Gunungkidul Bidik Pengurangan Sampah Organik hingga 40 Persen

Yosef Leon
Yosef Leon Senin, 10 Agustus 2026 18:47 WIB
Gunungkidul Bidik Pengurangan Sampah Organik hingga 40 Persen

Foto ilustrasi pemilahan sampah, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menargetkan produksi sampah organik di wilayahnya berkurang hingga 40% tahun ini. Target tersebut dikejar melalui sejumlah program pengolahan sampah yang mendorong masyarakat, termasuk rumah tangga, mengolah sampah secara mandiri.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengembangan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Gunungkidul, Eko Suharso Prihantoro, mengatakan produksi sampah organik dan anorganik di Gunungkidul masih cukup besar setiap hari.

"Kalau total sampah organik-anorganik yang masuk TPA itu 50 ton. Kalau dihitung per orang di Gunungkidul itu 0,4 kg, jadi ada sekitar 285 ton per hari," jelasnya, Senin (10/8/2026).

Menurut Eko, jumlah produksi sampah tersebut berpotensi meningkat ketika memasuki musim liburan maupun pada tahun-tahun mendatang.

Tidak Semua Sampah Berakhir di TPA

Eko menjelaskan tidak seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat Gunungkidul berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Di sejumlah wilayah pedesaan, masih terdapat masyarakat yang membuang sampah di lingkungan rumah masing-masing.

Persoalannya, sampah tersebut belum seluruhnya diolah secara optimal. Sebagian masih dibuang begitu saja meski memiliki potensi ekonomi dan manfaat lain apabila dikelola dengan baik.

"Padahal ada potensi ekonomi dan manfaat lainnya yang bisa dihasilkan dari sampah organik jika diolah dengan baik," ujarnya.

Karena itu, DLH Gunungkidul mendorong pengolahan sampah dimulai dari lingkungan rumah. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi jumlah sampah yang harus ditangani di TPA.

Masgun Maos Dorong Pengolahan Sampah dari Rumah

Pemkab Gunungkidul sejak tahun lalu telah menjalankan program Masyarakat Gunungkidul Mandiri Olah Sampah atau "Masgun Maos".

Melalui program tersebut, masyarakat diajak berperan aktif mengolah sampah secara mandiri di lingkungan rumah masing-masing. Salah satu metode yang disarankan adalah membuat jugangan atau lubang bagi warga yang masih memiliki lahan.

"Bentuk pengolahannya kami sarankan untuk membuat jugangan atau lubang pada mereka yang masih punya lahan," ujarnya.

Metode tersebut merupakan cara sederhana dan tradisional dalam mengolah sampah organik. Warga cukup memasukkan sampah organik ke dalam lubang dengan kedalaman satu meter.

Sampah kemudian akan terurai secara alami dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

Sampah Dapur Diolah dengan Galon Bekas

Selain jugangan, DLH Gunungkidul mendorong masyarakat menggunakan metode galon tumpuk.

"Yang kedua membuat galon tumpuk, ini juga sangat mudah hanya dengan memanfaatkan galon bekas air mineral," ucapnya.

Metode galon tumpuk menggunakan galon bekas air mineral yang disusun secara bertingkat. Sampah organik dari dapur, seperti sisa sayuran, kulit buah, dan sisa makanan, dimasukkan ke galon bagian atas.

Dengan bantuan mikroorganisme pengurai, sampah tersebut akan mengalami proses dekomposisi hingga menghasilkan cairan lindi dan padatan kompos.

DLH Gunungkidul berharap metode sederhana tersebut dapat memperluas partisipasi masyarakat dalam mengolah sampah dari sumbernya, terutama di tingkat rumah tangga.

Target Pengurangan Sampah Organik 40%

Eko mengatakan pengurangan sampah organik ditargetkan dapat mencapai 40% di seluruh wilayah Gunungkidul. Target tersebut akan didukung sekitar 300 bank sampah yang telah ada.

"Target kami gerakan ini bisa menekan sebanyak 40 persen produksi sampah organik se Gunungkidul dengan bantuan 300 an bank sampah kami optimistis bisa tercapai," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online