Jumlah Warga Lansia Kota Jogja 16%, Aktivitas dan Kesehatan Jadi Perhatian

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Jum'at, 25 September 2026 18:27 WIB
Jumlah Warga Lansia Kota Jogja 16%, Aktivitas dan Kesehatan Jadi Perhatian

Foto ilustrasi. /Ist-Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Jumlah warga lanjut usia (lansia) di Kota Jogja mencapai sekitar 16% pada Juli 2026. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan ruang aktivitas yang mendorong warga lansia tetap sehat, aktif, dan memiliki kesempatan untuk bersosialisasi.

Ketua DPRD Kota Jogja FX Wisnu Sabdono Putro mengatakan kegiatan bersama menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan sekaligus kebahagiaan lansia. Pertemuan rutin melalui paguyuban tidak hanya menjadi agenda berkumpul, tetapi juga dapat menjadi sarana menjaga kesehatan batin melalui interaksi sosial.

“Kegiatan untuk lansia sangat baik untuk menjaga kesehatan batin. Lansia perlu tetap memiliki ruang berkumpul, bersosialisasi, dan merasa bahagia dalam kesehariannya,” kata Wisnu pada Jumat (25/9/2026).

Didorong Tetap Bersosialisasi

Wisnu mengatakan kebahagiaan menjadi salah satu hal yang penting untuk dijaga ketika seseorang memasuki masa tua. Karena itu, para lansia didorong untuk tetap mengikuti berbagai kegiatan bersama keluarga maupun lingkungan di sekitarnya.

Menurut dia, aktivitas bersama dapat memberikan ruang bagi lansia untuk berinteraksi sekaligus menjaga hubungan sosial. Dukungan keluarga dan lingkungan yang guyub juga dinilai berperan dalam menjaga kualitas hidup mereka.

Wisnu turut mengajak warga lansia untuk mensyukuri kehidupan yang dijalani dan tidak membandingkan kondisi mereka dengan orang lain.

Dorongan tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk menjaga kesehatan lansia secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi fisik tetapi juga kesehatan mental dan kehidupan sosial.

Mendekati Proyeksi Nasional 2035

Sebelumnya, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyebut persentase lansia di DIY mencapai 17,83%. Sementara itu, di Kota Jogja terdapat sekitar 16% lansia pada Juli 2026.

Angka tersebut bahkan disebut sudah mendekati proyeksi persentase lansia secara nasional pada 2035.

Hasto menjelaskan konsep lansia berdaya mencakup tiga aspek utama, yakni kesehatan, partisipasi, dan keamanan. Ketiga aspek tersebut diperlukan agar lansia tetap dapat menjalani kehidupan secara aktif dan berkualitas.

“Konsepnya cuma sehat, ada partisipasi kemudian secure atau keamanan. Kesehatan fisik dan mental sehingga penting untuk mencegah penyakit dengan berolahraga, pemeriksaan kesehatan rutin dan lingkungan ramah lansia. Partisipasi itu terlibat aktif dalam kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan spiritual atau kumpul teman-teman. Kemudian secure ya aman fisik, finansial dan sosial,” terang Hasto.

Konsep Active Ageing untuk Lansia

Menurut Hasto, konsep lansia berdaya tersebut mengadopsi konsep Active Ageing dari World Health Organization (WHO).

Konsep tersebut mencakup tiga pilar, yaitu kesehatan, partisipasi, dan keamanan. Ketiganya dinilai saling berkaitan dalam mendukung kualitas hidup lansia.

Dari aspek kesehatan, lansia perlu menjaga kondisi fisik dan mental melalui olahraga, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta dukungan lingkungan yang ramah lansia.

Sementara dari sisi partisipasi, lansia didorong tetap terlibat dalam kegiatan sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual. Adapun aspek keamanan mencakup rasa aman secara fisik, finansial, dan sosial.

Rasio Ketergantungan Capai 17,76%

Tantangan terhadap kualitas hidup lansia juga tergambar dari data Susenas 2024. Berdasarkan data tersebut, rasio ketergantungan lansia mencapai 17,76%.

Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung setidaknya 17 penduduk lansia.

Selain itu, sebanyak 42,81% lansia mengalami keluhan kesehatan selama sebulan. Sementara angka morbiditas lansia tercatat mencapai 20,71%.

Hasto mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian. Sebab, sebagian lansia juga belum memiliki kesiapan finansial untuk menjalani masa tua.

Kondisi finansial yang belum siap berpotensi menambah beban keluarga. Dalam jangka lebih luas, situasi tersebut juga dapat memunculkan fenomena sandwich generation, ketika generasi usia produktif harus menopang kebutuhan orang tua sekaligus kebutuhan generasi di bawahnya.

Karena itu, ruang aktivitas, kesehatan, partisipasi sosial, serta keamanan finansial menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kualitas hidup lansia di Kota Jogja.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online