Kasus Malaria Sleman 2026 Setara Total Kasus Sepanjang 2024

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Selasa, 30 Juni 2026 18:37 WIB
Kasus Malaria Sleman 2026 Setara Total Kasus Sepanjang 2024

Kasus malaria. Freepik


Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus malaria impor di Kabupaten Sleman kembali menunjukkan tren peningkatan yang perlu diwaspadai. Hingga 30 Juni 2026, Dinas Kesehatan mencatat 39 kasus, jumlah yang sama dengan total kasus sepanjang 2024, meski wilayah tersebut telah menyandang status eliminasi malaria sejak 2014.

Data Dinas Kesehatan Sleman menunjukkan pola fluktuatif dalam lima tahun terakhir. Pada 2021 tercatat lima kasus, meningkat menjadi 16 kasus pada 2022, lalu melonjak ke 34 kasus pada 2023. Tahun 2024 mencapai 39 kasus, kemudian menurun menjadi 26 kasus pada 2025, sebelum kembali naik menjadi 39 kasus hingga pertengahan 2026.

Sebaran kasus pada 2026 paling banyak terjadi di Kapanewon Depok dengan 20 kasus, lebih dari separuh total kasus. Disusul Kalasan dengan empat kasus, Gamping tiga kasus, Ngemplak tiga kasus, Pakem dua kasus, Minggir dua kasus, Godean dua kasus, serta Berbah, Mlati, dan Ngaglik masing-masing satu kasus.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati, menegaskan seluruh kasus yang ditemukan merupakan kasus impor, bukan penularan lokal di wilayah Sleman.

“Penderita tertular saat berada di daerah endemis malaria di luar Sleman,” katanya, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan, kelompok yang paling sering terpapar adalah warga dengan mobilitas tinggi seperti mahasiswa, pekerja tambang, personel TNI/Polri, hingga peserta KKN yang baru kembali dari wilayah endemis malaria.

Meski jumlah kasus meningkat, pemerintah daerah memastikan status eliminasi malaria di Sleman masih aman karena belum ditemukan penularan lokal. Upaya pengendalian dilakukan melalui surveilans migrasi, penyelidikan epidemiologi setiap kasus, pemetaan wilayah reseptif, hingga penguatan surveilans vektor.

Dari sisi lingkungan, keberadaan nyamuk Malaria dengan vektor Anopheles mosquito tetap menjadi perhatian, terutama pada musim kemarau yang dapat mempercepat perkembangbiakan di genangan air. Meski demikian, Dinas Kesehatan menyebut risiko penularan lokal masih rendah karena nyamuk di Sleman belum membawa parasit malaria.

Perubahan tata guna lahan dari pertanian ke permukiman juga disebut berpotensi memperbesar interaksi manusia dengan vektor, meski secara alami nyamuk Anopheles lebih sering mengisap darah hewan ternak dibanding manusia.

Sementara itu, ketersediaan obat malaria dipastikan aman dan tersedia di Pengelolaan Obat dan Alat Kesehatan (POAK) serta sejumlah rumah sakit rujukan seperti RSUD Sleman, RSA UGM, dan RSUP Dr. Sardjito.

Kepala Puskesmas Depok III, Erna Sofiana, menambahkan bahwa mobilitas penduduk di wilayah seperti Caturtunggal menjadi faktor penting dalam potensi masuknya kasus impor. Pendatang dari daerah endemis berisiko membawa parasit Plasmodium yang dapat menginfeksi nyamuk lokal jika terjadi gigitan.

“Caturtunggal merupakan wilayah dengan mobilitas penduduk yang tinggi,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online