Edukasi Etika Digital UAD Tingkatkan Pemahaman Warga di Gunungkidul

Newswire
Newswire Senin, 14 September 2026 23:37 WIB
Edukasi Etika Digital UAD Tingkatkan Pemahaman Warga di Gunungkidul

UAD mengedukasi 93 warga Gunungkidul tentang etika digital. Nilai tes meningkat dari 49,2 persen menjadi 79,5 persen. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 93 warga di tiga padukuhan di Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, mengikuti edukasi etika digital yang melibatkan 26 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai fasilitator.

Kegiatan yang berlangsung pada 11 sampai 26 Agustus 2026 tersebut digelar di Padukuhan Gandu, Batur Turu, dan Soka, Kalurahan Mertelu. Program ini menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dipimpin dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman warga setelah mengikuti edukasi. Rata-rata jawaban benar peserta naik dari 49,2 persen pada tes awal menjadi 79,5 persen pada tes akhir. Peningkatan tersebut terlihat di ketiga padukuhan serta pada peserta dari kelompok usia dan gender yang berbeda.

Mahasiswa Jadi Fasilitator Edukasi Digital

Program tersebut dipimpin Rendra Widyatama, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK) UAD. Rendra didampingi Dedi Pramono, dosen Program Studi Sastra Indonesia FSBK UAD, yang menjadi anggota tim PKM.

Menurut Rendra, mahasiswa sengaja dilibatkan agar edukasi dapat menjangkau lebih banyak warga. Pelibatan mahasiswa juga membantu tim mengidentifikasi warga yang paling membutuhkan edukasi literasi digital, khususnya terkait etika dalam menggunakan ruang digital.

“Setiap warga menghadapi persoalan digital yang berbeda. Karena itu, mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi. Mereka juga menyesuaikan bahasa, contoh, waktu, dan cara pendampingan dengan situasi warga yang ditemui,” kata Rendra dikutip Senin (14/9/2026).

Sebelum turun langsung ke masyarakat, para mahasiswa mendapatkan pembekalan. Materi pembekalan mencakup etika digital, teknik menggunakan bahasa sederhana, serta cara mengenali kebutuhan kelompok sasaran.

Edukasi Menyesuaikan Kondisi Warga

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mendatangi warga melalui kelompok kecil, pertemuan pemuda, kegiatan masyarakat, hingga pendampingan secara personal.

Pola tersebut memungkinkan edukasi menjangkau warga yang sulit mengikuti pelatihan dalam kelompok besar dengan jadwal yang telah ditentukan.

"Metode penyampaian juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing padukuhan. Di Gandu, mahasiswa lebih banyak menggunakan percakapan dalam kelompok kecil dan pendampingan personal".

Sementara di Batur Turu, kegiatan memanfaatkan pertemuan Karang Taruna serta sesi terpisah bersama warga dewasa. Adapun di Soka, mahasiswa mendampingi peserta dari berbagai kelompok usia dalam pertemuan yang lebih besar.

Meski metode penyampaian berbeda, seluruh warga tetap mendapatkan materi inti yang sama. Tim menggunakan panduan JEDA-CEK-RESPON untuk membantu warga lebih berhati-hati ketika beraktivitas di ruang digital.

Melalui panduan tersebut, warga diajak berhenti sejenak sebelum bereaksi, memeriksa kebenaran informasi, kemudian memberikan respons secara bertanggung jawab.

Bahas Pesan Berantai hingga OTP

Materi edukasi disusun berdasarkan persoalan digital yang kerap ditemui warga dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa di antaranya pesan berantai, berita yang belum terverifikasi, tautan hadiah palsu, permintaan kode OTP, penyebaran dokumen identitas, serta pengunggahan foto orang lain tanpa izin.

Warga juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesantunan ketika berkomunikasi di ruang digital.

Setelah program selesai, sebanyak 64,5 persen peserta melaporkan telah menggunakan langkah JEDA-CEK-RESPON sedikitnya empat kali.

Sementara itu, jumlah peserta yang mengaku belum pernah menerapkan langkah tersebut turun dari 24,7 persen menjadi 6,5 persen.

Dukungan Tokoh Masyarakat

Pelaksanaan kegiatan turut mendapat dukungan kepala padukuhan dan pengurus Karang Taruna. Mereka membantu menyediakan tempat, mengajak warga mengikuti kegiatan, serta turut hadir dalam proses edukasi.

Dukungan tokoh setempat membantu mahasiswa menyesuaikan materi dan metode edukasi dengan aktivitas masyarakat di masing-masing wilayah.

Menurut Rendra, pola pendampingan tersebut memberikan manfaat bagi warga sekaligus mahasiswa. Warga mendapatkan pengetahuan yang berkaitan dengan persoalan digital sehari-hari, sedangkan mahasiswa belajar mengenali karakter peserta dan menyampaikan pesan kepada kelompok usia yang berbeda.

Penggunaan AI Jadi Materi yang Perlu Diperkuat

Meski menunjukkan peningkatan pemahaman, tim masih menemukan materi yang perlu diperkuat, terutama terkait penggunaan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab.

Topik tersebut sebenarnya telah dimasukkan dalam materi edukasi. Namun, pembahasan mengenai kecerdasan artifisial belum banyak muncul dalam catatan mahasiswa.

Karena itu, tim berencana menyiapkan contoh yang lebih dekat dengan pengalaman warga untuk kegiatan berikutnya.

Tim juga memberikan catatan mengenai keterbatasan evaluasi program. Evaluasi dilakukan menggunakan tes awal dan tes akhir pada kelompok warga yang sama tanpa kelompok pembanding.

Dengan metode tersebut, hasil evaluasi menunjukkan perubahan selama program berlangsung, tetapi belum dapat membuktikan dampak jangka panjang dari edukasi.

Tim mendorong evaluasi lanjutan untuk mengetahui apakah pengetahuan dan kebiasaan warga dalam menerapkan etika digital tetap bertahan setelah program selesai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online