195 Stan Ramaikan JCW 2026, Kopi Dibidik Jadi Magnet Wisata Jogja

Sunartono
Sunartono Jum'at, 28 Agustus 2026 22:22 WIB
195 Stan Ramaikan JCW 2026, Kopi Dibidik Jadi Magnet Wisata Jogja

Jogja Coffee Week #6 menghadirkan 195 booth dan peserta internasional. Pemda DIY mendorong kopi menjadi daya tarik wisata dan ekonomi Jogja. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA— Ekosistem kopi di Jogja dinilai memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata baru sekaligus mendorong peningkatan lama tinggal wisatawan. Potensi tersebut mengemuka dalam gelaran Jogja Coffee Week (JCW) #6 yang menghadirkan 195 booth dari berbagai sektor industri kopi, termasuk 13 brand asal Jepang dan perwakilan Asean Coffee Federation (ACF).

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ellya Shari, mengatakan budaya minum kopi dan pertumbuhan kedai kopi di Jogja dapat menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda bagi wisatawan.

Menurut dia, pengalaman tersebut juga berpotensi mendorong wisatawan untuk membagikan aktivitas mereka melalui media sosial. Promosi yang dilakukan wisatawan secara tidak langsung dapat memperkenalkan ekosistem kopi Jogja kepada calon wisatawan lainnya.

"Mereka biasanya sharing tentang eksistensi mereka melalui Instagram, sehingga nanti akan menarik para wisatawan yang lain untuk datang ke Jogja, hanya untuk mencoba kopi yang ada di Jogja. Dan kopi sendiri memiliki kekuatan untuk menghadirkan pengalaman tersebut," ujar Ellya, Jumat (28/8/2026).

Kopi Dikaitkan dengan Lama Tinggal Wisatawan

Ellya menjelaskan DIY memiliki sejumlah modal untuk memperkuat sektor pariwisata, mulai dari keragaman destinasi wisata dan kekayaan budaya hingga komunitas kreatif anak muda serta produk ekonomi kreatif.

Selain itu, berbagai gelaran harian maupun tahunan juga telah terangkum dalam kalender pariwisata DIY. Menurutnya, rangkaian potensi tersebut dapat diperkuat melalui agenda yang mampu menghubungkan sektor pariwisata dengan industri kreatif, termasuk kopi.

Karena itu, penyelenggaraan Jogja Coffee Week secara rutin diharapkan tidak berhenti sebagai agenda bagi komunitas dan pencinta kopi. JCW juga didorong menjadi bagian dari ekosistem pariwisata DIY yang memberikan dampak ekonomi.

"Kami berharap Jogja Coffee Week ke-6 ini tidak hanya menjadi event bagi para pecinta kopi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pariwisata DIY yang mampu menciptakan daya tarik, lama tinggal (length of stay), dan peningkatan transaksi wisatawan," tegasnya.

Untuk membangun ekosistem tersebut, Ellya menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, hingga masyarakat luas dinilai memiliki peran dalam memperkuat daya tarik pariwisata berbasis kopi.

"Yogyakarta bukan hanya destinasi budaya dan sejarah, tetapi juga memiliki ekosistem kopi yang kreatif, dinamis, dan berdaya saing. Kami mengucapkan selamat atas penyelenggaraan Jogja Coffee Week ke-6, semoga kegiatan ini semakin sukses," pungkasnya.

195 Booth dan Partisipasi Internasional

Founder JCW Rahadi Saptata Abra menyatakan JCW #6 menghadirkan 195 booth dari berbagai sektor kopi. Partisipasi tersebut tidak hanya berasal dari pelaku usaha domestik, tetapi juga melibatkan partisipan internasional.

Sebanyak 13 brand asal Jepang serta Asean Coffee Federation (ACF) turut ambil bagian dalam gelaran tersebut. Kehadiran ACF di Jogja juga memperkuat posisi JCW sebagai ruang pertemuan bagi pelaku industri kopi dari berbagai negara.

"Kehadiran ACF tidak hanya untuk meramaikan pameran. Organisasi tersebut juga memanfaatkan kunjungannya ke Jogja untuk menggelar Board of Director (BOD) Meeting dan mengikuti Indonesia Coffee Business Summit [ICBS] 2026," ujarnya..

ACF juga merancang kolaborasi kompetisi kopi untuk gelaran JCW #7 pada 2027. Agenda tersebut menunjukkan rangkaian JCW mulai membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di tingkat industri kopi. Banyaknya peserta menunjukkan kuatnya daya tarik industri kopi sebagai ruang kolaborasi yang inklusif.

"Tema JCW #6 kali ini menghadirkan potensi dan keragaman industri kopi dengan mengusung semangat kebersamaan, keterbukaan, dan keberagaman. Banyaknya peserta yang berpartisipasi membuktikan bahwa kopi mampu menjadi medium pemersatu berbagai kalangan tanpa batas latar belakang, usia, maupun profesi," ungkapnya.

Kompetisi hingga Pertunjukan Seni

Rangkaian JCW #6 juga diisi berbagai agenda kompetisi kopi. Para peracik kopi akan berkompetisi dalam JAWARA Coffee Competition yang mencakup kategori Brewers, Cup Taster, Latte Art, Mixology, hingga Green Bean Competition.

Untuk kategori Green Bean Competition, peserta memperebutkan Piala Raja Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk Best of Liberica, Best of Arabica, dan Best of Robusta.

Para roaster juga mendapatkan ruang kompetisi melalui Fun Roasting Coffee Competition (FRCC) by Tan N Black. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jaringan di industri kopi.

Rencananya pembukaan akan dihadiri sejumlah tokoh penting, yakni Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Menteri PPN/Kepala Bappenas Profesor Rachmat Pambudy, serta Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Novyan Bakrie.

JCW #6 juga tidak hanya berisi pameran dan kompetisi. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan wayang kulit dengan lakon Inclusive Vibes, pemutaran film berbasis AI, empat sesi Coffeeverse Talkshow, serta penampilan musisi Panji Sakti, Jumat Gombrong (Jumbrong), dan Diskoplo. Seluruh rangkaian aktivitas peserta dan pengunjung turut didukung BTN sebagai Bank Official melalui berbagai program serta aktivasi bisnis.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online