengan norma sosial, hukum, dan budaya yang dianut institusi.
Poin ketiga berisi dorongan kepada para pejabat publik di lingkungan eksekutif, legislatif, dan yudikatif agar memberikan keteladanan moral kepada masyarakat melalui perilaku dan sikap yang mencerminkan tanggung jawab sebagai pemimpin.
Selanjutnya, pada poin keempat, UAA menyatakan dukungan terhadap langkah preventif, edukatif, dan regulatif dari pemerintah dalam menjaga moralitas generasi muda. Adapun terkait pembentukan regulasi, kampus menyerahkan proses perumusannya kepada pemerintah dan DPR sesuai mekanisme konstitusional yang berlaku.
Poin kelima mengajak orang tua, guru, dan tokoh agama untuk memperkuat pendidikan karakter serta nilai spiritual anak sebagai upaya pencegahan terhadap berbagai persoalan sosial. Pada poin keenam, kampus menegaskan bahwa penolakan terhadap LGBT tidak boleh disertai tindakan perundungan, penghinaan, kekerasan, maupun diskriminasi yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan hukum.
Sementara itu, poin ketujuh menegaskan komitmen Universitas Alma Ata sebagai perguruan tinggi berbasis Islam untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai akhlak dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi guna mendukung pembangunan masyarakat yang religius dan bermartabat.
Bersamaan dengan itu, kampus juga mendorong kolaborasi antara keluarga, lembaga pendidikan, tokoh agama, dan pemerintah dalam memperkuat pendidikan karakter generasi muda di tengah perkembangan era digital yang semakin dinamis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Airlangga sebut Indonesia tetap jadi tujuan investasi meski konflik global meningkat, didukung stabilitas ekonomi dan kawasan.
Penerapan parkir QRIS di Bantul belum direalisasikan. Dishub masih mematangkan aplikasi, koordinasi dengan BPD DIY, dan kesiapan juru parkir.
Menonton film dan serial digital menjadi cara siswa SMAN 1 Sleman mengurangi stres setelah ujian sekaligus memulihkan energi dari aktivitas belajar.
HIPMI DIY meminta evaluasi Program Makan Bergizi Gratis tidak merugikan UMKM mitra yang telah berinvestasi besar untuk mendukung program pemerintah.
Psikolog menjelaskan kebutuhan akan kontrol, hilangnya empati, dan kemarahan terpendam dapat menjadi faktor pemicu tindakan penyekapan dan penyiksaan.
Penanganan kawasan kumuh Sleman menghadapi kendala anggaran dan status lahan, namun target penataan permukiman terus ditingkatkan hingga 2029.