Dispar Kulonprogo Pertemukan 30 Pengelola Wisata dengan Buyer Jateng-DIY

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Jum'at, 18 September 2026 19:07 WIB
Dispar Kulonprogo Pertemukan 30 Pengelola Wisata dengan Buyer Jateng-DIY

Dispar Kulonprogo pertemukan buyer dengan para pelaku wisata yang diharapkan dapat tertarik mengunjungi destinasi dan desa wisata, Jumat (18/9/2026)/Harian Jogja-Khairul Ma\'arif

Harianjogja.com, KULONPROGO— Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kulonprogo mempertemukan 30 pengelola desa wisata dan pelaku wisata dengan 30 agen perjalanan serta biro perjalanan atau buyer dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari ajang Lomba Gelar Potensi Desa Wisata (LGP DW) yang digelar Dispar Kulonprogo untuk mendongkrak sektor pariwisata daerah. Melalui kegiatan tersebut, pengelola wisata mendapat kesempatan memasarkan paket wisata unggulan secara langsung kepada dunia usaha.

Kepala Dispar Kulonprogo, Sutarman, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai wadah komunikasi antara pengelola desa wisata dengan para buyer.

"Kita mempertemukan mereka dengan harapan ada komunikasi langsung antara pengelola desa wisata dan tempat wisata khusus di Kulonprogo dengan para buyer. Paket-paket wisata ini diharapkan bisa diakses dunia usaha dan menjadi referensi utama saat memboyong wisatawan ke Kulonprogo," ujarnya kepada wartawan, Jumat (18/9/2026).

Pengelola Wisata Bisa Langsung Negosiasi

Pertemuan bisnis tersebut dikemas melalui sesi table top. Setiap pengelola wisata diberi batasan waktu khusus untuk melakukan negosiasi bisnis atau business matching hingga mencapai transaksi paket wisata di tempat.

Sutarman menilai mekanisme tersebut efektif untuk mempertemukan pelaku wisata dengan pangsa pasar yang memiliki minat berkunjung ke desa wisata.

Menurutnya, kegiatan serupa pada tahun sebelumnya bahkan menghasilkan rombongan wisatawan bagi sejumlah desa wisata. Para pelaku wisata juga dapat melakukan negosiasi harga secara langsung dengan buyer.

"Berdasarkan data tahun lalu kegiatan semacam ini dapat menemukan buyer baru bagi pelaku wisata dan desa wisata. Bisa sampai deal-dealan harga," bebernya.

Tidak hanya dipertemukan dalam forum bisnis, para buyer yang hadir tahun ini juga mendapat kesempatan menjajal langsung sejumlah desa wisata di Kulonprogo.

Buyer Diajak Menginap di Desa Wisata

Sutarman mengatakan para agen perjalanan diberikan kesempatan mencoba pengalaman wisata secara langsung. Bahkan, mereka juga mendapat kesempatan menginap sehingga dapat memperoleh kesan yang diharapkan memicu ketertarikan terhadap paket wisata yang ditawarkan.

"Buyer bisa jajal atau mencoba terlebih dahulu di salah satu Desa Wisata Nglinggo-Widosari, Jatimulyo-Purwosari, dan Desa Wisata Sidorejo-Gulurejo. Seluruh buyer abis kegiatan langsung menjajal menginap di desa wistaa," ungkapnya.

Menurut Sutarman, pengalaman langsung tersebut menjadi bagian penting agar buyer dapat mengetahui potensi dan layanan yang ditawarkan desa wisata sebelum memasarkan paket tersebut kepada wisatawan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penganugerahan atau awarding pada malam hari. Penghargaan diberikan kepada desa wisata yang dinilai memiliki presentasi terbaik serta memenuhi kriteria evaluasi teknis melalui pengisian borang penilaian layanan yang telah dilakukan sebelumnya.

Desa Wisata Dinilai Berdampak Langsung ke Warga

Sutarman menegaskan pengembangan desa wisata menjadi salah satu fokus utama sektor pariwisata Kulonprogo. Alasannya, aktivitas wisata di desa dinilai memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat sekitar.

"Desa wisata menjadi salah satu unggulan Kulonprogo karena dampaknya langsung menyentuh ekonomi masyarakat sekitar, berbeda dengan wisata berbasis retribusi daerah yang masuk ke PAD. Ini murni untuk kesejahteraan warga lokal," jelas Sutarman.

Untuk memperkuat daya tarik wisata, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan pengelola desa wisata. Dispar Kulonprogo juga menggandeng destinasi wisata unggulan serta penyedia jasa rekreasi populer di kawasan Menoreh.

Beberapa di antaranya yakni Menoreh Kopi, Glamping Menoreh, hingga Dolandeso.

Pengelola Desa Wisata Tinalah Sambut Positif

Pengelola Desa Wisata Tinalah, Panggih Widodo, mengatakan kegiatan table top memberikan keuntungan bagi pengelola karena mereka dapat bertemu langsung dengan calon buyer.

Menurutnya, kehadiran agen perjalanan secara langsung juga membuat calon buyer dapat melihat berbagai keunggulan yang dimiliki masing-masing desa wisata.

"Kami mempresentasikan program-program kami, jadi atraksi kami apa saja lantas ditawarkan ke buyer-buyer dan buyer-buyer nanti akan membeli," tegasnya.

Pertemuan tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama antara pengelola desa wisata dan agen perjalanan, sekaligus memperluas pemasaran paket wisata Kulonprogo kepada wisatawan dari Jawa Tengah dan DIY.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online