Gejala Awal Ebola Varian Bundibugyo, Jangan Terkecoh Mirip Flu Biasa

Sunartono
Sunartono Minggu, 05 Juli 2026 12:17 WIB
Gejala Awal Ebola Varian Bundibugyo, Jangan Terkecoh Mirip Flu Biasa

Foto ilustrasi ebola dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, BANTUL—Dunia kembali meningkatkan kewaspadaan menyusul merebaknya kasus Ebola varian Bundibugyo di Uganda dan Republik Demokratik Kongo. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah tersebut sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC).

Hingga 2 Juli 2026, jumlah kasus terkonfirmasi dilaporkan telah melampaui 1.460 dengan ratusan korban meninggal dunia. Kekhawatiran global juga meningkat setelah muncul kasus impor di sejumlah negara Eropa.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Farindira Vesti Rahmasari, M.Sc., Ph.D., mengatakan masyarakat perlu mengenali gejala awal Ebola karena pada fase awal penyakit ini sering menyerupai flu biasa.

"WHO menyebut Ebola sebagai penyakit yang berat dan sering kali berakibat fatal. Tingkat kematiannya rata-rata sekitar 50 persen, meskipun pada berbagai wabah sebelumnya dapat berkisar antara 25 hingga 90 persen. Karena itu, penyakit ini perlu dikenali sejak dini agar penanganannya dapat dilakukan secepat mungkin," ujarnya, Sabtu (4/7/2026).

Farindira menjelaskan Ebola disebabkan oleh virus dari genus Orthoebolavirus. Virus tersebut dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi sehingga selalu menjadi perhatian serius dalam setiap kemunculan wabahnya.

Gejala Awal Mirip Flu

Menurut Farindira, fase awal infeksi Ebola umumnya ditandai dengan demam, tubuh terasa lemas, nyeri otot, sakit kepala, hingga radang tenggorokan. Gejala awal tersebut dikenal sebagai fase kering (dry symptoms).

"Karena gejala awalnya mirip flu, masyarakat sering kali menganggapnya sebagai penyakit biasa. Padahal, setelah itu gejala dapat berkembang menjadi lebih berat, seperti muntah, diare, nyeri perut, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga perdarahan. Perdarahan memang tidak selalu muncul, tetapi umumnya terjadi pada fase penyakit yang sudah lebih lanjut," jelasnya.

Ia menambahkan masa inkubasi Ebola berkisar antara dua hingga 21 hari, dengan gejala paling sering muncul pada hari kedelapan sampai kesepuluh setelah paparan.

Menurutnya, seseorang yang belum menunjukkan gejala belum dapat menularkan virus. Namun, risiko penularan meningkat ketika gejala mulai muncul sehingga deteksi dini menjadi sangat penting.

Kelompok Berisiko Tinggi

Farindira menyebut sejumlah kelompok memiliki risiko lebih tinggi terpapar Ebola, antara lain:

Tenaga kesehatan yang menangani pasien.
Anggota keluarga yang merawat penderita.
Petugas laboratorium.
Petugas pemulasaraan jenazah.
Pelaku perjalanan dari wilayah terdampak.
Orang yang melakukan kontak dengan satwa liar berisiko seperti kelelawar buah dan primata di daerah endemis.

"Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain tenaga kesehatan, anggota keluarga yang merawat pasien, petugas laboratorium, petugas pemulasaraan jenazah, hingga pelaku perjalanan dari wilayah terdampak. Orang yang melakukan kontak dengan satwa liar berisiko, seperti kelelawar buah atau primata di daerah endemis, juga perlu meningkatkan kewaspadaan," ungkapnya.

Langkah Pencegahan

Farindira mengimbau masyarakat menghindari kontak langsung dengan darah maupun cairan tubuh pasien Ebola, tidak menyentuh benda yang terkontaminasi, serta tidak menangani jenazah korban tanpa prosedur perlindungan yang sesuai.

Di fasilitas kesehatan, pencegahan dilakukan melalui penggunaan alat pelindung diri (APD), ruang isolasi sesuai standar, deteksi dini kasus, prosedur rujukan yang tepat, hingga pengelolaan spesimen secara aman.

"Penggunaan alat pelindung diri, ruang isolasi yang sesuai standar, penemuan kasus secara cepat, prosedur rujukan yang tepat, hingga pengelolaan spesimen harus dilakukan sesuai standar. Upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala setelah melakukan perjalanan dari wilayah yang terdampak," tuturnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar selalu menyampaikan riwayat perjalanan kepada tenaga kesehatan apabila mengalami gejala setelah kembali dari daerah yang tengah mengalami wabah Ebola.

"Riwayat perjalanan merupakan informasi penting bagi tenaga kesehatan dalam menentukan langkah diagnosis dan penanganan. Karena itu, masyarakat perlu bersikap terbuka agar potensi penularan dapat segera dikendalikan," pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online